Cara Kerja Keakuratan Alat Pendeteksi Kebohongan
Alat pendeteksi kebohongan di jari | Foto: Science Photo Library

Bagi Goodmates yang pernah menonton film bergenre action-crime, barangkali pernah melihat penyidik memasangkan suatu alat ke tubuh seseorang untuk mendeteksi apakah orang tersebut berbohong atau tidak. Alat ini tersebut biasanya digunakan oleh Badan Intelijen, kepolisian, dan penegak hukum lainnya.

Menariknya, ada pula instansi atau perusahaan yang menggunakan alat Ini untuk keperluan wawancara. Ingin lebih tau lebih lanjut mengenai cara kerja dan seberapa akurat alat ini bekerja? Berikut penjelasannya.

Mengenal Pendeteksi Kebohongan

Alat pendeteksi kebohongan tahun 1922 | Foto: Getty Images/BBC

Pendeteksi kebohongan atau biasa disebut poligraf merupakan alat yang mengukur dan mencatat perubahan fisiologis tubuh seseorang saat ditanya dan menjawab serangkaian pertanyaan. Dengan alat ini, dapat diketahui apakah orang tersebut berbohong atau jujur.

Alat ini pertama kali ditemukan oleh James Mckenzie pada 1902. Kemudian, pada tahun 1921 alat ini kembangkan lagi oleh Dr. John A Larson atas dorongan dari Departemen Kepolisian Berkeley, California, Amerika Serikat.

Kini, pendeteksi kebohongan sudah dalam versi yang lebih modern dan lebih canggih. Dalam penggunaannya, keakuratan alat ini bergantung pada 3 hal, yaitu keterampilan pemeriksa, fisiologi subjek, dan kondisi penggunaannya.

Cara Kerja Pendeteksi Kebohongan

Ilustrasi cara kerja pendeteksi kebohongan | Foto: Gorodenkoff/Shutterstock

Alat ini didasarkan pada asumsi bahwa jika seseorang berbohong, ia menjadi ketakutan, perubahan emosi, dan perubahan fisiologis. Perubahan fisiologis yang dinilai saat orang berbohong, antara lain frekuensi pernapasan, tekanan darah, dan keringat yang muncul terjadi peningkatan yang tajam.

Pendeteksi kebohongan dilengkapi dengan sensor yang nantinya akan di tempelkan ke beberapa bagian tubuh. Adapun fungsi dan cara kerja sensor tersebut. Sensor pneumograph, mendeteksi detak nafas dengan menempel kabel pada bagian dada dan perut. Sensor ini bekerja ketika ada kontraksi di otot dan udara di dalam tubuh.

Sensor blood pressure cuff, mendeteksi perubahan tekanan darah dan detak jantung. Sensor ini ditempelkan pada bagian lengan yang kemudian akan mendeteksi lewat suara denyut jantung atau aliran darah.

Sensor skin resistance, melihat dan mendeteksi keringat yang ada di tangan. Kabel tersebut ditempel di jari-jari tangan sehingga akan diketahui seberapa banyak keringat yang keluar saat seseorang berbohong atau terpojok.

Setelah tubuh ditempelkan dengan sensor-sensor di atas, selanjutnya penguji akan memberikan beberapa pertanyaan mengenai suatu topik tertentu, isu atau kasus yang ingin diketahui kebenarannya. Pemeriksaan menggunakan alat ini umumnya berlangsung kurang lebih 1.5 hingga 2 jam.

Keakuratan Alat Pendeteksi Kebohongan

Ilustrasi pendeteksi kebohongan | Foto: Vchal/Istockphoto

Menurut peneliti deteksi kebohongan, Prof. Aldert Vrij, akurasinya sudah dipertanyakan sejak pertama kali ditemukan. Faktanya, tidak ada reaksi fisiologis spesifik yang terkait dengan kebohongan sehingga akan sedikit sulit membedakan antara seseorang yang berbohong dengan yang jujur.

Selain itu, mengikuti tes pendeteksi kebohongan saja pada dasarnya bisa meningkatkan rasa stres dan membuat peserta merasa bersalah, meskipun tidak bersalah. Poligraf cukup bagus dalam mengidentifikasi kebohongan, poligraf tidak terlalu bagus dalam mengidentifikasi kebenaran.

Tidak akuratnya alat ini terbukti pada Jeffrey Deskovic yang dijebloskan ke penjara pada 1990 setelah melihat hasil tes poligraf yang mendapatkan dirinya berbohong. Deskovic dikenakan hukuman atas kasus pemerkosaan dan pencekikan teman sekolahnya.

Namun, pada 2006 hasil tes DNA menunjukkan ia tidak bersalah, sementara itu ia sudah dihukum bertahun-tahun. Penggunaan alat pendeteksi ini bisa jadi merugikan buat orang lain seperti kasus Deskovic.

Jika pemeriksa terlatih, tes dilakukan dengan benar, dan ada control kualitas yang tepat, akurasi diperkirakan mencapai 80 hingga 90 persen. Kendati demikian, menggunakan alat pendeteksi kebohongan saja tidak cukup.

Diperlukan alat pendukung lain untuk membantu mendeteksi kebohongan. Peneliti pun mulai memiliki alternatif lain di antaranya menggunakan metode Eyes Tracking Devices, Guilty Knowledge Test.

Referensi: Sehatq | Detik | Kok Bisa | Hellosehat |BBC Indonesia