Blockchain, Solusi Pembangunan Perkotaan Masa Kini
Blockchain sebagai solusi pembangunan perkotaan | Foto: Google

Berbicara teknologi masa kini, kamu pasti sangat familiar dengan istilah blockchain. Blockchain seringkali sama dengan mata uang kripto dan Bitcoin. Padahal, ketiganya sangat berbeda dan memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya.

Melansir dari whitepaper karangan Satoshi Nakamoto (2008), blockchain merupakan digital database yang berbentuk rantai blok. Biasanya, blockchain berguna sebagai pembayaran online berupa uang elektronik, langsung tanpa melalui bank sehingga mengatasi masalah waktu dan biaya pengiriman.

Sementara itu, bitcoin merupakan penggunaan pertama blockchain dengan memanfaatkan teknologi untuk menyimpan suatu informasi. Berbeda dengan keduanya, mata uang kripto berguna sebagai alat pertukaran dengan teknologi kriptografi sehingga mampu mengamankan transaksi keuangan.

Cara Kerja Blockchain

Ilustrasi blockchain | Foto: Pexels/Karolina

Proses kerja blockchain selalu berkaitan dengan blok berisi data yang terjadi setelah otentikasi, yakni ketika node meminta transaksi dengan menyiarkan ke node lainnya. Pengguna harus memasukkan informasi mengenai transaksi ke dalam algoritma hashing kriptografi, lalu menerima huruf serta angka yang berbeda.

Baca juga: Canggih! Jepang Ciptakan Masker yang Bersinar Jika Terpapar COVID-19

Node lain dalam jaringan kemudian akan memeriksa data untuk mengubah, menolak, atau menerimanya tanpa melihat rincian transaksi. Tahap tersebut merupakan verifikasi berdasarkan konsensus. Ketika transaksi selesai, blok baru akan tercipta yang kemudian bertambah ke blockchain yang ada.

Blockchain menjadi teknologi buku besar yang memastikan properti dapat terdistribusi. Tak hanya itu, blockchain memiliki banyak keunggulan. Di antaranya dapat berbagi penyimpanan catatan yang memungkinkan untuk membagikan satu set catatan otoritatif ke banyak pihak.

Selain itu, blockchain juga memiliki konsensus banyak pihak yang memungkinkan untuk menyepakati kumpulan catatan bersama tanpa otoritas pusat. Ada pula validasi independen yang memungkinkan setiap pihak untuk memverifikasi catatan transaksi pada buku besar.

Keunggulan lain dari blockchain, terdapat bukti perusak (tamper evidence) yang memungkinkan setiap pihak untuk mendeteksi perubahan sepihak atau non-konsensual pada transaksi. Terakhir, ada resistensi tamper (tamper resistance) yang melarang perubahan riwayat transaksi buku besar secara sepihak.

Penerapan Teknologi Blockchain

Blockchain | Foto: Pexels/Olya

Penggunaan teknologi blockchain berpotensi untuk membantu dan mempromosikan pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Di samping itu, teknologi ini memiliki karakteristik terdesentralisasi, aman, tidak berubah, dan transparan.

Baca juga: Tak Hanya Email, Aktivitas Internet Lain Bisa Timbulkan Emisi Karbon

Ada pula potensi penerapan teknologi blockchain pada pembangunan perkotaan (UN Habitat, 2021). Antara lain manajemen tanah dan properti, menjadi layanan dasar perkotaan, hingga sebagai tata kelola perkotaan dan inklusi sosial.

Blockchain mampu meningkatkan pencatatan tanah, keamanan tenurial, dan hak properti yang tidak akurat. Selain itu, teknologi ini dapat meningkatkan kepercayaan karena prosesnya efisien sehingga mengurangi waktu dan biaya dalam pemrosesan pendaftaran tanah dan transaksi jual-beli tanah.

Penerapan blockchain juga berpotensi meningkatkan layanan dasar perkotaan dan akses yang adil ke masyarakat, seperti angkutan perkotaan dan fungsi e-mobilitas, serta pengelolaan sampah yang terukur.

Menariknya lagi, blockchain menawarkan kesempatan dalam mengembangkan struktur dan tata kelola yang baik karena menciptakan kepercayaan, konsensus, dan tata kelola berbasis data dalam manajemen kota.

Baca juga: Menakjubkan! Para Peneliti Ciptakan Kamera Seukuran Butir Garam

Implementasi blockchain dapat meningkatkan efisiensi energi, mengurangi pemborosan, dan membuka ekonomi baru serta mempercepat transisi ke penggunaan energi terbarukan di sektor bisnis dan industri. Teknologi blockchain memiliki potensi mempercepat untuk menuju penggunaan energi terbarukan melalui mekanisme insentif dan penghematan kelebihan energi.

Di samping itu, ada beberapa risiko dan kekhawatiran dalam menggunakan teknologi blockchain (UN Habitat, 2021). Di antaranya pada bidang tata kelola, kepercayaan, dan inklusi, serta kekhawatiran peraturan dan yurisdiksi. Selain itu, ada pula masalah keamanan dan privasi, serta kelayakan ekonomi dan biaya.

Dalam penerapannya, sistem blockchain memiliki keunggulan sekaligus risiko. Meskipun demikian, teknologi ini dapat menjadi solusi untuk menghadapi tantangan pembangunan perkotaan.

Blockchain tidak seperti teknologi lain karena membutuhkan kepercayaan untuk membangun infrastruktur dan ekosistemnya. Oleh karena itu, penerapan blockchain membutuhkan regulasi dan pengawasan yang jelas dari pemerintah sehingga kerugian teknologi ini dapat terminimalisir dengan terukur. 

Referensi: Urban, F. O. R. (2021). For urban development. November.

Urban and Regional Planning