Mengulas Downfall: The Case Against Boeing Dokumenter Netflix Tentang Kecelakaan Lion Air
Poster film Downfall: The Case Against Boeing | Foto: Netflix

Netflix baru saja merilis film dokumenter berjudul "Downfall: The Case Against Boeing" pada 18 Februari 2022 lalu. Disutradarai oleh Rory Kennedy, film ini menempati posisi 10 besar dalam top 10 tayangan di Netflix Indonesia.

Sebelum hadir di Netflix, film ini tayang perdana di Festival Film Sundance 2022. Berdurasi 89 menit, film ini mengisahkan tentang dua kecelakaan jatuhnya pesawat dengan tipe Boeing 737 MAX yang terjadi dalam kurun waktu lima bulan.

Kita diajak untuk melihat sejarah perusahaan Boeing, dimulai dari kecelakaan yang pernah terjadi dan kejatuhan PR yang menarik atensi ke seluruh dunia penerbangan.

Tragedi yang pertama datang dari Indonesia, yakni jatuhnya pesawat Lion Air pada 29 Oktober 2018 silam. Pesawat dengan nomor penerbangan JT-610 jatuh ke laut Jawa, tepat 13 menit setelah lepas landas dari Bandara International Soekarno Hatta. Kecelakaan tersebut menewaskan kru dan penumpang yang berjumlah 189 orang.

Selang beberapa bulan, pada 10 Maret 2019 kecelakaan kembali terjadi menimpa Ethiopian Airlines dengan kode penerbangan 302. Pesawat jatuh di dekat kota Bishoftu saat meninggalkan Addis Ababa dan menewaskan 157 orang.

Dokumenter ini menyoroti sejumlah aspek terkait dugaan awal penyebab kecelakaan, terkuaknya sistem yang tidak disebutkan produsen pesawat secara terbuka, dan mendalami sisi emosional dari keluarga korban yang berjuang mencari keadilan

Perkara MCAS di dokumenter Downfall

Serpihan barang-barang korban pesawat Lion Air | Foto: Garry Lotulung/Kompas

Berpusat di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, Boeing didirikan oleh William Edward Boeing pada 1916. Boeing merupakan produsen pesawat terbang terbesar di dunia yang merancang, memproduksi, dan menjual pesawat terbang.

Di era penerbangan modern, kecelakaan pesawat sangat jarang terjadi dalam rentang waktu beberapa bulan. Terlebih lagi kedua pesawat Boeing 737 MAX tersebut masih terbilang baru diproduksi.

Pada mulanya pihak Boeing menyangkal hal ini dan mengatakan kecelakaan disebabkan oleh kelalaian pilot. Namun, berdasarkan hasil investasi yang ditemukan kecelakaan tersebut dipengaruhi oleh sistem kontrol dengan sensor yang salah (MCAS).

Sistem yang sangat penting ini ternyata sama sekali tidak diketahui oleh para pilot. Pihak Boeing yang tahu mengenai cacat desain ini memilih mengabaikannya. Sikap abai yang dilakukan oleh pihak Boeing dikarenakan perusahaan ingin menghemat anggaran sehingga tidak perlu memperbaiki kerusakan yang ada pada pesawat.

Dilansir dari The Hollywood Reporter, menurut laporan dari TARAM (Transport Airplane Risk Assessment Methodology) yang dilakukan oleh FAA (Federal Aviation Administration), pesawat Boeing memiliki kemungkinan risiko jatuh 15 kali selama masa hidupnya. Ironisnya, pesawat Boeing masih dipertahakan untuk mengudara.

Konklusi film Downfall

Ilustrasi pesawat Boeing | Foto: Netflix

Kennedy menyajikan dokumenter ini secara mendetail dengan informasi yang lengkap. Ia memilih narasumber dari pilot berpengalaman, mantan teknisi Boeing, jurnalis investigasi, keluarga korban, hingga istri pilot Lion Air untuk memberikan tanggapan mengenai peristiwa tragis dan menyedihkan ini.

Selain itu, Kennedy juga menjelaskan bagaimana pihak Boeing mencoba mengurangi sorotan media dengan mengalihkan fokus ke maskapai yang terlibat, pilot, bahkan negara itu sendiri. Dokumenter ini memperlihatkan dampak buruk yang ditimbulkan karena keserakahan korporasi.

Dokumenter ini sangat menarik untuk Goodmates tonton. Selain sajiannya yang informatif, ilustrasi dari beberapa animasi pun juga tak kalah bagus. Latar music yang dipilih juga mampu menjaga atmosfer tontonan. Selamat menyaksikan "Downfall: The Case Against Boeing" di Netflix!

Referensi: Cineverse | Kumparan | Cinemags | Kompas