Bergabung dengan Right to Repair Movement, Upaya Apple Kurangi Limbah Elektronik
Right to Repair Movement | Unsplash/PR Media

Baru-baru ini, perusahaan raksasa Apple mengumumkan bahwa mereka akan membuat komponen perangkatnya tersedia bagi masing-masing konsumen. Hal ini berarti menunjukkan kesiapan Apple untuk bergabung dengan Right to Repair Movement, bersama beberapa perusahaan teknologi lainnya. 

Apa Itu Gerakan Right to Repair Movement?

Bagi Kawan yang baru mendengar gerakan ini, wajar saja karena memang isunya baru ramai saat awal pandemi. Jadi, Right to Repair Movement sebenarnya merupakan bagian dari ideologi anti konsumerisme berlebihan. Gerakan ini semakin ramai di Amerika dan Eropa, sehingga membuat sejumlah asosiasi dan kelompok advokasi mengajukan beberapa kebijakan. 

Kebijakan ini dibuat agar banyak pengguna teknologi lebih bisa mempertahankan usia perangkat canggih yang mereka miliki, dan tidak mudah membuangnya jika ada yang rusak. Beberapa kebijakan terkait gerakan ini, di antaranya menyediakan akses informasi untuk mempermudah konsumen melakukan pembaruan perangkat lunak mereka, menyediakan suku cadang dan alat untuk memperbaiki perangkat bagi konsumen, memungkinkan perangkat dirancang sedemikian rupa sehingga mudah diperbaiki, dan lain sebagainya. 

Awal tahun 2021, Presiden Biden menandatangani surat perintah khusus yang mengumumkan dukungannya agar konsumen tetap terlindungi dari kebijakan tadi. Tak hanya itu, Komisi Perdagangan Federal juga memberikan persetujuan, untuk meningkatkan kebijakan hukum terkait Right to Repair Movement. Sehingga, kebijakan dalam gerakan baru ini lebih aman dan terjamin. 

Di Inggris, peraturan baru yang dijalankan sejak musim panas ini menjadikan produsen wajib secara hukum untuk membuat suku cadang produk bagi konsumen. Tujuannya, agar usia alat elektronik bisa diperpanjang sampai 10 tahun, dan diperkirakan dapat mengurangi 1,5 miliar ton limbah listrik setiap tahun.

Lalu, Bagaimana Langkah yang Dilakukan Apple?

Apple menurunkan biaya perbaikan perangkatnya dalam waktu dekat | Unsplash/Vista Wei

Apple, sebagai salah satu perusahaan teknologi yang produknya banyak diminati, mulai bergabung dengan Right to Repair Movement. Dengan cara menurunkan biaya perbaikan perangkatnya, sehingga umur peralatan elektronik lebih panjang dan bisa membantu mengurangi limbah elektronik global.

Banyak orang merasa, biaya yang tinggi saat memperbaiki perangkat elektronik atau ketidakmampuan konsumen melakukan perbaikan secara mandiri, menjadi penyebab mudahnya alat elektronik dibuang. Ketika rusak, banyak pengguna yang berpikiran bahwa lebih mudah membeli yang baru sebagai gantinya, daripada repot-repot datang ke toko untuk memperbaiki. Apakah Kawan juga termasuk yang berpikir seperti ini?

Padahal, data menunjukkan bahwa ada lebih dari 57 juta ton limbah elektronik di tahun 2021, lebih berat dari Tembok Besar China! Bahkan, limbah elektronik menjadi aliran limbah yang paling cepat di 2020, dengan kurang dari 20 persen limbah tersebut yang bisa didaur ulang. Dari setiap ton limbah elektronik yang tidak bisa didaur ulang, ada sekitar dua ton emisi CO2 dikeluarkan ke atmosfer. Sangat mengerikan, ya?

Nah, sebenarnya selama ini Apple tidak setuju dengan Right to Repair Movement, karena alasan masalah keamanan bagi konsumennya. Beberapa perusahaan teknologi lain seperti Amazon dan Google juga tidak menyetujui kebijakan yang dapat memudahkan konsumen untuk memperbaiki perangkat elektronik secara mandiri. Namun, akhirnya Apple berubah saat beberapa kompetitornya menjanjikan produk mereka akan lebih mudah diperbaiki oleh konsumen, seperti Microsoft pada Oktober lalu. 

Jadi, kabar baik bagi Kawan yang menggunakan produk dari Apple, ada layanan baru di awal tahun 2022 untuk iPhone dan menyusul untuk produk komputernya. Untuk target awal, hanya akan diberlakukan di Amerika, tetapi Apple berupaya untuk memperluas kebijakan baru ini di berbagai negara lain. Meski komponen yang bisa konsumen beli masih terbatas untuk penggantian layar, baterai, dan kamera, tetapi tetap akan berdampak besar bagi penghematan maupun lingkungan. 

Selama ini, biaya perbaikan perangkat yang rusak ke toko resmi Apple memang sangat mahal. Jika pengguna pergi ke toko lain yang lebih murah, biasanya akan lebih sulit karena kebijakan Apple. Banyak perbaikan iPhone hanya dapat diautentikasi oleh perangkat lunak Apple, dan bukan untuk umum. Alasan biaya perbaikan yang tinggi inilah umumnya membuat banyak pengguna lebih suka membeli perangkat baru. 

Jika Apple membuat komponen untuk perangkatnya lebih terjangkau, hal ini bisa berpengaruh besar dalam membantu mengatasi krisis limbah elektronik. Setelah membeli komponen, artinya konsumen bisa melakukan perbaikan sendiri, atau meminta bantuan kepada orang lain yang mengerti. 

Bergabungnya Apple dalam Right to Repair Movement, bisa dipastikan akan membuat dampak besar. Konsumen akan lebih nyaman untuk memperbaiki perangkat mereka, menjadikan usia perangkat lebih tahan lama, dan tentunya membantu mengurangi limbah elektronik di dunia.  

Referensi: 

The Environmental Impact of Broken Technology and the Right to Repair Movement | Earth.Org - Past | Present | Future

'Right to repair' law to come in this summer - BBC News

Apple Joins the Right to Repair Movement | Earth.Org - Past | Present | Future