Gawat! Kapas Sekali Pakai Ancam Kesehatan dan Lingkungan
Ilustrasi menggunakan kapas sekali pakai | Foto: Pexels

Make up biasa dipakai sehari-hari untuk membuat wajah terlihat lebih segar dan flawless. Rutinitas memakai make up tentu harus diimbangi dengan perawatan wajah. Salah satu hal yang penting adalah menggunakan kapas untuk membersihkan. Namun, amankah kapas bagi lingkungan?

Sebelum membahas lebih lanjut, pernahkah kamu mendengar istilah double cleansing. Double cleansing merupakan kegiatan pembersihan wajah yang terdiri dari dua tahap menggunakan produk berbeda. Produk ini tentunya juga memiliki kandungan bahan yang berbeda dan memiliki fungsi masing-masing.

Tahap pertama adalah membersihkan wajah dengan menggunakan produk berbahan dasar minyak (cleansing oil), susu (cleansing milk), atau air (micellar water). Baru setelahnya, kita akan membersihkan wajah kita dengan sabun pembersih.

Dalam tahap pembersihan wajah atau cleansing, kita memerlukan produk kapas. Kapas dapat membantu kita untuk mengusap bersih sisa debu, kotoran, dan make up dari wajah kita. Namun, tahukah kamu bahwa kapas sekali pakai ternyata dapat menghasilkan dampak buruk bagi lingkungan?

Ancaman kapas bagi lingkungan

Ilustrasi double cleansing menggunakan kapas | Foto: Pexels

Sampah kapas termasuk dalam kategori sampah organik, yang membuatnya lebih mudah terurai di alam. Dikutip dari pernyataan Novrizal Tahar selaku Direktur Pengelolaan Sampah, sampah kapas dikelola di sistem landfill supaya tidak menimbulkan dampak merugikan bagi lingkungan.

Landfill merupakan proses pengolahan sampah yang membutuhkan lahan sebagai tempat pembuangan akhir. Kebutuhan ini dapat memengaruhi lingkungan, seperti memburuknya kualitas tanah dan air, yang juga dapat memengaruhi kesehatan warga di sekitar lahan tersebut.

Oleh karena itu, semakin banyak sampah kapas yang kita gunakan, semakin banyak pula lahan yang harus diambil untuk mengelola sampah kapas. Dilansir dari World Wide Fund (WWF), jumlah air yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram kapas mampu memenuhi kebutuhan satu air minum bagi satu orang untuk tiga tahun, lo! Wah, enggak main-main, ya, penggunaannya?

Ancaman kapas bagi kulit wajah

Ilustrasi jerawat | Foto: Freepik

Selain mengancam lingkungan, ternyata kapas sekali pakai juga bisa mengancam kesehatan wajah. Dr. Johan Kartayana M.Ked, Sp. KK menyatakan bahwa dalam pembuatannya, kapas menggunakan proses pemutihan. Proses pemutihan ini sangat berbahaya bagi kulit sensitif apabila digunakan terus-menerus.

Kapas dibuat dari tanaman yang disiram oleh cairan pestisida. Racun yang tertinggal ini bisa menempel dan masuk ke pori-pori wajah.

Permukaan kapas yang sedikit kasar juga memiliki kemampuan yang kurang baik dalam menyerap kotoran. Tekstur tersebut dapat meninggalkan sisa kotoran pada wajah yang menjadi salah satu penyebab munculnya jerawat.

Alternatif kapas sekali pakai

Ilustrasi reusable cotton pads | Foto: Pexels

Banyaknya dampak negatif yang dihasilkan oleh kapas sekali pakai, membuat kita berpikir ulang untuk menggunakan produk tersebut. Namun, tenang saja! Ada produk lain yang dapat kamu gunakan sebagai pengganti kapas sekali pakai.

Reusable cotton pad atau kapas yang dapat digunakan kembali jawabannya. Kapas reusable ini tentunya dapat digunakan kembali sesuai dengan namanya. Kapas ini berbentuk lingkaran yang terbuat dari kain dan memiliki dua sisi dengan diameter mencapai 6 sampai 7 sentimeter.

Penggunaan kapas ini tentunya aman. Seorang dermatolog bernama Joshua Zeichner menyatakan bahwa penggunaan cotton pads ini akan aman apabila kamu setiap hari selalu membersihkannya.

Kapas ini juga bisa membantumu untuk menghemat, lo! Secara sederhana, jika biasanya kamu menggunakan 6 kapas dalam sehari, berarti dalam satu minggu kamu sudah menghasilkan 48 sampah kapas dalam satu minggu.

Dengan menggunakan reusable cotton pads, kamu tidak perlu lagi membeli kapas tiap bulannya. Yuk, pikirkan ulang produk perawatan wajahmu dan beralih ke reusable cotton pads agar kapas yang kamu pakai tidak mencemari lingkungan.

Referensi: sustaination | Jakartamedia | Journal SociollaHypegrid