Belajar Menerima Kekurangan Diri Lewat Seni Kintsugi Jepang
ilustrasi seni kintsugi Jepang | Sumber: Motoki Tonn/Unsplash

Sebagai manusia tentu kita jauh dari kata sempurna. Sekuat apapun seseorang mencoba untuk menjadi sosok yang sempurna, setiap orang pasti memiliki kekurangannya masing-masing. Seringkali kita menyembunyikan kekurangan atau kegagalan yang kita punya.

Padahal, pengalaman yang kita dapatkan membantu kita membentuk diri kita yang sekarang. Salah satu kesenian yang dimiliki Jepang ini justru menerima ketidaksempurnaan dan merubahnya menjadi sesuatu yang indah.

Apa yang kamu lakukan saat cangkir kesayanganmu pecah? Atau piring koleksi nenek gak sengaja jatuh? Mungkin kamu akan langsung buru-buru menyapu dan membersihkan potongan-potongan yang pecah. Sedangkan di Jepang, mereka mengenal yang namanya kesenian kintsugi.

Melansir penjelasan oleh One Health Asia, kesenian kintsugi merupakan seni menempelkan pecahan keramik dengan emas. Kesenian ini dasari dengan kepercayaan dengan menerima kesalahan dan ketidaksempurnaan, kita dapat membuat seni yang lebih kuat dan lebih indah.

Setiap pecahan adalah sesuatu yang unik. Metode yang telah berusia 400 tahun ini menekankan “bekas luka” sebagai bagian dari desain. Teknik ini berkaitan dengan konsep Jepang tentang wabi-sabi, yang mendorong orang untuk mengenali keindahan dalam ketidaksempurnaan. Juga berkaitan dengan konsep emosi mottainai, yang menyampaikan kesedihan ketika sesuatu dibuang dan konsep mushin yang menunjukan penerimaan perubahan.

Bagaimana seni Kintsugi dapat digunakan dalam proses penerimaan diri?

ilustrasi seni kintsugi. | Sumber: Riho Kitagawa/Unsplash
ilustrasi seni kintsugi. | Sumber: Riho Kitagawa/Unsplash

Merangkum penjelasan oleh Rituals, berdasarkan buku Kintsugi Wellness yang ditulis oleh Candice Kumai, terdapat lima hal yang dapat kita lakukan untuk menerapkan Kintsugi dalam keseharian.

Pertama, embrace imperfection. Hidup akan selalu berubah dan mungkin tidak akan pernah sempurna, and that’s okay. Justru faktanya kita perlu merangkul ketidaksempurnaan dan menemukan keindahan di dalamnya.

Di Jepang, ide ini juga dikenal sebagai wabi-sabi. Beberapa cara untuk memiliki lebih wabi-sabi dalam kehidupan seperti berlatih memaafkan, berhenti bandingkan diri dengan orang lain, dan tahan diri untuk tidak membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan.

Kedua, jangan sembunyikan bagian kita yang tidak sempurna. Seringkali kita justru menyembunyikan kegagalan atau ketidaksempurnaan yang kita punya karena tidak ingin terlihat lemah.

Namun, seni kintsugi justru mengajarkan kita untuk menghargai bagian tersebut. Ketidaksempurnaan atau kegagalan yang kita alami dapat menjadi pengalaman yang memberikan kita pelajaran terbesar dalam hidup.

Mengutip dari NBC News, konsep ini juga disebut dengan kansha. Tindakan bersyukur atas kebaikan dan keburukan. Kansha berarti melepaskan ego diri dan membingkai ulang bagaimana otak kita melihat pengalaman yang kita dapatkan untuk lebih fokus pada sisi positifnya.

Ketiga, ubah mindset mengenai kesulitan sebagai peluang. Hidup tak selalu berjalan sesuai rencana kita. Pada proses menuju sesuatu, tak jarang kita menemui tantangan di tengah jalan. Seni kintsugi dapat membantu untuk membingkai ulang kesulitan tersebut sebagai pengalaman yang dapat membantu kita menjadi lebih kuat.

Mengutip NBC News, kamu juga dapat menerapkan gaman, konsep gaman adalah kemampuan untuk bertahan, bersabar dan tetap tenang. Kemampuan ini dapat dipraktikkan setiap hari melalui bagaimana kamu merespon tekanan sehari-hari. Alih-alih fokus pada keadaan negatif, gunakan tantangan tersebut sebagai kesempatan untuk belajar.

Keempat, kintsugi adalah tentang menemukan dan memulihkan keseimbangan. Luangkan waktu untuk perawatan diri dan menghargai apa yang dibutuhkan oleh tubuh kita dengan menemukan keseimbangan dalam diet yang kita lakukan. Kita dapat lebih memperhatikan apa yang kita konsumsi dan masuk ke dalam tubuh. Di Jepang, ini juga dikenal dengan istilah eiyoshoku (menyehatkan tubuh).

Terakhir, focus on your inner circle. Dalam bukunya, Candice Kumai menulis tentang filosofi Jepang yang disebut yuimaru “lingkaran orang”, untuk menekankan pentingnya hubungan dengan orang-orang disekitar kita.

Dengan memiliki quality time bersama orang-orang tersayang, karena merekalah yang akan selalu ada untuk membantu kita membangun diri dan mengeluarkan yang terbaik dari diri kita. Dengan mengetahui diri kita memiliki support system yang baik juga akan membuat kita ingin merawat diri lebih baik lagi.

Nobody is flawless. Everyone is perfect in their own imperfect ways. And your imperfections make you unique. Cheers!

Referensi: Happiful | NBC News | Rituals | One Health Asia