Cegah Bencana Melalui Tanaman Kopi
Tanaman kopi merupakan mitigasi bencana | Foto: Julia Florczak/Unsplash

Minuman dengan warnanya yang hitam kecoklatan satu ini umum disajikan dengan cangkir dalam keadaan panas. Uapnya yang panas mengepul mengantarkan aroma khas membuat siapapun ingin mencicipinya. Fakta menariknya, kopi memiliki potensi untuk menjadi tanaman mitigasi bencana.

Indonesia merupakan negara yang rawan akan bencana. Hal ini diperkuat dengan data oleh The World Risk Index pada tahun 2019 yang menunjukan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke 37 dari 180 negara paling rawan bencana.

Data terbaru pada tahun 2021 sebagaimana mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo melalui Merdeka.com, menunjukan Indonesia berada di peringkat ke 35 sebagai negara paling rawan risiko bencana di dunia.

Bencana menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster), maupun oleh ulah manusia (man-made disaster). Selain itu, potensi bencana alam yang berada di Indonesia juga dipengaruhi oleh letak geografis negara Indonesia yang berbentuk negara kepulauan dengan pertemuan empat lempeng tektonik.

Pada bagian Selatan dan Timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang memanjang dari Pulau Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi. Kondisi inilah yang berpotensi pada faktor rawan bencana, seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor.

Kopi dan mitigasi bencana

ilustrasi tanaman kopi, tanaman mitigasi bencana. | Foto: Bukalapak
Tanaman kopi menjadi mitigasi bencana | Foto: Bukalapak

Selain melalui kebijakan pemerintah, masyarakat juga dapat berkontribusi melakukan mitigasi bencana. Terutama bagi masyarakat yang menjadi penduduk dari daerah-daerah rawan bencana.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Sukiman Mochtar Pratomo, seorang petani kopi dan sayur dari Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Dilansir dari Ekuatorial, Sukiman telah bertani kopi sejak tahun 2014. Ia menyebutnya sebagai kopi konservasi merapi sebab melakukan mitigasi iklim dan bencana. Kopi arabika yang ditanam di lereng Merapi ini ditanam bersama dengan kelompok petani Ngudi.

Menurut Sukiman, tanaman kopi membawa dampak baik bagi lingkungan. Salah satu yang dirasakan adalah cuaca kampung yang mulai terasa dingin kembali. Selain itu, kopi merupakan tanaman kayu keras.

Jika terkena hujan abu letusan merapi dan mengalami kehilangan daun, ia bisa tumbuh kembali. Kopi juga bisa ditanam di bawah pepohonan lain dan tanaman hutan.

Tanaman kopi yang dijadikan sebagai tanaman mitigasi bencana juga diterapkan oleh masyarakat hulu Gorontalo. Melansir Mongabay, Kabupaten Gorontalo merupakan salah satu daerah di Indonesia yang rentan terdampak perubahan iklim. Selain membantu ekonomi keluarga, daerah tersebut juga memanfaatkan tanaman kopi sebagai tanaman mitigasi bencana.

Ketinggian daerah Dulamayo yang berada pada 827 meter di atas permukaan laut tidak akan mudah mengalami erosi atau tanah longsor jika ditanami kopi. Tanaman kopi dipercaya dapat menjaga struktur tanah untuk mencegah longsor.

Keputusan bijak masyarakat ini juga didukung oleh penjelasan dari para ahli. Seperti pernyataan Sabaruddin, dosen Konservasi Kehutanan Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo, kopi bisa dijadikan tanaman mitigasi bencana di hulu Gorontalo. Tanaman kopi juga tidak menghasilkan sedimentasi yang kerap memicu banjir.

Berdasarkan kajian penelitian dari Kementerian Pertanian, tanaman kopi atau pohon kopi terbukti efektif untuk mencegah terjadinya erosi. Hal tersebut disebabkan tanaman kopi memiliki tajuk batang yang berlapis sehingga mampu melindungi tanah dari tetesan air hujan secara langsung yang dapat mencegah terjadinya erosi.

Pohon kopi juga dapat mengikat tanah karena memiliki akar tunggang dengan ketebalan setengah meter serta akar lateral sepanjang 2 meter. Hal ini membuat tanaman kopi mampu menekan laju air di atas permukaan tanah.

Referensi: Mongabay | Ekuatorial  BNPB