Aksi Edukasi Perubahan Iklim Sejak Taman Kanak-kanak
Ilustrasi Anak-anak di Alam © Unsplash/Ben McLeod

Penulis: Fishya Elvin

Perubahan iklim menjadi tantangan besar bagi Indonesia dan dunia. Mulai dari perubahan suhu, berubahnya pola curah hujan, kekeringan dan kesulitan air bersih, perubahan cuaca secara ekstrim, sampai kenaikan permukaan air laut, perubahan iklim terjadi akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O).

Seluruh manusia merasakan dampaknya dan tanpa terkecuali turut berkontribusi atas meningkatnya risiko perubahan iklim. Berbagai akibat yang dihasilkan dari perubahan iklim ini cukup bervariasi, dari bencana alam yang berulang ataupun fenomena yang baru terjadi sekali. Tentunya, generasi muda menjadi generasi yang paling terdampak dengan adanya dampak dari perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia sudah turut mengupayakan banyak hal untuk membendung dan meminimalisir dampak dari parahnya perubahan iklim pada saat ini. 

Berbeda dari usaha pemerintah, komunitas lingkungan di seluruh Indonesia juga turut mengupayakan tindakan Go Green secara mandiri, seperti mengimplementasikan 3R, penghematan energi listrik, pengurangan emisi gas karbon dengan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari, penghijauan lahan dengan menanam pohon di lahan terbuka, dan masih banyak lagi.

Namun, apa yang bisa dilakukan generasi muda untuk masa depan bumi yang lebih baik?

Di samping The UN Climate Change Conference (COP26) di Glasgow, Italia, yang gagal dalam menyepakati pendanaan baru untuk kerusakan akibat iklim, Indonesia telah menerapkan edukasi perubahan iklim pada anak-anak usia dini.

Sejumlah sekolah bahkan taman kanak-kanak sudah mengambil langkah untuk terus mendukung mitigasi yang dilakukan pemerintah Indonesia. Pendidikan terkait perubahan iklim menjadi jauh lebih penting karena dapat menjadi investasi untuk di masa yang akan datang. Edukasi perubahan iklim ini sendiri belum ada dalam struktur program pendidikan yang wajib. Padahal, apabila diimplementasikan pendidikan ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti peningkatan sumber literasi kelingkungan, training menjaga iklim untuk manajemen lingkungan yang baik, penelitian, sampai riset publikasi.

Nyatanya, hal ini sudah mulai diimplementasikan oleh beberapa taman kanak-kanak yang tersebar di berbagai daerah. Salah satunya adalah Sekolah Alam Sakila Kerti, yang melaksanakan kegiatan pengumpulan sampah plastik di sekitar lokasi Pantai Alam Indah, Tegal, Jawa Barat pada Jumat (12/11/2021).

Selain itu, pihak Sekolah Alam Sakila Kerti juga mengadakan iuran sekolah yang dilaksanakan setiap hari Jumat dengan sampah plastik yang dikumpulkan oleh murid-muridnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi sampah plastik di daerah itu melalui partisipasi anak-anak, untuk selanjutnya didaur ulang dan mengurangi proses produksi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dapat disebabkan oleh pembuatan dan pemusnahan plastik.

Kegiatan ini dilakukan sebagai sebuah usaha untuk meningkatkan kesadaran akan konservasi alam dan betapa pentingnya menjaga lingkungan sedari dini. Harapannya, dengan pembiasaan aktivitas pengumpulan sampah plastik seperti ini, anak sejak usia belia sudah belajar untuk lebih mencintai alamnya, meski di kemudian hari penggunaan bahan bakar untuk transportasi, suhu tinggi dan mencairnya es di kutub, akan semakin meningkat pula dikarenakan populasi yang juga meningkat drastis.

Dipandang sebelah mata dan terkadang dikumpulkan hanya dengan tujuan memperindah lingkungan, ternyata plastik juga berdampak besar pada perubahan iklim. Proses pembuatan plastik hingga tahap pembuangan dan pengelolaannya dapat mengemisikan banyak gas rumah kaca ke atmosfer yang menimbulkan pemanasan global.

Dikutip dari Knowledge Centre Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, plastik terbuat sekitar 12 juta barel minyak bumi ketika proses produksi. Minyak tersebut dibakar dan mengemisikan gas rumah kaca di atmosfer. Selain itu, ketika plastik bergelimpangan di tempat terbuka dan terpapar sinar matahari, maka plastik akan mengeluarkan gas metana dan etilena yang tidak baik untuk lingkungan.

Kesimpulannya, dengan edukasi seputar iklim seperti yang dilakukan oleh Sekolah Alam Sakila Kerti ini, maka setiap anak mulai belajar dan menyadari mengapa perubahan iklim dapat berdampak ke kehidupan kita sehari-hari, apa saja yang menyebabkan perubahan iklim tersebut, dan bagaimana kita dapat bertindak secara langsung untuk mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan risiko perubahan iklim. Kesadaran adalah hal yang terpenting, karena berawal dari ketidakpedulian manusia, maka perubahan iklim semakin lama akan semakin parah.

 

Referensi: KataDataMenLHK | Bogor Proyek CCFPI | The Jakarta Post