Penguatan Ekosistem Filantropi dalam Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Para Penanggap Publikasi Indonesia Philanthropy Outlook 2022 | Foto: Filantropi Indonesia

Masyarakat Indonesia memang terkenal memiliki semangat kedermawanan. Bagaimana tidak? Saat berada di tengah pandemi, Indonesia justru kembali menerima peringkat pertama negara paling dermawan di dunia melalui World Giving Index 2021 yang dirilis oleh Charities Aid Foundation (CAF). Bahkan, selalu masuk dalam 10 daftar teratas selama 10 tahun terakhir.

Tentu Indonesia patut berbangga, kedermawanan masyarakatnya merupakan aset berharga. Jika pengelolaannya tepat, kegiatan filantropi ini memiliki berbagai potensi dalam pengembangan sektor kemanusiaan dan pembangunan sektor kesehatan di Indonesia.

Sinergi Filantropi sebagai Penggerak Utama Pencapaian TPB

Namun, dengan potensi besar tersebut, sejatinya proyeksi filantropi di Indonesia masih belum termasuk isu yang pemerintah perhitungkan sebagai penggerak utama untuk percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).

Akan lebih baik jika ada sebuah wadah yang merangkum perkembangan filantropi di Indonesia agar para pegiatnya saling bekerja sama mengidentifikasi peluang pengembangan program, pengaruh, dan kolaborasi dengan stakeholder lainnya.

Isu ini pun mendorong Filantropi Indonesia untuk mengadakan webinar “Filantropi HUB untuk Penguatan Ekosistem Filantropi dalam Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/SDGs” dalam bagian rangkaian acara FIFest 2022.

Sementara itu, FIFest 2022 (Festival Filantropi Indonesia) merupakan acara dwi tahunan, ajang para pemangku kepentingan untuk berbagi isu, inisiatif, inovasi, kebijakan, hingga praktik terbaik dari keterlibatan filantropi.

Webinar FIFest 2022 | Foto: Filantropi Indonesia

Menariknya, ada rangkaian forum diskusi yang mengangkat beragam topik. Tak hanya itu, ada pula diskusi mengenai inisiatif inovatif dari organisasi filantropi, baik nasional maupun internasional, serta multisektor lain yang mendukung pencapaian TPB.

Refleksi Perkembangan Lembaga Filantropi di Indonesia

Webinar FIFest 2022 | Foto: Filantropi Indonesia

Pada saat yang sama, turut meluncurkan Indonesia Philanthropy Outlook 2022, publikasi dari studi oleh Filantropi Indonesia dan Lembaga Riset KedaiKOPI selama Januari hingga Maret 2022 bertujuan menampilkan perkembangan filantropi terhadap percepatan pencapaian TPB di Indonesia. Publikasi dalam bahasa Indonesia tersebut dapat diunduh gratis melalui http://bit.ly/fifest-id, selagi menunggu edisi dalam bahasa Inggris.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI Kunto A. Wibowo, dalam webinar yang diadakan Senin (13/6) mengatakan, ada 7 (tujuh) area kemajuan yang ditemukan dalam studi, yakni meluasnya jangkauan aktivitas; meningkatnya pengumpulan dan pendayagunaan dana sejalan dengan kenaikan jumlah penerima manfaat; menguatnya sinergi antara aktivitas filantropi dan TPB dan inovasi penggalangan dana; serta berkembangnya perusahaan filantropi dan yayasan keluarga untuk lebih independen.

Bagi Didik Suhardi, Ph.D., Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental Pemajuan Kebudayaan dan Prestasi Olahraga - Kemenko PMK, berbagai kemajuan filantropi tersebut tidak bisa lepas dari budaya gotong royong yang melekat dalam diri bangsa Indonesia.

Sebaiknya, kegiatan filantropi tidak hanya terpusat di Jakarta. Perlu memfasilitasi kepedulian masyarakat daerah yang ingin terlibat. Kuncinya adalah kolaborasi sehingga ada transparansi pembagian tugas antara pemberi dan penerima manfaat. Dengan begitu, semua elemen lebih semangat berkontribusi.

Webinar FIFest 2022 | Foto: Filantropi Indonesia

Senada, Direktur Yayasan Hadji Kalla M. Zuhair menegaskan bahwa filantropi bukan hanya soal mengumpulkan dana, tetapi mengenai penyaluran dan akuntabilitas yang transparan.

“Kolaborasi konstruktif bisa dilakukan dengan bersinergi antara lembaga di Filantropi HUB agar mencapai SDGs yang berdampak di masyarakat,” demikian ujar Vivi Yulaswati, Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, dan Kepala Sekretariat Nasional SDGs.

Sudah saatnya menggencarkan dukungan organisasi non pemerintah untuk menyentuh lebih banyak akar rumput dan melibatkan kelompok rentan, seperti anak muda, untuk menjalankan prinsip yang mengarah pada pencapaian TPB 2030.

Lebih lanjut, menurut Amelia Fauzia selaku Direktur Eksekutif Social Trust Fund UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, telah menunjukkan peningkatan, pemerataan, dan tantangan dunia filantropi. Di Indonesia sudah terlihat transformasi praktek filantropi jangka panjang, lebih berkelanjutan dalam pemanfaatan dan pengelolaannya. Program prioritas berjalan sangat baik dan sejalan, telah menggunakan 84,9% SDGs.

Meski demikian, Direktur Yayasan Bakti Barito Dian A. Purbasari menganggap ada hal yang perlu dicatat, yaitu isu perubahan iklim. Walaupun seiring waktu semakin banyak organisasi filantropi yang menjawab isu ini, sebaiknya tetap mengukur pengaruh kegiatan tersebut, seperti mitigasi perubahan iklim, permasalahan pangan, atau konservasi.

Nyatanya, tantangan kemitraan filantropi di lintas sektor adalah perspektif mengenai kesepahaman agar kolaborasi kian lancar. Maka, perlu data sharing yang menjembatani berbagai data yang tidak serupa sehingga kolaborasi berjalan efektif.

 

Referensi: Filantropi Indonesia

Editor GoodSide
Karyawan Swasta

Never to young to grow