Ada Apa dengan NFT Ghozali?
NFT © Unsplash/Torsten Asmus

Tahun 2022 ini dibuka dengan hal-hal yang mengejutkan. Bagaimana tidak? Publik dibuat terpukau dengan menyebarnya informasi di media terkait salah seorang warga Indonesia  yang menjual swafoto miliknya dalam bentuk Non-Fungible Token (NFT) di OpenSea dan laku keras. Namanya adalah Ghozali.

Pria yang menggunakan nickname Ghozali Ghozalu di OpenSea ini sudah meraup banyak keuntungan dari penjualan swafotonya selama sehari. Tidak tanggung-tanggung, hingga detik ini Ghozali sudah mendapatkan profit sebanyak 12 milyar lebih. Tentu tidak mengherankan apabila diri dan kegiatannya menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Apa yang spesial dari swafoto miliknya? Banyak orang yang juga masih bertanya-tanya. Ternyata, Ghozali menjual swafoto miliknya yang ia ambil sejak umur 18 pada tahun 2017 sampai umur 22 pada tahun 2021. Swafoto itu diambil setiap harinya dengan posisi, ekspresi, serta lokasi yang sama, yakni berdiri di depan komputer dengan wajah datar. 

Sejalan dengan ceritanya, Ghozali menamakan koleksi swafoto miliknya itu dengan Ghozali Everyday yang artinya Ghozali Setiap Hari. Dengan latar belakang dari pengambilan swafotonya sampai ketika foto tersebut sudah berujung NFT, orang membelinya dengan alasan untuk menjadi koleksi meme.

Pada awalnya, tiap foto di dalam Ghozali Everyday ini dijual dengan harga 46 ribu rupiah, disesuaikan dengan mata uang NFT. Kini, rata-rata penjualan Ghozali Everyday telah mencapai 7.9 juta rupiah per fotonya. Melansir data dari pasar NFT, swafoto di dalam Ghozali Everyday telah menembus 40 besar peringkat volume perdagangan 24 jam OpenSea dengan peningkatan aktivitas 72.000 persen.

Fenomena ini menciptakan pengetahuan serta pertanyaan baru untuk publik. Kebanyakan masih asing dan belum paham mengenai bagaimana NFT dan OpenSea bekerja. Hal yang dilakukan Ghozali menjadi tren dan menjadi acuan bagi orang-orang untuk berdagang di NFT ataupun OpenSea.

Apa itu NFT?

OpenSea © OpenSea
OpenSea © OpenSea

Semenjak Ghozali menjadi viral, banyak orang yang akhirnya mencari tahu dan berkecimpung ke dalam NFT. Dilansir dari jurnal Cornell University, Non-Fungible Token atau NFT adalah standar token Ethereum yang bertujuan untuk membedakan setiap token dengan tanda. Jenis token ini dapat diikat dengan properti virtual ataupun digital sebagai identifikasi uniknya.

Berdasarkan namanya, fungibility adalah kemampuan sebuah aset untuk ditukar dengan aset serupa yang memiliki nilai sama, dikutip dari CNBC. Di samping itu, token adalah aset digital yang bisa mewakili barang, layanan, dan bentuk nilai. Secara fungsi, NFT adalah aset digital yang mewakili barang berharga dengan nilai yang tidak bisa diganti atau ditukar.

Dengan NFT, semua properti yang ditandai dapat diperdagangkan secara bebas dengan nilai yang disesuaikan menurut usia, kelangkaan, likuiditas, dan lain-lain. Pengembalian seribu kali lipat pada pasarnya yang meningkat menarik perhatian besar di seluruh dunia. Namun, pengembangan ekosistem NFT masih dalam tahap awal, dan teknologi NFT belum matang. 

NFT disebut sebagai era baru dalam medium koleksi digital, dimana token ini bisa digunakan sebagai cara baru untuk mendukung para seniman seperti artis, atlet dan musisi tanpa harus melalui perantara pihak ketiga. Namun, popularitas NFT saat ini masih sangat terbatas pada industri seni, hobi dan hiburan.

Untuk itu, dibuatlah medium untuk perdagangan khusus NFT, yang dinamakan OpenSea. Siapapun bisa menjual koleksi digitalnya di sini, dan bisa mendapatkan keuntungannya. Oleh karena itu, kini tidak jarang yang melakukan tindak kejahatan melalui medium ini, seperti menjual foto KTP atau identitas diri orang lain.

Seperti Ghozali yang memanfaatkan OpenSea untuk menjual swafoto miliknya. Tidak hanya itu, Ghozali yang juga merupakan desainer grafis juga memamerkan karya-karyanya di sana. NFT dan OpenSea dimanfaatkan untuk distribusi hasil karya seninya.

Minat dan ketertarikan masyarakat terkait swafoto Ghozali sejalan dengan perdagangan NFT besar-besaran yang menjadi penanda awal tahun 2022. Semakin terbukanya masyarakat dengan teknologi di zaman sekarang ini dapat memberikan dampak yang baik, tetapi bisa juga buruk. Untuk itu, penting sekali bagi kita untuk memahami dan lebih bijak dalam menggunakan teknologi agar tidak merugikan diri sendiri.

Referensi: CNBC | Suara | Cornell University