6 Macam Teknologi Hijau yang Bantu Meminimalisir Resiko Perubahan Iklim
Mobil listrik | Unsplash/Maximalfocus

Menurut laporan The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada Agustus 2021, suhu global kemungkinan besar akan naik 1,5°C di tahun 2040, bahkan pada awal 2030. Melihat urgensi ini, berbagai negara di dunia berusaha memberikan kontribusi nyata untuk meminimalisir emisi gas rumah kaca, seperti salah satunya memakai teknologi hijau. 

Apa itu Teknologi Hijau?

Bangunan hijau | Earth.org

 

Teknologi hijau, merupakan istilah untuk semua jenis dan penggunaan teknologi yang dianggap ramah lingkungan berdasarkan proses produksi atau rantai pasokannya, dengan tujuan mengurangi jejak karbon. Teknologi hijau ini bisa memiliki dampak negatif yang lebih rendah terhadap lingkungan, dibandingkan sumber daya konvensional seperti bahan bakar fosil atau semacamnya. 

Lalu, seperti apa contoh teknologi hijau itu? Bentuknya bervariasi, seperti pabrik penangkap udara langsung berskala besar untuk mengumpulkan karbon dioksida dari atmosfer, penggunaan bahan bakar alternatif untuk kendaraan listrik, sampai hal sederhana seperti dinding pabrik hijau. 

Pelaksanaan teknologi hijau ini kebanyakan memang masih dalam tahap pengembangan. Namun, banyak negara yang sudah mulai menggunakannya demi mencapai tujuan mengatasi perubahan iklim. 

Melansir dari Down to Earth, ini dia tujuh contoh teknologi hijau di berbagai negara di dunia!

  • Vertical Farming (Pertanian Vertikal)

Berbeda dari pertanian secara umum yang menanam secara horizontal, metode ini membuat tanaman ditanam dalam lapisan vertikal bertumpuk. Dengan cara ini, tanaman membutuhkan lebih sedikit atau bahkan tanpa tanah, dan efisiensi air meningkat di saat yang sama. Pertanian vertikal juga bisa menjamin hasil produksi teratur, serta meningkatkan hasil panen dengan bantuan suhu, cahaya, kelembapan, dan teknologi Artificial Intelligence (AI). 

Teknologi hijau ini bisa dibangun di dalam gedung, kota, dan bahkan kontainer barang, lho. Pertanian dalam ruangan terbesar di dunia saat ini sedang dibangun di gurun Abu Dhabi, dengan pemakaian air 95 persen lebih sedikit dibandingkan pertanian konvensional. 

Meski demikian, pertanian vertikal memang relatif baru dan kurang menguntungkan. Pasalnya, biaya pemeliharaan otomatisasi dan proses penyiraman sangat tinggi, serta sebagian besar pertanian vertikal masih terbatas pada sayuran tertentu saja.

  • Carbon Capture (Penangkap Karbon)

Teknologi untuk menangkap dan menyimpan karbon belakangan ini menjadi isu besar, setelah pabrik carbon capture terbesar dibuka di Islandia pada awal September. Pabrik bernama Orca ini diperkirakan menangkap sekitar 4.000 ton karbon dioksida dari atmosfer setiap tahun, lalu disimpan di bawah tanah dan diubah menjadi batu. 

Kok, bisa? Begini prosesnya secara singkat. Pertama, pabrik menggunakan kipas besar untuk menarik sejumlah udara agar melakukan kontak dengan bahan kimia, yang secara selektif bisa menghilangkan karbon dioksida. Lalu, bahan kimia yang kaya karbon ini dipanaskan sampai sekitar 100 °C untuk melepaskan karbon dioksida sebagai gas murni. Carbfix, mitra dari Orca, bertugas mencampur gas CO2 murni dengan air dan memompanya jauh ke dalam batuan basaltik. Baru kemudian zat ini mengkristal menjadi mineral dalam waktu sekitar dua tahun. 

