Bagaimana Menyampaikan Feedback pada Seseorang?
Ilustrasi © Unsplash/Volodymyr Hryshchenko

Pasti banyak di antara kamu yang hendak memberikan masukan atau kritikan kepada rekan kerjamu tetapi kamu takut akan menyakiti hatinya. Alhasil, kamu tidak jadi memberikan masukan atau kritikan tersebut. Padahal setiap orang memerlukan feedback atau umpan balik dari orang lain, agar mereka dapat berkembang lagi.

Kita sebagai individu juga harus mau dan siap untuk menerima segala masukan dari orang lain. Meski menyayat hati, pastinya pesan tersebut juga dapat kita ambil sebagai salah satu pelajaran hidup. Namun, ketakutan akan masukan itulah yang kemudian membuat kita juga akhirnya tidak berani untuk menyampaikan umpan balik pada orang lain.

Memberi umpan balik ternyata bisa memberikan dampak baik maupun dampak buruk. Dampak baiknya, tentu dapat membuat orang lain termotivasi untuk lebih baik lagidan semakin bersemangat menyelesaikan pekerjaannya.

Dampak buruknya terjadi apabila umpan balik tidak efektif. Mulai dari yang terlalu kaku atau cenderung seadanya sehingga menurunkan semangat sasarannya atau bahkan melukai hati dan harga diri mereka.

Penyampaian umpan balik pada seseorang memang harus diperhatikan dan dilakukan dengan hati-hati. Namun, bukan akhirnya kamu malah mengurungkan niatmu untuk memberikan umpan balik pada orang lain.

Berdasarkan survei dari JobStreet.com, terdapat 53% dari total 17,623 koresponden karyawan yang mengaku memiliki atasan dengan gaya kepemimpinan militer, partenalis, dan laissez faire. Paternalis dan laissez faire yang dimaksud di sini adalah tidak pernah memberikan kesempatan pada bawahan untuk mengembangkan daya kreativitasnya.

Membiarkan bawahan bekerja semaunya, jabatan hanya sebagai simbol dan tidak pernah mau tahu. Hal ini berhubungan dengan umpan balik, yang mempengaruhi tingginya turn over karyawan di sebuah perusahaan.

Berkaca dari kasus tersebut, pemberian umpan balik yang tepat dan efisien bukan hanya perkara atasan dan bawahan. Dalam bagian apapun, memberikan koreksi, kritik, masukan, ataupun pujian sangat diperlukan. Oleh karena itu, diperlukan beberapa strategi dalam menjalin komunikasi yang baik dengan rekan kerja kita.

Ubah pola pikir

Ilustrasi © Unsplash/Scyther5
Ilustrasi © Unsplash/Scyther5

Dalam berjejaring dengan orang lain, bekerja, berorganisasi, berkecimpung di kepanitiaan, kita pasti memerlukan umpan balik. Umpan balik tersebut dapat berupa koreksi, kritik, masukan, ataupun pujian. Bangun pola pikir bahwa umpan balik diberikan untuk menjadikan diri kita menjadi lebih baik lagi, bukan untuk menjatuhkan mental.

Umpan balik sebaiknya tidak diberikan atas hal ‘memenuhi target’, seperti halnya rapot yang diberikan tiap setengah tahun sekali. Pahami bahwa umpan balik bisa diberikan setiap kali kamu melihat seseorang memerlukan koreksi, kritik, masukan, ataupun pujian. Posisikan dirimu sebagai pemerhati dan pengawas di sini, sehingga dengan frekuensi tersebut orang yang mendapatkan umpan balik darimu juga akan memahaminya.

Adanya komunikasi dua arah

Sebagai pemberi umpan balik yang hendak memberi, pastikan bahwa komunikasi yang saat itu tengah dilakukan adalah komunikasi dua arah. Tandanya, kita sebagai pemberi umpan balik tidak boleh langsung mencerca dan menghujani orang tersebut dengan kritikan. Berikan waktu untuk mereka menanggapi, dan beri mereka waktu juga untuk mencerna pesan yang kita maksud.

Dilansir Kompas Klasika, kunci dalam memberikan kritik ialah telah memiliki solusinya meskipun tetap meminta orang yang kita kritik untuk mencoba mencari dulu jawabannya dengan mandiri. Solusi tersebut juga dilengkapi dengan petunjuk, agar orang lain bisa memahami apa yang kita maksud dan tercipta komunikasi yang efektif.

Kritikan yang kita berikan juga harus menekankan pada pekerjaan mereka, bukan pribadi mereka sehingga orang tersebut tidak merasa diserang. Jangan lupa bahwa kamu tidak harus menunggu seseorang untuk memberikan umpan balik bagimu.

Kamu juga bisa langsung memintanya kepada orang lain sebagai pemerhati dan pengawas kinerjamu. Hal tersebut tentunya akan mempercepat proses belajarmu di dunia kerja yang sedang kamu geluti saat ini.

Referensi: JobStreet | Kompas | Journal of Palliative Medicine