Bahasa Cinta di Kalangan Anak Muda
Ilustrasi | Foto: Freepik

#FutureSkillsGNFI

Cinta merupakan topik menarik yang selalu ada dan akrab di telinga semua kalangan. Dari anak kecil hingga yang usia senja pun pasti pernah mendengar, bahkan merasakan apa itu cinta.

Segala hal yang berbau cinta seperti lagu, drama, buku, film, puisi, dan lainnya pasti selalu laris, mudah terkenal, serta tidak luput dari banyak pujian. Konten yang berbau asmara pun demikian, sangat diminati oleh masyarakat daripada konten lainnya.

Akan tetapi, apakah seseorang dapat memahami makna cinta yang sebenarnya? Apakah hanya dengan menonton serial drama, lalu memberi validasi bahwa cinta harus begini dan begitu? Apakah mereka mampu mengekspresikan perasaannya sendiri tanpa terpengaruh oleh bacaan atau tontonannya?

Nah, ternyata dalam beberapa waktu terakhir, sering muncul bahasan mengenai bahasa cinta di kalangan anak muda. Bahasa cinta ini dapat membantu para anak muda dalam mendefinisikan dan mengekspresikan cinta kepada orang lain.

Bahasa cinta sendiri lebih dikenal versi Inggris, yakni love language. Konsep ini dikenalkan oleh Dr. Gary Chapman yang berasal dari Amerika, seorang penulis buku Five Love Language.

Love Language | Foto: Listennotes.com

Gary berusaha untuk membedah lebih lanjut tentang prinsip komunikasi dalam suatu hubungan manusia. Dari hal tersebut, Gary mengenalkan konsep bahasa cinta yang dapat diaplikasikan ke berbagai jenis hubungan, misalnya hubungan romantis, keluarga, bahkan hingga pertemanan. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa cinta tidak selalu ditujukan untuk hubungan romantis, melainkan bisa diperuntukkan ke berbagai hubungan lain.

Ketika seseorang telah mengetahui jenis bahasa cinta yang mereka miliki, maka apabila tidak mendapatkan bahasa cinta yang sesuai, mereka akan merasa tidak dicintai.

Dari hal tersebut diketahui bahwa memahami bahasa cinta diri sendiri dan pasangan merupakan hal yang sangat penting. Mengapa? Tentu bertujuan agar hubungan yang sedang dijalani dapat menjadi hubungan sehat yang bertahan lama.

Dr. Gary Chapman membagi bahasa cinta atau love language dalam 5 jenis, di antaranya:

1. Words of Affirmation

Ilustrasi | Foto: Freepik/Master1305

Bahasa cinta ini menunjukkan bahwa kalimat positif yang dilontarkan ternyata membuat seseorang merasa dicintai dan dihargai. Kalimat positif yang dimaksud dapat berupa apresiasi, dukungan, pujian, atau kalimat lain yang mengekspresikan rasa sayang.

2. Quality Time

Bahasa cinta ini didefinisikan sebagai kegiatan menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai. Hal ini lebih berfokus pada kualitas waktu, bukan sekadar kuantitas bersama pasangan. Misalnya, bertemu untuk ngobrol santai tanpa sibuk bermain smartphone masing-masing. Tidak dipungkiri bahwa komunikasi yang berkualitas adalah hal yang penting bagi pemilik bahasa cinta ini.

3. Receiving Gifts

Ilustrasi | Foto: Freepik/Master1305

Bahasa cinta ini menunjukkan bahwa memberi kado tidak harus mahal. Namun, akan lebih spesial apabila seseorang memberikan kado dengan usaha, niat, ikhlas, dan makna dari si pemberi kado. Apabila si pemberi kado hanya berfokus pada brand tertentu, tetapi tidak menunjukkan keikhlasan, maka sang penerima kado pun akan merasa merasa kurang enak saat menerima kado tersebut.

4. Acts of Service

Bahasa cinta ini tidak terlalu mementingkan sebuah ucapan janji dan sebagainya. Justru, lebih menganut prinsip sebuah perlakuan nyata, bukan sekedar sebuah janji. Bentuk bahasa cinta ini dapat berupa perhatian kepada pasangan, misalnya mengantar jemput, membawakan bekal makanan, membantu mengerjakan tugas, dan lain sebagainya.

5. Physical Touch

Bahasa cinta ini bukan merujuk kepada tindakan negatif, ya. Akan tetapi, dapat terwujud dengan memberikan afeksi, seperti menggenggam tangan atau memeluk dengan tulus. Bahasa cinta ini lebih cocok pada hubungan jarak dekat, bukan hubungan jarak jauh karena terkesan kurang relevan pada realitas yang ada.

Nah, itulah 5 jenis bahasa cinta yang saat ini digandrungi oleh anak muda zaman. Hal ini didukung oleh pernyataan bahwa setiap orang pasti memiliki bahasa cinta yang berbeda. Tentunya, tidak bisa disamakan.

Maka dari itu, penting bagi kita agar dapat mengetahui bahasa cinta yang sebenarnya dimiliki diri sendiri dan pasangan. Ketika sudah saling memahami, maka akan tercipta adaptasi dan toleransi kepada pasangan jika ternyata memiliki bahasa cinta yang berbeda sehingga lebih memberikan rasa nyaman dalam hubungan.

 

Referensi: Satu Persen | Qubisa | Tirto