  • Green Buildings (Bangunan Hijau)

Bangunan hijau dirancang agar lebih mandiri, dalam hal jaringan listrik, pembangkit energi, hingga sistem airnya. Seperti yang Kawan tahu, panel surya mulai banyak digunakan sebagai sumber energi rumah tangga. Sama dengan bangunan hijau, menggunakan desain panel surya yang bisa menghasilkan listrik dan panas. Jendela yang terisolasi dan berefisiensi tinggi juga membantu mengurangi panas, sampai pada titik yang bisa menurunkan tagihan energi ke angka nol.

  • Electric Vehicles (Kendaraan Elektrik)

Transportasi elektrik saat ini menjadi salah satu penggunaan teknologi hijau yang paling populer di seluruh dunia. Sebagian besar negara maju telah memasukkan kendaraan listrik sebagai bagian dari rencana dekarbonasi mereka. Sesuai namanya, kendaraan listrik adalah mobil yang memakai tenaga listrik, bukan bahan bakar fosil yang bisa mengurangi emisi gas rumah kaca. 

Baterai lithium-ion, yang menggerakkan kendaraan listrik, memiliki keuntungan besar karena dapat diisi ulang dan memiliki intensitas energi yang tinggi. Namun, perlu dicatat juga bahwa baterai ini memerlukan ekstraksi bahan mentah, terutama litium dan kobalt. Sehingga, pembuatannya tetap harus diperhatikan secara hati-hati karena membutuhkan pekerja, energi, dan air dalam jumlah besar. 

  • Waste-Electricity Generator (Pembangkit Listrik dari Limbah)

Salah satu cara mengurangi masalah sampah global selanjutnya adalah dengan menghasilkan listrik dari limbah dan air limbah. Prosesnya diawali dengan membakar sampah, membiarkan panas menghasilkan uap yang akan menggerakkan turbin listrik, barulah listrik dihasilkan. Namun, metode ini juga memiliki resiko menghasilkan emisi tinggi dan mungkin saja gas beracun dari limbah.

Cara lainnya, bisa dengan menyuling air bersih dari pemanasan lumpur air limbah, lalu sisa biofuel dibakar untuk menjalankan turbin. Proses ini menghasilkan sekitar 200 galon air dari setiap ton lumpur, meskipun masih perlu penelitian lebih lanjut. Saat ini, pembangkit listrik dari limbah masih dalam tahap pengembangan di Distrik Air Santa Margarita Orange County selatan.

  • Plastic Roads (Jalanan Plastik)

Terakhir, salah satu teknologi hijau yang mendapat perhatian dunia adalah penggunaan jalan plastik. Pertama kali ada di India sekitar dua dekade lalu, jalan plastik terbuat dari bahan atau campuran plastik bekas, seperti tas, botol, dan lain-lain. Ternyata, bahan-bahan ini dapat diaspal menjadi jalan raya yang bisa membuat kendaraan berjalan lebih nyaman. 

Hingga kini, India telah memasang lebih dari 60.000 mil jalan plastik di sana. Baru kemudian teknologi ini menarik negara-negara di Barat untuk mengikuti trennya. Penelitian telah menunjukkan bahwa jalan plastik memiliki performa yang lebih baik dibandingkan jalanan biasa. Mereka lebih tahan lama dan kuat terhadap perubahan suhu, kerusakan air, atau lubang. 

Wah, menarik sekali ya beragam inovasi teknologi hijau ini? Semoga, ke depannya Indonesia juga bisa menyusul dengan menggunakan ide-ide menarik lainnya. 

Referensi:

7 Green Tech Examples Helping Mitigate Climate Change | Earth.Org - Past | Present | Future

World’s Largest Direct Air Capture Plant Starts Carbon Capture and Storage (earth.org)

Lithium-ion batteries need to be greener and more ethical (nature.com)

How Paving with Plastic Could Make a Dent in the Global Waste Problem - Yale E360