Fast Fashion Penyebab Perubahan Iklim, Kok Bisa?
Ilustrasi | Foto: Freepik.com

Hi Kawan!

Fast fashion merupakan fenomena dalam industri fesyen dengan mengeluarkan berbagai koleksi mode siap pakai. Dimana, dalam fenomena fast fashion ini, berbagai perusahaan industri fesyen akan mengeluarkan koleksi mode terbarunya tiap pergantian musim atau bahkan tiap satu bulan sekali yang dijual dengan harga murah.

Fenomena fast fashion ini turut berperan besar dalam merusak lingkungan. Hal ini disebabkan karena pergantian koleksi mode secara terus-menerus. Apabila sudah berganti koleksi, maka koleksi mode sebelumnya akan dibuang dan menumpuk menjadi limbah yang sulit diuraikan.

Menurut www.fastcompany.com dalam Leman, dkk (2020), sebanyak sepuluh persen kerusakan di bumi disebabkan oleh pewarnaan dalam pakaian dan pengolahan lainnya. Selain itu, apa saja sih penyebab kerusakan lainnya?

  • Dilansir dari Zona Utara (2021), dalam pebuatan 1 kemeja kain katun diperlukan 2.700 liter air yang mana hal ini sama seperti kebutuhan akan air bersih manusia selama 2 tahun. Lalu bagaimana dengan pembuatan satu koleksi mode yang berisi banyak pakaian? Tentu saja akan membutuhkan lebih banyak air.
  • Penggunaan energi yang besar seperti energi listrik, menyebabkan meningkatnya pancaran emisi karbon dioksida (CO2) yang dapat berakibat pada peningkatan pemanasan global dan perubahan intensitas fenomena cuaca lainnya.
  • Dalam pemberian warna, pemberian cetakan gambar atau tulisan (penyablonan), dan penyelesaian proses (finishing) pada produk pakaian banyak menggunakan bahan kimia yang mengandung racun. Bahkan nantinya, limbah dari bahan kimia tersebut langsung dialirkan ke sungai yang akan diteruskan ke laut tanpa diolah terlebih dahulu. Nah, proses ini tentu menyebabkan pencemaran air serta rusaknya ekosistem yang berada di dalam air.
  • Dalam pembuatan pakaian, terdapat dua bahan kain yang digunakan, yaitu kain non-sintetis dan kain sintetis. Adapun, kain non-sintetis yakni wool, katun, linen, dan lainnya. Lalu ada kain sintetis di antaranya polyester, spandeks, nilon, dan lainnya. Tahukah Kawan? Bahan dasar dari kain sintetis adalah plastik yang berasal dari minyak (minyak mentah atau minyak bumi) dan gas (gas alam atau gas bumi), tentu saja bahan dasar ini merupakan bahan yang sulit diuraikan oleh lingkungan secara alami. Ketika kita mencuci pakaian dengan bahan dasar sintetis, pakaian kita akan meluruhkan sejumlah besar serat mikro (microfiber). Perlu diingat, setidaknya ada lebih dari 1900 serat per cuci dalam satu item pakaian. Microfiber yang hanyut ke perairan ternyata mencemari dan menambah kadar plastik di laut, lho.

Bentuk dari penimbunan pakaian yang tidak terpakai

  • Penimbunan pakaian yang sudah tidak terpakai sama halnya dengan limbah makanan. Apabila ditimbun secara besar-besaran tanpa dikelola, timbunan ini mampu mengeluarkan gas metana rumah kaca yang dapat meledak atau terbakar kapan pun karena sifatnya yang panas.

Penyebab kerusakan lingkungan akibat fenomena fast fashion yang telah disebutkan diatas, akan semakin berdampak buruk bagi kelangsungan kehidupan di bumi apabila tidak segera ditangani.

Adapun hal yang dapat kita lakukan yakni dengan mengurangi pembelian pakaian dan menggunakan pakaian lama kita. Ataupun jika kita sangat menginginkan pakaian baru, kita dapat melakukan thrifting atau berbelanja barang bekas. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya kita berkontribusi dalam mengurangi perubahan iklim.

 

Referensi:

Leman, F. M., Soelityowati, Purnomo, J., & Fashion, M. (2021). Dampak Fast Fashion Terhadap Lingkungan. Seminar Nasional Envisi 2020: Industri Kreatif, 128–136. Retrieved from www.fastcompany.com

Tahukah Anda bahwa Fashion Berkontribusi pada 10 Persen Emisi Karbon di Dunia? (n.d.). Retrieved June 5, 2022, from https://zonautara.com/2021/11/16/tahukah-anda-bahwa-fashion-berkontribusi-pada-10-persen-emisi-karbon-di-dunia/

Saya adalah mahasiswi aktif jurusan Psikologi di Universitas Airlangga yang antusias dalam membahas topik di bidang Kesehatan Mental, Lingkungan, Kesetaraan Gender, dan Feminisme.