Compulsive Buying Disorder, Penyakit Remaja Masa Kini?
Ilustrasi seseorang berbelanja

#FutureSkillsGNFI

Berbelanja merupakan rutinitas sehari-hari. Belanja tidak hanya sekedar menjadi hal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, melainkan juga dapat menjadi sarana hiburan dan aktivitas untuk menghilangkan kejenuhan.

Namun pada saat ini, belanja justru menjadi kegiatan menyimpang, karena dilakukan dengan cara yang berlebihan. Salah satu bentuk penyimpangan di masyarakat adalah compulsive buying.

Ilustrasi compulsive buying disorder | Sumber: Pixabay

Ilustrasi compulsive buying disorder | Sumber: Pixabay

Pernahkah GoodMates membeli barang karena barang tersebut terlihat lucu? Atau membeli barang, hanya karena tokoh idola merupakan ambassador barang tersebut?

Hati-hati! Bisa jadi GoodMates memiliki compulsive buying disorder.

Menurut Abramowitz, compulsive buying adalah aktivitas pembelian berulang kali karena adanya hal-hal yang tidak menentramkan hati (perasaan negatif).

Compulsive buying disebabkan adanya dorongan untuk membeli yang sangat kuat dan menarik, sehingga membuat seseorang kehilangan kesadaran dan kontrol dirinya.

Jika dipandang melalui ilmu psikologi, perilaku ini termasuk bagian dari gangguan mental loh, GoodMates!

Perilaku compulsive buying ini lebih banyak ditemukan pada usia remaja. Karena sesuai dengan rentang perkembangan usianya, usia remaja merupakan masa peralihan menuju dewasa. Dimana, ia ingin mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku yang dianggap sesuai dengan dirinya.

Yuk Kenali Indikator Compulsive Buying Disorder!

Dittmar menyebutkan, terdapat tiga indikator compulsive buying, yaitu: 1. Pembelian berlebihan yang tidak mempertimbangkan imbasnya di masa depan; 2. Kehilangan kendali; 3. Keinginan yang tidak tertahankan

Aku tebak, ketiga indikator tersebut pasti seringkali ada dalam diri GoodMates!

Lalu, Sebenarnya Apa Sih Penyebab dari Compulsive Buying Disorder?

Beberapa ahli meyakini, permasalahan utama dari compulsive buying ini terjadi karena gangguan neurologis. Pendapat lain juga menyatakan jika kondisi ini erat hubungannya dengan riwayat kekerasan atau kurangnya kasih sayang yang dialami para penderitanya pada masa anak-anak dahulu

Oleh karenanya, untuk menutupi kehampaan hidup tersebut, pastinya mereka akan mengalihkan hal itu dengan berbelanja barang yang mereka inginkan dengan harapan mereka akan merasa bahagia.

Ilustrasi uang di dompet yang semakin menipis | Sumber: Pixabay

Dalam jangka pendek, belanja memang memberikan kesenangan bagi seseorang. Namun, jika kegiatan ini berlangsung secara terus-menerus, tentu akan berakibat fatal bagi dompet.

Selain membuat isi dompet berkurang, perilaku negatif ini akan berdampak pada terbentuknya budaya konsumtif dan hedonisme seseorang. Compulsive buying disorder juga dapat menimbulkan kecemasan berlebih, stres, dan gangguan emosional.

Waduh, bahaya banget kan GoodMates!

Eits! Selain konsekuensi di atas, ternyata masih ada konsekuensi lainnya loh.

Perilaku compulsive buying disorder ini dapat menjadi pemicu ketegangan dan pertiakaian di dalam keluarga dan juga ada sikap ketergantungan untuk selalu melakukan pembelian kompulsif ketiak seseorang merasa stres dan gangguan lainnya.

Kebutuhan Terpenuhi, Tanpa Compulsive Buying

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk tetap memenuhi kebutuhan kita adalah dengan membuat daftar kebutuhan. Catat kebutuhanmu mulai dari kebutuhan primer hingga kebutuhan tersier. Kita juga perlu membuat schedule pembelian kebutuhan tersebut.

Supaya tidak termasik individu yang compulsive buying, kita harus menyadari bahwa kebutuhan lebih penting daripada keinginan. Dan apabila perilaku ini masih sulit dihindari, GoodMates dapat segera berkonsultasi ke profesional.

Walaupun masa remaja merupakan masa peralihan, kita harus tetap bisa mengontrol diri dan mengelola apapun yang kita butuhkan dengan baik. Hal ini bertujuan agar kita tidak terjebak dalam keadaan mental yang buruk, yang tanpa disadari kita ciptakan sendiri.

 

Referensi: Yoursay | Okadoc