Hati-Hati! Ada Bahaya di Balik Penggunaan Sedotan Besi
Ada bahaya di balik sedotan stainless steel | Foto: Sajian Sedap

Sampah plastik merupakan sumber limbah terbesar. Sebanyak 1,29 juta metrik ton sampah plastik di Indonesia sudah mencemari lautan. Ada banyak produk yang terbuat dari plastik, salah satunya sedotan.

Produk olahan ini menjadi kontroversial karena sumbangannya terhadap pencemaran lingkungan dan lautan. Berdasarkan data dari Divers Clean Action, pengguna sedotan plastik sekali pakai di Indonesia bisa mencapai 93.244.847 pengguna setiap harinya.

Dampaknya yang buruk bagi lingkungan, membuat munculnya sebuah inovasi untuk mengurangi sampah sedotan plastik ini. Sedotan plastik kini terganti dengan sedotan besi atau sedotan stainless steel. Namun, tahukah kamu bahwa ternyata sedotan besi juga memiliki dampak buruk bagi bumi?

Kelebihan Sedotan Stainless Steel

Sedotan plastik | Foto: Pexels

Tentu saja sedotan stainless steel memiliki beberapa kelebihan. Sedotan ini memiliki bahan yang lebih aman daripada sedotan plastik karena terbebas dari Bisphenol A (BPA), bahan kimia dalam proses produksi sedotan plastik. Bahan ini dapat mengkontaminasi makanan dan minuman yang kita konsumsi.

Baca juga: Peran cacing tanah bagi keberlangsungan ekosistem

Sebagai informasi, stainless steel merupakan varian besi yang tahan karat dan dapat menahan korosi dari alam bersifat food grade. Bahan stainless steel juga tentunya mudah kamu bersihkan dan tidak perlu khawatir mengenai ketahanannya.

Boros Energi dan Penghasil Karbon Dioksida Terbesar

Data energi dan emisi karbon | Foto: @clayperon.ugm

Sedotan besi ternyata menghasilkan limbah yang sama berbahayanya dengan sampah plastik. Proses produksi sedotan besi memakan banyak energi dan juga menyumbangkan angka gas karbon dioksida yang cukup besar.

Melansir dari data pada instagram @clayperson.ugm, produksi sedotan besi menghasilkan emisi karbon dioksida terbesar daripada bahan lain. Dalam sebuah penelitian yang oleh HSU Straw Analysis, proses pembuatan sedotan besi membutuhkan 2420 kJ energi dan melepaskan 217 gram emisi karbon dioksida.

Penebangan Pohon dan Pencemaran Sungai

Sungai Citarum | Foto: Antara

Sedotan stainless steel terbuat dari campuran besi, kromium, dan karbon. Adanya unsur kromium dan besi sebagai bahan dari sedotan ini, proses pembuatannya membutuhkan pemurnian dari mineral lain. Hal tersebut melibatkan penebangan pohon dan penggalian tanah. 

Proses ini tentunya sangat merugikan bagi lingkungan. Kurangnya pohon dan tanah yang terus terkeruk akan menyebabkan terjadinya erosi. Selain itu, sedotan stainless steel pastinya juga menghasilkan limbah produksi yang lebih banyak karena adanya proses pembuatan kimia dalam produksinya.

Limbah dari proses produksi ini akan mengalir ke sungai atau danau yang terletak tidak jauh dari pabrik. Nantinya, limbah akan berbahaya bahkan beracun bagi warga yang tinggal di sekitarnya.

Baca juga: Segera Menjadi Warisan Budaya Dunia, Inilah 6 jenis jamu dan filosofinya

Salah satu contoh nyata yang dapat kita lihat adalah pencemaran Sungai Citarum, Jawa Barat. Sungai ini bahkan mendapatkan predikat sebagai sungai paling tercemar di Indonesia karena airnya yang berwarna hitam akibat limbah pabrik.

Langkah Mengatasi Pemakaian Sedotan Besi

Ilustrasi kampanye tanpa sedotan | Foto: Ann Solo

Berbagai upaya telah kita lakukan untuk dapat mengurangi sampah sedotan plastik, termasuk penggunaan sedotan besi. Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa sedotan besi pun ternyata masih menghasilkan dampak yang lebih buruk dari sedotan plastik. Sudah saatnya kita semua mencari alternatif lain, yang tentunya tidak berdampak buruk bagi lingkungan.

Baca juga: Hanya Ada Dua di Dunia, Intip Pesona Api Biru Kawah Ijen

Langkah yang dapat kita lakukan adalah tidak menyediakan sedotan plastik bagi pelanggan restoran atau kafe. Melalui gerakan #NoStrawMovement, beberapa perusahaan multinasional seperti KFC sudah tidak menyediakan sedotan dalam bentuk apapun kepada para pelanggannya.

Alternatif selanjutnya yang dapat kita implementasikan adalah dengan menggunakan sedotan berbahan lain, seperti terbuat dari bambu. Namun, alangkah baiknya jika kita tidak menggunakan sedotan sama sekali.

Referensi: Kompas | National Geographic Indonesia | UHB News