Overthinking Berlebihan? Yuk, Intip Cara Mengatasinya Ala Buku Filosofi Teras
Buku Filosofi Teras I Foto: Pinterest

#FutureSkillsGNFI

Melansir dari GoodRX Health, overthinking adalah keadaan di mana kita berulang kali memikirkan pemikiran atau situasi yang sama berulang-ulang sampai pada tiitk menghalangi hidup kita. Overthinking terbagi ke daam dua kategori: merenungkan masa lalu atau mengkhawatirkan masa depan.

Sanam Hafeez, seorang neuropsikolog yang berasal dari New York City mengungkapkan bahwa perfeksional dan orang yang berprestasi memiliki kecenderungan untuk berpikir berlebihan karena ketakutan akan kegagalan dan kebutuhan untuk menjadi sempurna mengambil alih yang mengarah pada pengulangan kritik keputusan dan kesalahan.

Ketika sedang menghadapi berbagai permasalahan yang menyebabkan overthinking, kita sering kali berbagai cerita kepada orang-orang yang kita percaya. Dengan membagi kegundahan kita kepada orang lain, hati kita merasa jauh lebih tenang dan terkadang kita mendapat saran dari orang tersebut. Namun, kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol orang lain agar memahami situasi kita sehingga lagi-lagi yang dapat menyelamatkan  kita adalah diri kita sendiri.

Belajar dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, ada banyak hal yang tidak dapat kita ubah. Kita tidak mampu mengubah orang-orang dan keadaan disekitar kita seperti apa yang kita mau. Namun, yang dapat kita ubah adalah mental emosional kita dalam menghadapai permasalah yang ada. Sering kali, kita merasakan emosi pada yang tidak jelas bahkan pada hal kecil sekalipun.

Henry Manampiring dalam bukunya mendefinisikan emosi negatif sebagai  opini yang mengatakan bahwa sesuatu itu buruk (sehingga muncul rasa sesal dan rasa takut) atau opini yang mengatakan bahwa sesuatu itu baik (sehingga ada rasa senang dan rasa mengingininya). Emosi negatif terdiri dari 4 jenis, yaitu: iri hati, takut, rasa sesal atau pahit, dan rasa senang-nikmat. Emosi negatif ini dikarenakan kekhwatiran yang muncul oleh karena sesuatu yang terjadi pada kehidupan.

Cara Mengatasi Overthinking Ala Filosofi Teras

Ilustrasi | Foto: Pexels
Ilustrasi | Foto: Pexels

Penyebab overthinking seringkali disebabkan oleh banyaknya pikiran-pikiran negatif yang mengintimidasi kita. Padahal, pikiran-pikiran negatif tersebut belum tentu terjadi, Henry Manampiring mengajarkan kita dengan ajaran dikotomi kendali. Dikotomi kendali berprinsip bahwa ada hal-hal yang di dalam hidup yang dapat kita kendalikan, dan ada yang tidak dapat kita kendalikan.

“Hal-hal yang ada di bawah kendali kita bersifat merdeka, tidak terikat, tidak terhambat; tetapi hal-hal yang tidak di bawah kendali kita bersifat lemah, bagai budak, terikat, dan milik orang lain. Karenanya, ingatlah jika kamu menganggap hal-hal yang bagaikan budak sebagai bebas, dan hal-hal yang merupakan milik orang lain sebagai milikmu sendiri…maka kamu akan meratap, dan kamu akan selalu menyalahkan para dewa dan manusia.”

Oleh karena itu, ketika kita mulai merasa overthinking cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya dengan langkah-langkah S-T-A-R (Stop, Think & Assess, Respond).

Cara kedua yang dapat kita lakukan untuk mengatasi overthinking adalah “mental contrasting”. Mental contrasting dikenal sebagai penggabungan antara positif thinking dengan memberikan hambatan-hambatan apa saya yang akan dialami ketika menghadapai sesuatu (negatif thinking). 

Dengan mental contrasting kita dapat memanage pikiran-pikiran kita menjadi lebih terkendali, terbukti dengan orang-orang yang telah menerapkan hal tersebut memperoleh pencapaian yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang hanya membayangkan hal-hal positif saja, atau hanya membayangkan hal-hal negatif saja.

Perkembangan dari ilmu psikologi menyatakan bahwa ada potensi masalah dengan anjuran berpikir positif. Terkadang, saking positifnya pikiran, justru dapat menjadi boomerang bagi kita sendiri. Positif thinking “menipu” kita seolah-olah kita sudah mencapai apa yang kita inginkan atau gagalnya sesuatu bukan karena “diri sendiri”, sehingga akan mengurangi keuletan kita dalam mencapai sesuatu.

Menurut artikel “The Tyranny of Postive Thinking Can Threaten Your Health and Happiness” di Newsweek menyatakan bahwa sebagian orang gagal dan merasa depresi karena secara implisit mereka menyalahkan dirinya sendiri  jika mereka tidak merasa bahagia. Contohnya ketika sesorang gagal dalam perlombaan dan juga ditambah kesedihannya karena merasa bersalah merasakan kesedihan itu sendiri.

Terakhir, pada cara keempat ini yang tidak kalah penting adalah mengenali apa yang menjadi sumber overthinking tersebut. Setelah tahu dan paham betul mengapa kita overthinking, tentunya kita akan mampu mengatasi dan menghindari hal tersebut dapat terjadi lagi dikemudian hari. Kita juga dapat mencoba menulis hal-hal baik yang terjadi dikehidupan kita, dengan begitu kita mampu bersyukur atas apa yang telah terjadi dalam kehidupan walau masalah silih berganti berdatangan.

Mencintai diri sendiri adalah hal yang paling mujarab untuk membangun mental yang tangguh. Mulai saat ini, yuk GoodMates mulai kurangi overthinking mu dengan menerapkan cara-cara dari Filosofi Teras karena aku, kamu, dan kita semua sangat berharga.

Referensi:Jawa Pos Radar Bojonegoro | GoodRx Health