Filosofi Bijak di Balik Kuliner Tradisional Jawa
Jajan pasar tradisional Jawa | Foto: Chowhound/Netflix

Makanan tradisional Jawa merupakan salah satu kuliner yang hingga kini masih eksis dan dinikmati banyak orang. Salah satu serial dokumenter Netflix berjudul “Street Food” pernah mengangkat topik kuliner tradisional Jawa, yaitu jajan pasar ke dalam salah satu episodenya.

Dalam tayangan tersebut, dijelaskan bahwa makanan tradisional Jawa cenderung memiliki warna alam seperti putih, cokelat, dan hijau. Hal ini tentu saja menarik karena kebudayaan Jawa memang sering memiliki filosofi tersendiri di balik keberadaannya.

Dikutip dari jurnal Manuskripta, makanan tradisional merupakan fenomena kebudayaan. Artinya, kemunculan makanan tradisional tidak terjadi begitu saja. Nyatanya sudah ada sejak zaman dahulu dan menjadi peninggalan dari zaman yang sudah ditinggalkan, kemudian diteruskan turun-temurun antargenerasi.

Dalam kebudayaan Jawa, beragam jenis makanan tradisional sudah disebutkan dalam karya kesusastraan, seperti Serat Centhini dan Serat Goenandrija. Menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dari dulu hingga kini, kuliner tradisional Jawa erat kaitannya dengan ritual adat untuk memperingati tahapan hidup manusia, seperti kelahiran dan pernikahan.

Ritual adat yang masih bisa ditemukan di masa kini di antaranya ritual bersih desa (merti desa), peringatan maulid Nabi Muhammad SAW (sekaten), serta ritual adat memperingati kelahiran (mitoni, brokohan), dan pernikahan (midodareni). Dalam tiap ritual, pilihan makanan yang disediakan biasanya berbeda karena disesuaikan dengan filosofinya.

Bukan tanpa sebab, ternyata kuliner Jawa bukan hanya sekadar makanan. Banyak di antara makanan tersebut yang memiliki filosofi dan makna mendalam. Penasaran ada apa saja? Berikut beberapa makanan tradisional Jawa yang memiliki filosofi.

1. Lontong

Lontong | Foto: Sajiansedap.grid.id

Berwarna putih dan biasa dibungkus dengan daun pisang, lontong biasa disajikan dalam berbagai macam bentuk hidangan seperti soto dan rujak sebagai pengganti nasi. Lontong memiliki filosofi olone dadi kothong. Bila diterjemahkan, artinya adalah “kesalahannya menjadi tidak ada (kothong).

Filosofi ini merujuk pada bulan Ramadan. Pada bulan tersebut, umat muslim diwajibkan berpuasa dan beribadah selama sebulan penuh untuk menggugurkan segala dosa atau kesalahan.

2. Lemper

Lemper | Foto: iNews

Sama-sama dibungkus menggunakan daun pisang seperti lontong, lemper merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan dan biasanya diisi dengan suwiran ayam. Filosofi dari penamaan lemper adalah yen dialem, atimu ojo memper. Artinya, “jika dipuji, hatimu jangan sombong.”

Lemper biasa disajikan dalam berbagai acara, seperti pengajian dan resepsi pernikahan. Rasanya yang gurih dan mengenyangkan membuat makanan ini jadi favorit banyak kalangan.

3. Apem

Apem | Foto: @rulykartika/Cookpad

Apem merupakan kue tradisional yang mirip seperti serabi namun lebih padat. Bentuknya bulat dan biasanya ditambahkan buah seperti nangka. Bagian bawahnya berwarna cokelat dengan tekstur krispi.

Uniknya, penamaan apem berasal dari kosakata Arab, afwun, yang berarti permintaan maaf. Konon, orang zaman dahulu memberi apem kepada tetangganya sebagai bentuk permintaan maaf. Hal itu juga yang menjelaskan cita rasa apem yang manis.

4. Klepon

Klepon | Foto: Rinaresep.com

Tidak terletak pada penamaannya, filosofi makanan berbentuk bulat kecil ini terletak pada tekstur dan proses pembuatannya. Tekstur klepon yang bulat sempurna ini bila digigit akan membuat penikmatnya merasakan manisnya gula jawa yang lumer di lidah. Hal ini menunjukkan tampilan luar yang “sederhana” namun memiliki isi yang manis di dalamnya.

Selain itu, proses pembuatan klepon yang harus direbus dalam air mendidih untuk kemudian muncul di permukaan. Siap ditiriskan memiliki arti bahwa untuk menjadi seseorang yang lebih baik, terkadang kita harus menempuh suatu perjalanan yang sulit (digambarkan dengan air mendidih).

5. Makanan yang terbuat dari beras ketan

Wajik | Foto: @popoji_kitchin/Cookpad

Terdapat beberapa makanan tradisional Jawa yang dibuat dari beras ketan seperti wajik, jadah, dan jenang. Jenis kuliner ini biasanya dihidangkan dalam acara pernikahan. Teksturnya yang lengket menunjukkan harapan bahwa pasangan pengantin akan senantiasa “lengket” satu sama lain.

Selain itu, proses pembuatan makanan semacam ini biasanya memerlukan waktu yang lama dan kesabaran tinggi karena harus diaduk terus menerus dalam wajan. Hal ini diterjemahkan menjadi pesan bagi kedua mempelai, untuk selalu sabar dalam menghadapi cobaan yang ada dalam kehidupan berumah tangga.

Tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan hidup, makanan tradisional adalah salah satu sarana untuk mempertahankan nilai-nilai luhur suatu kebudayaan. Meski saat ini makanan tradisional mulai bertransformasi menjadi makanan yang lebih modern, keberadaannya harus senantiasa kita lestarikan agar tidak hilang begitu saja.

Referensi : Jurnal Manuskripta | Boombastis | Fimela | Narasi Inspirasi