Berdoa Sebelum Ujian, Harapan Diberi Kelancaran
Ilustrasi © Unsplash/PeopleImages

Apa yang biasanya kamu lakukan untuk mencapai ketenangan? Meski dalam situasi atau kondisi yang sulit, pasti manusia memiliki caranya sendiri untuk menenangkan diri. Berdoa menjadi kunci untuk sebagian orang karena berkaitan dengan hubungan spiritual seseorang dengan Tuhan.

Tentunya setiap orang memiliki permintaannya masing-masing yang biasa mereka panjatkan ketika berdoa. Bagi yang tengah menghadapi kesulitan, berdoa untuk dimudahkan. Bagi yang tengah gelisah, meminta untuk diberi ketenangan. Berdoa mampu meringankan stres.

Berdoa sering dianggap hanya sebagai salah satu cara untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Berdoa menjadi kegiatan untuk berkomunikasi dengan ketenangan dan keheningan. Padahal, dengan demikian berdoa juga memberikan dampak psikologis yang cukup besar dalam diri manusia.

Ketika membutuhkan uang, maka berdoa untuk diberikan rezeki yang cukup. Ketika tengah berada di dalam pesawat dan hendak lepas landas, maka berdoa untuk diberikan keselamatan selama perjalanan hingga sampai di tujuan. Berdoa dilakukan untuk menciptakan rasa aman atas apa yang telah kita lakukan sehingga mampu mengurangi beban pikiran.

Hal ini juga efektif dilakukan ketika hendak melakukan ujian, lo. Meminta kemudahan dalam mengerjakan ujian dinilai mampu mengurangi stres, sehingga memudahkan kamu dalam mengingat dan mengerjakan soal. Namun, hal ini bukan berarti kamu tidak berusaha maksimal untuk menghadapi ujian, ya.

Menurut Sosiolog University of Wisconsin-Madison, kebanyakan dari mereka yang memilih untuk berdoa akhirnya menemukan kenyamanan dalam situasi sulit atau emosi yang negatif seperti rasa sakit, trauma, amarah, dan kesedihan. Lalu, apa hubungannya berdoa dengan keajaiban? Bisakah keajaiban datang hanya dengan berdoa?

Keajaiban doa adalah nama lain dari kerja keras

Ilustrasi © Unsplash/Faseeh Fawaz
Ilustrasi © Unsplash/Faseeh Fawaz

Keajaiban dipercaya hasil dari ikhtiar kita terhadap sesuatu, target yang ingin kita raih, dan percaya hal itu mampu kita capai. Keajaiban terjadi akibat dari kepercayaan manusia kepada Tuhan yang akan selalu membantu hamba-Nya, dengan memberikan apa yang menurutnya terbaik untuk kita. Keajaiban tidak bisa datang secara tiba-tiba tanpa adanya sesuatu yang telah kita lakukan.

Sosiolog dari Jurusan Sosiologi University of Wisconsin-Madison yang bernama Shane Sharp menemukan fakta mengenai doa dari penelitian yang dilakukannya. Ketika berdoa, seseorang percaya bahwa Tuhan sedang melihat mereka. Hal inilah yang kemudian membuat persepsi seseorang menjadi lebih positif, sehingga meningkatkan rasa kepercayaan diri mereka.

Ketika kamu hendak melaksanakan ujian, maka pasti kamu berdoa untuk diberikan kemudahan dalam menjawab soal. Setelah ujian, kamu akan berdoa lagi untuk diberikan hasil yang terbaik. Baik berdoa sebelum maupun setelah melakukan sesuatu akan menghasilkan pengaruh yang sama.

Berdoa setelah pencurahan ikhtiar atau usaha terbaik yang telah dilewati akan tetap berpengaruh terhadap sesuatu. Doa tidak bekerja mengubah sistem dari tidak lulus ujian menjadi lulus ujian, tetapi berpengaruh terhadap psikis dan ketenangan hati seseorang.

Di samping itu, berdoa juga sangat berguna untuk sebuah distraksi. Hal ini dilakukan dengan mengangkat kedua tangan ataupun sebagaimana posisi biasa ketika berdoa, berkonsentrasi dengan apa yang hendak kita pinta. Ketika melakukannya, maka kita dapat mengalihkan diri dari berbagai macam emosi yang berkecamuk di dalam dada.

Hal ini juga tidak jauh berbeda dengan membicarakan masalah kita pada teman dekat ataupun keluarga. Perbedaannya hanyalah dengan siapa kita berkomunikasi dan seberapa serius kita ketika melakukannya. Ketika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, tentunya konsentrasi kita akan lebih terarah.

Terlepas dari hal tersebut, Sharp berkata bahwa konsekuensi dari doa ada berbagai macamnya. Ketenangan yang diperoleh dengan berdoa memang dapat membuat kita tenang, ikhlas, dan yakin dalam menghadapi satu situasi. Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti kita dapat melupakan sebuah situasi dan mengulangi suatu kesalahan kembali.

Referensi: The University of Wisconsin-Madison | UIN Raden Intan Lampung | Spalding University