Jangan Dihindari, Culture Shock Bagian dari Proses Pencapaian Karir!
Ilustrasi | Foto: Freepik

#FutureSkillsGNFI

Menempuh karir dan menempuh pendidikan bukan merupakan hal yang sama persis dalam prosesnya, ada perbedaan yang cukup signifikan di dalamnya, terutama dalam mengambil keputusan untuk menentukan tempat atau lokasi untuk menetap.

Bahkan, bagi sebagian orang yang bekerja tidak bisa memilih lokasi d imana mereka akan tinggal, hal ini bisa karena kontrak kerja dengan perusahaan ataupun hal tidak terprediksi, seperti pekerja yang bekerja sesuai dengan lokasi proyek.

Dalam penerapannya, hidup atau tinggal dalam suatu lingkungan atau tempat yang baru tidaklah mudah. Banyak hal yang tampak berbeda dengan sebelumnya, mungkin saja dalam proses adaptasi untuk sebagian orang akan terasa menyulitkan. Kondisi seperti ini biasa dikenal dengan culture shock.

Culture Shock dalam Karir
Ilustrasi | Foto: Kajian Pustaka

Seperti yang dialami oleh Ryan Dhamara, seorang advokat muda yang memulai karirnya dengan mengambil keputusan untuk berpindah lokasi. Semula tinggal di Indramayu, lalu pindah ke Jakarta. Selama perjalanan karirnya, Ryan harus mengunjungi lokasi lainnya yang ada di Indonesia, bahkan ia harus tinggal selama beberapa minggu.

“Dalam beberapa kasus, memang mengharuskan saya pergi ke objek lokasi untuk membedah dan mencari formula atau konstruksi hukum yang tepat untuk case tersebut. Itu bisa sampai berhari-hari atau bahkan seminggu lebih. Saya pun nggak bisa nolak karena sudah merupakan tanggung jawab," ujarnya.

Selain harus hidup sebagai seorang yang nomaden atau berpindah-pindah tempat untuk waktu cukup lama, Ryan mengalami beberapa kondisi yang cukup membuat dirinya merasa terstimulasi untuk melakukan kegiatan baru, hingga merasa berkecil hati terhadap hal yang sedang ia lakukan.

Ia bercerita, “Kalau awal pindah gitu kan pasti excited ya, penasaran sama lingkungan dan orang-orangnya. Tapi, ada beberapa moment atau titik tertentu saya merasa gelisah. Bahkan nggak nyaman dengan kondisi seperti ini, baik dari lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan bekerja."

Selama mengalami hal yang membuatnya tidak nyaman atau merasa anxiety, tentu saja itu akan mendorongnya untuk berpikir dan memilih, apakah akan terus mencoba beradaptasi atau menyerah begitu saja dan melawan arus hingga membuatnya merasa semakin jauh dari apa yang diinginkan?

Perasaan lelah atau anxiety dalam menghadapi lingkungan baru tentunya tidak bisa ia hindari. Setiap orang pasti akan mempertanyakaan kepada diri mereka tentang apa yang  dialami ketika segala sesuatunya tampak berbeda, hanya saja dalam pengelolaannya untuk setiap orang akan berbeda.

“Kalau udah ngerasa nggak nyaman atau merasa anxiety gitu, biasanya saya selalu berfokus sama tujuan utama saya melakukan ini. Motivasinya apa? Saya tracking apa saja yang udah dilalui.Masih sejauh apa sama tujuannya? Jadi, ketika lihat tracksnya dan progressnya, otomatis perasaan anxiety itu hilang, kembali ke perasaan excited,” terang Ryan.

Selama lima tahun menjalani karir yang ia impikan, memanglah butuh usaha dan pengorbanan yang besar. Namun, sebanding dengan apa yang akan ia peroleh, tak sedikit orang yang berhenti di tengah jalan dalam meraih impiannya karena mengalami culture shock dan tidak mengatasinya dengan tepat.

Dalam hal ini, selain dukungan dan motivasi dari diri sendiri, perlu pula dukungan dari keluarga maupun dari kerabat dekat. “Orang tua dan keluarga adalah alasan saya untuk terus mencoba. Saat motivasi dari sendiri belum cukup membuat saya yakin, mungkin sudah waktunya saya melihat ke belakang dan melihat orang yang selama ini selalu mendoakan dan mendukung saya. Apapun support yang dari mereka, itu cukup buat saya selalu ingat dan bersyukur karena ada di antara mereka. Itu cukup buat saya yakin untuk terus melanjutkan apa yang sedang saya lakukan.”

Hingga sekarang, Ryan sudah mengalami banyak perubahan yang cukup signifikan dalam perspektifnya menjalankan karir. Ia mampu menselaraskannya dengan bagaimana ia menjalani kehidupan. Dengan pengalamannya akan culture shock, ia juga tidak jarang mengambil keputusan yang cukup berisiko, tetapi dengan tujuan memperoleh pengalaman dan memperhitungkan dengan pengalaman sebelumnya, ia terus berani memperbaharui dirinya.

“Jadi, jangan pernah lelah. Apalagi takut untuk mencoba. Kita harus berani dalam mengambil keputusan untuk menjadi bisa. Bahkan, perlahan bisa expert akan suatu hal karena terbiasa. Semakin lama kita terjun dan mendalaminya, maka semakin terasahlah kemampuan kita.’

Bagi kamu yang sedang mengalami atau pernah mengalami culture shock, jangan pernah ragu untuk bercerita pada seseorang. Cobalah untuk mulai melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin dengan kamu mencoba suatu hal yang belum pernah kamu lakukan akan dapat membantu kamu untuk mengatasi perasaan anxiety. Mulai dari sekarang , coba liat segala sesuatunya dengan sudut pandang yang positif ya!

 

Referensi: Wawancara dengan Ryan Dhamara | Investopedia | Anthropology Matters | Unite for Sight

A multipotentialite