Berteman dengan Rasa Takut Bersama Hi Fear Club
Ilustrasi © Unsplash/Verne Ho

Apa ketakutan yang kamu miliki sebagai seorang manusia? Ketika mendengar kata ‘ketakutan’, hal pertama yang mungkin terlintas di kepalamu adalah hal yang langsung ingin kamu cepat-cepat enyahkan dari pikiran.

Dilansir dari jurnal Health Psychology and Behavioral Medicine, rasa takut berhubungan dengan persepsi, pengalaman, dan dukungan dari sekitar kita yang biasanya berujung pada tantangan. Sesuatu yang mengancam dalam diri sehingga memunculkan coping mechanism. Coping mechanism ini sendiri adalah sebuah usaha untuk meminimalisir dampak internal atau eksternal dalam diri ketika berada dalam situasi yang tidak nyaman.

Ketakutan yang biasanya dipengaruhi oleh level stres, lelah, dan pengaruh negatif lainnya adalah sesuatu yang bisa kita dihadapi. Apabila sampai saat ini kamu belum mampu menghadapi rasa takutmu. Percayalah bahwa ketakutan bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Menghadapi rasa takut bukan berarti menghindarinya.

Menghadapi ketakutan ini adalah suatu perubahan yang harus dilakukan. Kita bisa melihat sisi baik dari tantangan yang kita hadapi itu, yang juga dapat menguatkan kesehatan mental kita. Hal ini menjadi sebuah tujuan yang dicita-citakan oleh komunitas bernama Hi Fear Club.

Komunitas Hi Fear Club mencoba untuk menanamkan persepsi bahwa ketakutan bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau ditaklukkan kepada perempuan-perempuan di luar sana. Komunitas ini bergerak di bidang pemberdayaan perempuan, kesehatan mental, dan kesetaraan gender.

Tujuannya, untuk menginspirasi para perempuan muda untuk mengetahui dan menghadapi kerapuhan mereka dengan memberikan mereka persaudaraan suportif sesama perempuan melalui konten yang dibagikan komunitas ini, webinar, dan lokakarya.

Founder dari komunitas ini bercerita bahwa awal mula Hi Fear Club berasal dari sebuah acara di suatu kampus. Ia melihat respon dari audiens yang memberikan ekspektasi dan rasa takut mereka ketika mendengar kata ‘kerja’. Setelah diamati, ekspektasi audiens terhadap dunia kerja terbilang cukup terlampau jauh. 

Dalam acara tersebut, diketahui bahwa audiens yang mayoritas merupakan mahasiswa semester 4 sudah memiliki rasa takut dipecat, ditolak setelah sesi interview, sampai working hour yang harus sampai larut malam. Hal ini membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak dapat bebas lagi dan terikat pada pekerjaan sesuai ekspektasi mereka.

Padahal, kebebasan adalah hak setiap orang dan tidak sepatutnya mereka terbelenggu akan rasa takut. Komunitas ini kemudian hadir sebagai penengah dari jarak antara ekspektasi dan realita mahasiswa tersebut.

Hi Fear Club dibangun dan bergerak berdasar pada data dengan melakukan survei pada target pasarnya. Mereka memiliki cita-cita untuk menciptakan sebuah media atau komunitas dimana seseorang masih bisa menjadi diri sendiri, jujur atas diri sendiri, dan bisa mencapai aspirasinya.

Nilai dan perwujudan yang dilakukan Hi Fear Club

Hi Fear Club © Instagram/@hi.fearclub
Hi Fear Club © Instagram/@hi.fearclub

Terdapat 3 nilai yang didorong oleh Hi Fear Club, yaitu vulnerable, process, dan liberation. Untuk berteman dengan rasa takut, seseorang bisa memulainya dengan mengetahui dan memahami bagaimana selama ini kita menghadapinya.  Setelah itu, seseorang dapat menghargai dan berproses terus sampai akhirnya mencapai kebebasan.

Dalam mencapai hal tersebut, Hi Fear Club membagi kegiatannya menjadi dua. Pertama, mereka melakukan publikasi konten yang memiliki tema berbeda-beda dalam kurun waktu tujuh hari sampai berinteraksi dengan audiens melalui Instagram. Kedua, mereka mengadakan sharing session sebagai wadah untuk berkeluh kesah, dan mendapatkan validasi dari peserta lainnya.

Hi Fear Club percaya, bahwa seseorang tidak perlu menaklukkan rasa takutnya dan berusaha menjadi fearless. Manusia tidak perlu menunjukkan tidak adanya rasa takut di dalam dirinya, tetapi cukup dengan menunjukkan rasa ingin lebih mengenal dekat dan berteman dengan rasa takut.

Dalam hal ini, semua orang memerlukan wadah untuk belajar menghadapi rasa takut dengan jujur kepada diri sendiri dan menghargai proses yang sedang mereka jalani. Jadi, apakah kamu tertarik untuk menjadi #BeFriendFears?

Referensi: StatPearls | Instagram | Tandfonline | Pubmed