Eco Enzyme, Cairan Serbaguna Hasil Olahan Sampah Rumah Tangga
Eco enzyme | Foto: Sustaination

Kita sering kali langsung membuang sampah dapur ke tempat sampah, lalu dibiarkan membusuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal, sampah dapur akan mengalami proses pembusukan dan mengeluarkan bau tidak sedap, juga mencemari lingkungan sekitar. Tahukah kamu bahwa sampah rumah tangga dapat diubah menjadi cairan serbaguna bernama eco enzyme?

Eco enzyme adalah cairan organik dengan melalui proses fermentasi sisa sampah organik, gula, beserta air. Cairan satu ini berwarna coklat gelap dengan aroma asam bercampur manis yang lumayan kuat.

Pada dasarnya, eco enzyme dapat mempercepat reaksi biokimia untuk memproduksi enzim yang bermanfaat dengan bahan baku sampah buah atau sayuran. Enzim dari “sampah” ini menjadi salah satu cara manajemen sampah, yang memanfaatkan sisa-sisa sampah dapur untuk sesuatu yang sangat bermanfaat.

Sekilas mengenai perjalanannya, Dr. Rosukon Poompanvong selaku pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand pertama kali mengembangkan dan mengenalkan istilah ini. Ia sendiri sudah aktif melakukan penelitian mengenai enzim selama lebih dari tiga dekade.

Uniknya, Dr. Rosukon tidak membuat hak paten atas hasil risetnya. Sebab, ia sendiri berharap semakin banyak pula orang yang mengenal dan memproduksi eco enzyme demi mengurangi jumlah sampah organik. Selanjutnya, ada Dr. Joean Oon dari Malaysia yang kemudian membantu menyebarluaskan informasi terkait segudang manfaat dari eco enzyme.

Eco Enzyme Punya Segudang Manfaat

Cairan pembersih | Foto: Clay Banks/Unsplash.com

Eco enzyme membawa sejumlah manfaat bagi kehidupan, terutama dalam ranah lingkungan. Pertama, kamu bisa menggunakannya sebagai cairan pembersih rumah, baju, bahkan buah dan sayur. Mengutip dari situs Waste4Change, eco enzyme mengandung asam asetat dan alkohol dari proses fermentasi yang berguna untuk membunuh bakteri dan kotoran.

Namun, perlu diperhatikan bahwa campuran eco enzyme dan air cukup untuk setiap kali ingin dipakai dengan maksimal waktu simpan selama 7 hari. Masa penyimpanan lebih dari seminggu akan menumbuhkan bakteri dan merusak keseluruhan larutan.

Kedua, eco enzyme juga boleh menjadi pupuk tanaman karena bisa menyuburkan tanah, membasmi hama, serta meningkatkan kualitas buah dan sayuran. Untuk penyajiannya, campurkan 30 ml cairan dalam 2 liter air, lalu semprotkan ke tanah atau langsung ke tanaman secukupnya.

Berikutnya, sudah pasti membantu pelestarian lingkungan sekitar. Pembersih komersial yang biasa kita temukan mengandung berbagai zat kimia semacam klorin, fosfat, dan nitrat yang berpotensi mencemari lingkungan.

Di sisi lain, dengan memanfaatkan cairan organik ini dalam kehidupan sehari-hari, kita secara tidak langsung sudah turut berkontribusi melestarikan lingkungan. Menakjubkan sekali bukan dapat menjaga bumi lewat cara yang sederhana?

Proses Pembuatan Eco Enzyme Tidak Sulit

Sampah organik | Foto: Simon Peel/Unsplash.com

Cara membuat eco enzyme rupanya sangat mudah. Kamu perlu menyediakan wadah plastik bekas kedap udara (botol, toples, atau jeriken). Plastik yang bersifat kaku akan mengurangi potensi ‘ledakan’, mengingat pembuatan eco enzyme merupakan proses fermentasi yang akan menghasilkan gas.

Siapkan pula air, gula, serta sampah organik dengan rasio 10:1:3. Ambil contoh, dengan 1000 ml atau 1 liter air, perlu 300 gram bahan organik sekaligus 100 gram gula.

Selain itu, siapkan pula sampah organik seperti kulit buah. Misalnya kulit buah dari apel, mangga, jeruk, lemon, atau jeruk nipis. Kamu juga dapat menggunakan sisa sayur dengan rekomendasi proporsi sisa buah dan sayur sebesar 80:20. Sebab, sampah sayur yang berlebihan akan mengakibatkan aroma eco enzyme menjadi kurang segar.

Selain itu, perhatikan pula penggunaan gula. Alangkah lebih baik jika kamu menggunakan gula merah atau aren ketimbang gula pasir. Pilihan terbaik lainnya adalah gula molase alias tetes tebu. Apabila bahan yang dibutuhkan sudah lengkap, ikuti langkah-langkah berikut ini.

  1. Tuang semua bahan ke dalam wadah plastik
  2. Campurkan air dan gula ke dalamnya. Pastikan jangan sampai penuh untuk menyisakan ruang untuk gas yang akan dihasilkan saat fermentasi
  3. Aduk ketiga bahan secara merata, lalu tutup wadah dengan rapat
  4. Simpan campuran tersebut di tempat kering dan sejuk selama 3 bulan
  5. Buka tutup wadah setiap hari (minggu pertama) untuk menghilangkan gas hasil fermentasi, lalu 2-3 hari sekali, dan seminggu sekali untuk minggu-minggu berikutnya
  6. Sesudah 3 bulan, saring cairan eco enzyme dengan saringan atau kain kasa
  7. Eco enzyme sudah siap dan sisa ampas bisa untuk pupuk kompos.

Itulah penjelasan mengenai eco enzyme, cairan hasil olahan sampah rumah tangga yang serbaguna. Sudah siap untuk membuat eco enzyme perdanamu?

Referensi: Zerowaste.id | Orami | Sustaination