Tak Harus Serius, Begini Cara Rasulullah Menyampaikan Ilmu Lewat Candaan
Ilustrasi | Foto: toko-muslim.com

#FutureSkillsGNFI

Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap orang demi perkembangan dirinya pribadi maupun kemaslahatan bagi lingkungannya. Dalam Islam, kewajiban menuntut ilmu dinyatakan tegas dalam syariat bahwa menuntut ilmu diwajibkan bagi setiap umat islam: fardhu 'ain hukumnya menuntut ilmu agama dan fardhu kifayah untuk ilmu-ilmu umum.

Dalam tradisi menuntut ilmu kita sering dihadapkan dengan animo masyarakat akan suasana belajar-mengajar yang terkesan serius dan monoton. Hal ini tentunya membuat peserta didik/orang yang menerima ilmu mudah bosan dan kehilangan fokus jika belajar dalam jangka waktu yang lama. Suasana belajar seperti ini juga membuat para penuntut ilmu cenderung mudah mengantuk sehingga apa yang disampaikan guru/orang yang menyampaikan ilmu tidak dapat dipahami bahkan pembelajaran terasa berlalu begitu saja.

Kondisi-kondisi tersebut di atas secara tidak langsung menjadikan para penuntut ilmu mengklaim bahwa belajar itu membosankan dan lambat-laun akan menimbul rasa malas. Selain itu, terlalu lama dalam keadaan serius juga membuat seseorang rentan terkena stres dan tentunya akan memicu berbagai penyakit lainnya, baik penyakit fisik maupun penyakit mental. Untuk itu harus ada solusi untuk mengatasi persoalan ini. Bagaimana caranya?

Salah satu caranya adalah dengan mengajarkan ilmu melalui gurauan/candaan. Proses belajar-mengajar yang diselingi candaan akan membuat otak/pikiran lebih segar dan tetap fokus ketika menerima pelajaran, kondisi belajar yang kebih hidup, luwes dan santai pastinya.

Rasulullah SAW telah mengajarkan kita melalui kesehariannya mengenai bagiamana beliau megajarkan ilmu lewat gurauan/candaan. Walaupun dengan candaan, pengajaran yang beliau sampaikan tetap merupakan sesuatu yang bernas (berisi/berbobot/mengandung nilai-nilai yang tinggi).

Dalam beberapa riwayat digambarkan bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan ilmu melalui gurauan/candaan dengan materi pengajaran yang tetap sarat akan mutu.

روى البخاري، ومسلم، وأبو داود، والترمذي، وابن ماجه، واللفظ لأبي داود، عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يدخل علينا، ولي أخ صغير يكنى أبا عمير، وكان له نغر يلعب به، فمات، فدخل عليه النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فرآه حزينا، فقال: ما شأنه؟ قالوا: مات نغره، فقال: يا أبا عمير ما فعل النغير؟.

Artinya: Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan kisah dari Annas bin Malik ra. bahwa dia bercerita: Rasulullah pernah berkunjung ke rumah kami. Saat itu aku punya adik yang masih kecil berjuluk Abu 'Umair. Dia mempunyai seekor burung pipit yang selalu dimainkannya. Suatu ketika, burung itu mati hingga membuatnya bersedih. Ketika Nabi masuk dan melihatnya tampak bersedih, beliau bertanya, "Mengapa dia bersedih?" "Burung pipitnya mati", jawab kami. Kemudian Rasulullah bertanya, "Hai Abu 'Umair, apa yang telah dilakukan burung pipit itu?" tanya Nabi.

Dalam buku Muhammad Sang Guru, hadis ini mengandung banyak pembelajaran di dalammnya. Dikatakan bahwa setidaknya 60 pelajaran telah disimpulkan oleh sebagian ulama dalam buku-buku tersendiri mengenai hadis ini. Ada juga yang mampu menyimpulkan hingga 300 bahkan 400 pelajaran dalam hadis yang satu ini.

Dalam buku karangan Abdul Fattah Abu Ghuddah ini, setidaknya 11 pembelajaran dipaparkan di dalamnya. Lima di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Diperbolehkan membelanjakan harta untuk hal-hal mubah yang menjadi keniscayaan si kecil.
  2. Diperbolehkan untuk mengurung burung dalam sangkar,kandang atau lainnya.
  3. Dibolehkannya gurauan dan mencandai anak kecil yang belum balig.
  4. Dibolehkannya bertanya mengenai apa yang sebenarnya sudah diketahui oleh si penanya tanpa merendahkan orang yang ditanya seperti yang dilakukan oleh Nabi ketika beliau bertanya, "Apa yang dilakukan burung pipit itu?" padahal beliau sudah mengetahui bahwa burung pipit itu sudah mati.
  5. Dibolehkannya memanggil seseorang dengan sebutan yang lebih kecil (julukan) asalkan tidak menyakitinya. Dalam hadis ini Nabi menyapa anak kecil tersebut dengan julukannya ("Hai Abu 'Umair").

Dari uraian tersebut terlihat bahwa meskipun hanya lewat gurauan/candaan Rasulullah tetap mampu menyampaikan banyak pembelajaran dan proses belajar pun berjalan dengan santai dan tidak membosankan. Kondisi belajar seperti ini tentunya juga baik terhadap kesehatan karena bisa terhindar dari resiko stres.

 

Referensi: Buku Muhammad Sang Guru Edisi Revisi, Karya Abdul Fattah Abu Ghuddah