Belajar Sejarah Bersama Para Pemburu Makam Komunitas Indonesia Graveyard
Ilustrasi pemakaman yang dikunjungi oleh Komunitas Indonesia Graveyard | Foto: Waldemar Brandt/Unsplash

Apa yang terlintas di benak Goodmates saat mendengar kata pemakaman? Sebagian dari Goodmates mungkin akan bergidik merasa merinding karena menghubungkannya dengan hal-hal mistis. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Komunitas Indonesia Graveyard yang justru melihat pemakaman sebagai tempat untuk mendalami sejarah.

Bagaimana biasanya kamu mempelajari sejarah? Melalui buku? Menonton film? Atau hanya saat sekolah melalui mata pelajaran sejarah dahulu? Seperti sebuah pepatah lama yang berbunyi ‘belajar dapat dilakukan dari mana saja’ begitu pula dengan kegiatan yang dilakukan oleh komunitas satu ini. Tertarik untuk mencobanya?

Di mata Deni Priya Prasetia dan Ruri Paramita, pendiri Komunitas Indonesia Graveyard, kuburan bukan hanya sebuah bangunan yang dijadikan tempat peristirahatan terakhir dan kerap dianggap angker.

Pemakaman justru mengandung banyak pelajaran sejarah dan nilai budaya dari masa lampau yang dapat dipelajari. Seperti sebuah buku, setiap makam hadir dengan kisahnya sendiri-sendiri.

Dilansir dari Vice Indonesia, komunitas yang telah berdiri sejak tahun 2017 silam ini awalnya terbentuk karena kesamaan hobi yang dimiliki oleh Deni Priya Prasetia dan Ruri Paramita. Kala itu Deni Priya Prasetia dan Ruri Paramita sama-sama menyukai kegiatan fotografi dan mengulik sejarah Indonesia. Keduanya tergabung dalam Komunitas Sejarah Ngopi Jakarta.

Sejak bergabung dengan komunitas Sejarah Ngopi Jakarta, Deni Priya Prasetia sering mengeksplorasi tempat-tempat bersejarah yang kadang juga berupa makam. Melalui sejarahlah ketertarikan fotografi dengan objek pemakaman timbul.

Bukan hanya sekadar bangunan, makam juga memiliki segudang pengetahuan baru

kegiatan fotografi pemakaman yang dilakukan Komunitas Indonesia Graveyard. | Foto: DOK. Indonesia Graveyard/Koran Jakarta
kegiatan fotografi pemakaman yang dilakukan Komunitas Indonesia Graveyard | Foto: DOK. Indonesia Graveyard/Koran Jakarta

Sama seperti kegiatan fotografi pada objek makhluk hidup, benda atau makanan, kegiatan fotografi pada komplek pemakaman juga memerlukan pencarian angle yang bagus. Menurut mereka, yang menjadi keunikan dari fotografi kuburan adalah bentuk nisannya.

Mulai dari makna bentuk nisan, tulisan atau identitas yang tertera pada nisan, hingga siapa yang dimakamkan di dalamnya. Setiap makam memiliki latar belakang dan sejarahnya sendiri yang dapat digali. Dikutip dari pernyataan Ruri yang ditulis oleh Vice Indonesia, salah satunya seperti pemakaman di Kediri yang memiliki ukuran panjang yang berbeda karena memiliki makna tersendiri.

Kegiatan lainnya yang biasa dilakukan saat mengunjungi pemakaman, kadang-kadang Komunitas Indonesia Graveyard juga membersihkan makam. Hal ini juga merupakan wujud dari cara mereka untuk menghargai siapa yang bersemayam di makam tersebut.

Melansir dari Telusuri Indonesia, komunitas Indonesia Graveyard memiliki misi untuk memberikan sudut pandang baru mengenai sebuah makam. Jika selama ini banyak orang mengenal makan sebagai tempat yang menyeramkan atau sesuatu yang berbau klenik atau mistis, komunitas ini ingin menegaskan makam juga bisa menjadi sumber data pengetahuan baru.

Komunitas Indonesia Graveyard juga menaruh harapan agar semakin banyak orang yang mulai menghargai sejarah dengan memulai dari peduli terhadap makam para tokoh yang berjasa bagi negara.

Dikutip dari Telusuri Indonesia, untuk menjangkau pengikut pada komunitasnya dilakukan secara spontanitas. Misalnya, ketika Ruri sedang berada di suatu kota, ia akan mengumumkan dirinya berada di sana dan menanyakan tentang makam yang dapat dikunjungi bersama.

Jika kamu tertarik bergabung menelusuri sejarah dengan mengunjungi pemakaman, kamu dapat memantau akun Instagram @Indonesia_graveyard agar mengetahui jadwal kegiatan mereka. Siapa sangka sebuah bangunan yang dijadikan tempat peristirahatan justru menyimpan segudang pengetahuan baru yang dapat dipetik.

Seperti mengutip sebuah kalimat yang tercantum dalam akun Instagram milik Komunitas Indonesia Graveyard, “Bagi kami, nisan bukan hanya sebuah penanda makam, namun sebuah keindahan dan nilai budaya yang terekam dari masa silam.” Komunitas Indonesia Graveyard berhasil memperkenalkan cara belajar sejarah yang baru.

Referensi: Vice Indonesia | Telusuri Indonesia | Koran Jakarta | Channel News Asia