Bagaimana Cara Mengurangi Stigma Terkait Kesehatan Mental?
Ilustrasi orang dengan masalah mental | Foto: BBR Foundation

#FutureSkillsGNFI

Sudah seberapa sering GoodMates mendengar kata "OCD"? Atau, bahkan pernah mendengar rekan GoodMates berkata, "Aku tuh, OCD banget deh. Semuanya harus rapi!"?

OCD, singkatan dari obsessive-compulsive disorder, merupakan salah satu dari sekian banyak kondisi mental yang dialami manusia. Meskipun belakangan ini kesehatan mental semakin sering dibicarakan, tapi tidak jarang pengertian yang beredar dan dipahami masyarakat umum jauh dari definisi sebenarnya, sehingga mengakibatkan adanya stigma untuk mereka yang terdiagnosis dengan suatu kondisi mental.

Stigma sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dimaknai sebagai ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Terdapat dua jenis stigma, yaitu eksternal yang berasal dari lingkungan sekitar penderita, dan internal, yang berasal dari dalam pikiran penderita sendiri. Stigma internal umumnya dikarenakan stigma eksternal yang memengaruhi pikiran penderita. Kedua jenis stigma ini menghambat pemulihan kesehatan mental penderita dan penerimaan secara sosial.

Sheldon dari The Big Bang Theory, yang diklaim memiliki OCD tetapi dijadikan candaan dalam penayangannya | Foto: Independent
Sheldon dari The Big Bang Theory, yang diklaim memiliki OCD tetapi kondisinya dijadikan candaan dalam penayangannya | Foto: Independent

Salah satunya, tentu OCD yang telah disebutkan di awal. Sebab OCD tidak sebatas keinginan akan keteraturan, apalagi segala tentang kebersihan. Pun, kalau GoodMates adalah orang yang teratur dan bersih, tidak otomatis GoodMates menderita OCD, kok. Tetap diperlukan diagnosis dari psikolog klinis maupun psikiater untuk benar-benar mengetahuinya. OCD sendiri lebih dikenal sebatas pada perilaku gila kebersihan karena penyederhanaan dari penggambaran OCD di banyak media.

Semakin membuminya kesadaran tentang kesehatan mental kian hari, tentu merupakan tanda yang bagus. Namun, hal itu juga bisa menjadi bumerang apabila justru pengertian yang kurang tepat berkembang. Nah, bagaimana agar diri kita tidak termasuk orang yang berpartisipasi pada semakin mengakarnya stigma?

1. Kritis terhadap tayangan media

Dewasa ini sudah banyak tayangan yang mengangkat tema kesehatan mental. Baik sebagai pelengkap maupun tema utama. Namun, tidak jarang kondisi mental tersebut terlalu disederhanakan dan ditampilkan secara ekstrem.

Salah satunya saja, orang dengan gangguan bipolar sering ditampilkan sebagai pribadi yang bisa marah dengan ekstrem dan suka mengancam. Beberapa kali bipolar muncul pada tayangan dengan genre thriller ataupun horor, lengkap dengan efek ngeri dan seram.

Untuk ini, GoodMates bisa mulai dari googling. Misalnya, dengan kata kunci terkait judul tayangan dan kemudian cari sumber relevan, seperti hasil wawancara dengan praktisi, penderita, atau penyintas. Tanpa mengkritisi atau mempertanyakan suatu tontonan, seorang penonton dapat mempercayai mentah-mentah penggambaran tersebut dan menyebarkannya.

Fatal Attraction, salah satu film yang menggambarkan kondisi bipolar dengan kurang tepat | Foto: Screenrant
Fatal Attraction, salah satu film yang menggambarkan kondisi bipolar dengan berlebihan | Foto: Screenrant

Ketika suatu saat bertemu dengan orang dengan bipolar sungguhan, orang yang demikian dapat bersikap tidak ramah seperti takut dan menjauh. Hal ini dapat mengakibatkan penderita semakin merasa tidak diterima dan menyulitkan pengobatan. Yang lebih parah, apabila penderita bipolar bersikap normal dan tidak berbahaya, orang tersebut justru tidak percaya. Tuduhan semacam "mencari perhatian" dan "manipulatif" pun biasa terlontar, baik di depan penderita maupun di belakang.

Mengkritisi tayangan yang dikonsumsi adalah upaya menghindari memiliki pemikiran yang menghakimi terhadap sesama. Sebab, perlu dipahami, tayangan–seperti film–selain terbatas durasi, juga memang perlu suatu unsur untuk hiburan serta tidak selalu dihadirkan dengan tujuan edukasi. Maka, tidak heran jika didramatisasi.

2. Banyak membaca dan diskusi

Mengkritisi tayangan media salah satunya juga diwujudkan dengan banyak membaca. Dengan membaca, seseorang dapat memeriksa fakta dan mitos yang ada serta meningkatkan kepekaan. Namun, kecuali GoodMates adalah psikolog klinis atau psikiater, tetap harus hati-hati pada self-diagnose saat memahami bacaan. Baik mendiagnosis diri sendiri maupun orang sekitar.

Jangan sampai, hanya karena telah merasa membaca mengenai suatu kondisi mental, lantas ketika ada kenalan yang menunjukkan beberapa gejala yang cocok dengan suatu kondisi, langsung diberi vonis. Dugaan GoodMates dapat benar, tetapi dapat juga salah. Untuk menghindarinya, GoodMates dapat berdiskusi dengan rekan pegiat kesehatan mental maupun pada praktisinya langsung jika berkesempatan.

3. Berhenti bergurau mengenai kesehatan mental

Kadang-kadang, di internet dijumpai konten mengenai hal-hal mistis atau membahas mengenai orang dengan kemampuan indigo. Indigo umumnya dimengerti sebagai orang dengan kemampuan di atas rata-rata dalam memahami hal mistis. Tidak jarang, komentar di bawahnya menyebut bahwa semua itu tidak lebih dari gejala skizofrenia, baik menyebut secara eksplisit maupun implisit.

Salah satu bentuk gurauan terhadap kondisi mental
Salah satu bentuk gurauan terkait kondisi mental di internet. | Foto: Dokumen pribadi.

Terlepas dari sains dibalik indigo, tidak sepantasnya mengaitkan kondisi indigo dengan skizofrenia dengan tendensi merendahkan. Menuduh orang indigo sebagai penderita skizofrenia adalah tidak baik, begitu pula menghubungkan penderita skizofrenia dengan kondisi indigo adalah hal yang tidak berdasar.

Hal ini berbahaya bagi penderita skizofrenia karena orang lain dapat jadi mengecilkan masalah yang dihadapi penderita dan tidak menganggapnya serius, yang alhasil dapat memperlambat kesembuhan. Gurauan nirempati seperti ini sebaiknya tidak dinormalisasi. Sebab, bergurau yang demikian juga merupakan bentuk prasangka dan penyudutan. Jadi, jangan lupa untuk memilih kata-kata dengan hati-hati, ya! Cara GoodMates berbicara dapat memengaruhi sikap orang lain.

Nah, itu tadi beberapa cara agar GoodMates dapat terhindar dari pemikiran stigmatisasi terhadap penderita gangguan mental. Pengertian memang diperlukan untuk kesembuhan penderitanya. Akan tetapi pemahaman yang salah, alih-alih menenangkan, justru menimbulkan masalah lain.

Referensi: CAMH.CA | KBBI | IndependentHalodoc