Bukan ABCD, Ini Alasan Keyboard Pakai Sususan QWERTY
Ilustrasi keyboard QWERTY | Foto: Mateusz/Pexels

Papan ketik atau keyboard merupakan bagian penting dari penggunaan gadget. Baik itu di mesin tik, laptop, komputer, atau yang ada di layar smartphone. Bukan dengan susunan ABCD, hurufnya tersusun dengan deretan 6 huruf, yaitu Q, W, E, R, T, dan Y.

Namun, pernahkah terlintas di pikiran Goodmates mengapa urutan huruf di keyboard tidak mengikuti huruf standar alfabet? Untuk menjawab pertanyaan ini, berikut GoodSide beri penjelasan lengkapnya.

Berawal dari Mesin Tik

Ilustrasi Christopher Latham Sholes | Foto: Tumblr.co

Penggunaan keyboard tentunya sejalan dengan penemuan mesin tik oleh pria asal Amerika Serikat bernama Christopher Latham Sholes pada 1868. Pada masa itu keyboard masih dalam bentuk mesin tik yang sangat sederhana dengan memakai tangkai.

Pada mulanya, Sholes membuat susunan huruf di keyboard dengan dua baris berdasarkan abjad ABCD. Seiring waktu, seringkali timbul permasalahan pada tuas mesin tik. Hal ini karena ada banyak kata dari bahasa Inggris menggunakan huruf yang terlalu berdekatan, seperti huruf T dan H di keyboard.

Baca juga: Bikin Produktif! Ini Dia Rekomendasi Paket Keyboard dan Mouse di Bawah Rp300 ribu

Ketika mesin keyboard tertekan dalam waktu yang hampir bersamaan, bagian batang pada mesin tik yang berfungsi sebagai pencetak huruf di kertas jadi saling bertumpuk. Dengan begitu, tidak bisa bergerak saat terpakai.

Susunan QWERTY pada Keyboard

Ilustrasi keyboard | Foto: imgur.com

Salah satu rekan bisnis Sholes bernama James Densmore menyarankan agar memisahkan tuts-tuts yang sering terpakai dalam jarak yang berdekatan. Hal ini bertujuan untuk mempercepat proses pengetikan dan mencegah terjadinya kerusakan pada batang mesin tik.

Cara ini membuahkan hasil, hingga akhirnya pada 1860-an Sholes dan teman-temannya mengajukan hak paten. Hak tersebut menjelaskan tentang susunan keyboard dalam bentuk QWERTY, bisa mengurangi kerusakan pada mesin tik dan membuat proses pengetikan menjadi lebih efisien.

Keputusan Sholes mengenai susunan QWERTY berhubungan dengan teori Biagram Frequency. Teori ini menjelaskan bahwa tuts karakter pada keyboard harus teracak agar sejumlah pasangan dua huruf yang sering ada dalam bahasa Inggris, seperti “th”, “st”, “he” tidak saling berdekatan.

Baca juga: Belajar Kembangkan Hidup dari Filosofi Kaizen ala Orang Jepang

Pada tahun 1872, Sholes memutuskan untuk menjual desain QWERTY dengan mematenkannya ke perusahaan typewriter Densmore atau Yost. Kemudian, perusahaan ini menjual lisensi produk ke perusahaan perakit senjata, mesin jahit, dan mesin tik bernama E. Remington & Sons.

Pada 1973, Remington menuangkan gagasan Sholes lewat sebuah produk mesin tik pertama bernama Remington Nomor Satu. Susunan keyboard QWERTY memiliki paten sebagai input komputer, untuk kemudian resmi sebagai keyboard standar ISO (International Standard Organization).

Susunan Keyboard Selain QWERTY

Pada 1940, seorang pria asal Rusia bernama August Dvorak pernah menemukan standar susunan keyboard DVORAK atau ASK (American Simplified Keyboard). Susunan keyboard ini juga lebih efisien dan sehat karena tidak membuat pengetik kecapekan.

Baca juga: Tingkatkan Daya Ingat dengan Teknik Mnemonik

Namun, karena salah bersaing dengan susunan QWERTY, keyboard DVORAK pun tidak terpakai sebagai standar internasional. Satu-satunya pihak yang mengakui susunan keyboard ini adalah dari ANSI (American National Standard Institute) yang menyetujui susunan DVORAK sebagai versi alternatif pada tahun 1970-an.

Demikian penjelasan singkat mengenai keyboard yang tersusun berdasarkan huruf QWERTY. Apakah sudah menjawab pertanyaan Goodmates tentang keyboard tidak tersusun dengan abjad ABCD?

Referensi:  Tekno Kompas | IDN Times