Trending di Twitter, Bahasa Indonesia jadi Sorotan Bahasa Kedua ASEAN
Pengibaran bendera Indonesia | Foto: Pixabay

Perihal pemilihan bahasa kedua ASEAN, bahasa Indonesia mendapat sorotan di Indonesia dan Malaysia. Bahkan, bahasa Indonesia menjadi trending topik di Twitter di kedua negara tersebut. Terhitung hingga 7 April 2022 sudah mencapai 9.528 cuitan mengenai bahasa Indonesia.

Semua bermula ketika Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melakukan siaran pers pada 4 April 2022. Pada siaran tersebut, Nadiem menolak permintaan Perdana Menteri Malaysia Dato' Sri Ismail Sabri Yaakob yang mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi ASEAN.

Melansir retizen, alasan penolakan Nadiem lantaran bahasa Indonesia lebih layak untuk daripada bahasa Melayu. Bukan tanpa sebab, Nadiem menjelaskan bahwa bahasa Indonesia memiliki keunggulan secara historis, hukum, dan linguistik.

Baca juga: Rekomendasi Channel Youtube Edukatif, Cocok Menemani Ngabuburit

Mengutip dari akun resmi Twitter Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa @BadanBahasa, berikut 10 alasan mengapa bahasa Indonesia layak mendapat perjuangan menjadi bahasa kedua ASEAN.

1. Bahasa nasional dan bahasa negara adalah bahasa Indonesia, bahasa melayu adalah bahasa daerah.

2. Bahasa Indonesia sudah berkembang menjadi bahasa ilmu dan teknologi, bahasa Melayu tidak.

3. Jumlah kosakata bahasa Indonesia lebih banyak daripada kosakata bahasa Melayu.

4. Bahasa Indonesia telah siap menjadi bahasa internasional, sesuai dengan amanat UU No. 24 Tahun 2009.

5. Penutur bahasa Indoensia sejumlah 269.000.000 jauh lebih banyak daripada penutur bahasa Melayu, baik di dalam maupun di luar negeri.

6. Adapun 47 negara telah mempelajari Bahasa Indonesia.

7. Terdapat 428 lembaga penyelenggara program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

8. Pemelajar BIPA berjumlah 142.484 orang yang tersebar di kawasan Amerop, Asia Tenggara, dan Aspasaf.

9. Bahasa Indonesia kaya oleh ratusan bahasa daerah yang tersebar di seluruh tanah air.

10. Tingkat keasalingpahaman (mutual intelligibility) bahasa Indonesia lebih tinggi daripada bahasa Melayu.

Baca juga: Hiatus 4 Tahun, BIGBANG Kembali Berkarya dan Pecahkan Rekor

Penjelasan Bahasa Indonesia Lebih Layak

Peta Indonesia | Foto: Liputan6

Sudah menjadi fakta bahwa suatu bahasa harus memiliki peranan penting, seperti halnya peranan bahasa Inggris di dunia internasional. Kemudian, apakah bahasa tersebut mengalami perkembangan sebagaimana sifat bahasa yang dinamis?

Kedudukan bahasa sebagai bahasa nasional berperan penting dalam penyebaran bahasa di dalam dunia pendidikan. Sebab, hal tersebut adalah upaya sebagai bentuk keberlangsungan hidup bahasa Indonesia dalam proses beregenerasi.

Tak hanya itu, hal tersebut juga sebagai upaya pencegahan agar tidak berkurangnya jumlah penutur bahasa Indonesia yang lambat laun bisa menyebabkan krisis identitas. Hal ini dapat terlihat dari laporan penelitian, buku-buku teks, dan bentuk sajian ilmiah lainnya yang ada.

Fakta bahwa bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan membuat kosakata bahasanya lebih banyak. Kemudian, sudah menjadu fakta bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Baca juga: Strategi Ampuh untuk Asah Skill Public Speaking Kamu

Kini, bahasa Indonesia semakin banyak penuturnya bukan hanya di dalam negeri melainkan hingga di luar negeri. Bahkan, di luar negeri bahasa Indonesia menjadi salah satu jurusan di kampus-kampus negara-negara tertentu. Misalnya di Vietnam di University of Social Sciences dan Humanities (USSH) dan Ho Chi Minh City (HCNC).

Melalui program BIPA, Kemendikbud melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa berupaya meningkatkan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. BIPA adalah program pembelajaran keterampilan berbahasa (berbicara, menulis, mendengarkan, dan berbicara) yang di dalamnya terdapat tingkatan-tingkatan tertentu dalam mempelajarinya.

Dari rangkuman di atas, bagaimana menurut Goodmates? Apakah bahasa Indonesia layak menjadi bahasa kedua ASEAN? Jangan lupa tetap, “Utamakan Bahasa Indonesia, Kuasai Bahasa Asing, dan Lestarikan Bahasa Daerah".

Referensi: Detik | Retizen | Pikiran Rakyat