Rasanya Menjadi Guru Saat Pandemi di Batas Utara Indonesia
Akbar dan Siswanya Sebelum Pandemi | Foto: Muhammad Fakhrully Akbar

#FutureskillsGNFI

Meskipun bukan pertama kalinya mengikuti kegiatan sukarela, tetapi pengalaman mengajar di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara akan seterusnya diingat oleh Muhammad Fakhrully Akbar. Bagaimana tidak? Berbeda dengan kegiatan sukarela lainnya yang diikuti sebelumnya, kali ini ia dihadapkan dengan disrupsi pandemi Covid-19.

Akbar, begitu biasa disapa, berkesempatan menjadi Pengajar Muda Angkatan XIX yang diselenggarakan oleh Indonesia Mengajar di tahun yang sama dengan ia lulus dari Universitas Indonesia, 2019.

Ia memulai masa baktinya di SDN No. 002 Lumbis Ogong, Desa Sukamaju, Kecamatan Lumbis Ogong pada 5 Desember 2019 hingga 28 Februari 2021. Di antara rentang waktu tersebut, Akbar hanya sempat mengajar tatap muka di kelas selama tiga pekan. Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia menghasilkan kebijakan pembatasan sosial, tidak terkecuali di desa Akbar ditempatkan yang termasuk daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Tampak depan SDN No. 002 Lumbis Ogong. | Foto: Muhammad Fakhrully Akbar

Di tiga pekan pertama mengajar, Akbar tidak merasakan kendala yang berarti. Wajar saja, selain pelatihan intensif yang diperoleh dari Indonesia Mengajar sebelum keberangkatan, ia juga telah beberapa kali menjadi pengajar sukarela di beberapa daerah. Sebut saja sedikit di antaranya yaitu di Kabupaten Lombok Utara bersama Komunitas Kita Untuk Indonesia pada tahun 2019, Kabupaten Sukabumi bersama Gerakan Sukabumi Mengajar pada tahun 2019, dan di Banten bersama Gerakan Banten Mengajar pada tahun 2018.

Akan tetapi, baru kali ini ia "dilarang" masuk kelas. Tidak ada teori yang dipelajari dari pelatihan intensif yang mampu menjawab masalah ini. Pun, tidak ada pengalaman dari kegiatan mengajar sebelumnya yang dapat diadopsi langsung. Tanpa aba-aba, Akbar dipertemukan dengan peraturan saat ia justru tidak boleh berada di ruang kelas dengan siswa.

Mengajar jarak jauh menggunakan konferensi video–seperti yang banyak diterapkan di Pulau Jawa–bukanlah pilihan. Terbatasnya kepemilikan ponsel cerdas oleh keluarga siswa serta jaringan internet yang tidak stabil menjadi penghalang.

"Kalaupun ada yang punya smartphone, biasanya dipakai gaming doang," kata Akbar menyayangkan.

Durasi libur yang lama menimbulkan kekhawatiran untuk Akbar, meskipun Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan saat itu belum mengatur kejelasan kegiatan belajar mengajar. "Guru-guru asli, kan, juga punya anak yang sekaligus siswa. Jadinya, secara umum ya fokus ke anaknya masing-masing," tuturnya.

Di sinilah kemampuan observasi dan pengambilan keputusan Akbar memainkan perannya. Bersama kawan-kawan Pengajar Muda lain yang ditempatkan di desa-desa berdekatan, ia kemudian bertukar pikiran untuk berusaha menemukan solusi dari masalah tersebut.

"Di awal pandemi udah coba ngajar di balai adat (karena gedungnya terbuka). Tapi terus dilarang sama Puskesmas, takut covid itu," lanjutnya.

Kekhawatiran Puskesmas sendiri cukup masuk akal. Sebab seperti halnya pendidikan, kualitas fasilitas kesehatan di Indonesia juga belum merata. Akan tetapi transfer ilmu tentu tidak seharusnya berhenti begitu saja.

Akbar kemudian mencoba cara baru, yaitu mendatangi rumah tiap siswa satu persatu untuk mengajar. Apalagi, Akbar mulai mendapatkan keluh kesah dari wali murid yang bertanya perihal kapan sekolah dimulai. Mereka merasa kesulitan mengondisikan anak masing-masing untuk berkonsentrasi dan disiplin belajar di rumah.

Namun, format pengajaran dari pintu ke pintu ini pun bukannya tanpa masalah. "Semangat dan kesadaran siswa sebelum dan saat pandemi jadi berbeda. Banyak siswa yang nggak ada di rumah saat kunjungan. Beberapa keluar dan main sama teman-temannya. Banyak juga yang diajak orang tuanya pergi jauh, kayak menginap di rumah kerabat di desa tetangga. Dan itu nggak sehari dua hari. Padahal, mereka (wali murid) juga yang pas ketemu tuh, nanyain, 'kapan sekolah lagi, Pak?'," jelas Akbar.

Persoalan ekonomi dan pola pikir setiap keluarga pun menjadi ganjalan lain. Terang Akbar, tidak sedikit wali murid yang selama pandemi membawa anaknya ke kebun sawit untuk membantu bekerja. "Kata orang tuanya, daripada di rumah nggak sekolah, mending kerja di kebun."

Kendati demikian, Akbar tetap mengusahakan untuk mengajar sebisa mungkin di waktu yang dapat dikatakan terbatas. Akbar masih menyimpan harapan agar siswa tidak tertinggal pelajaran terlalu jauh dan kehilangan semangatnya. Sebab secara umum, mengutip Akbar, keinginan dan cita-cita siswa di lokasi penugasannya untuk belajar tidak jauh berbeda dengan siswa di Jawa yang jauh lebih memiliki privillege. Namun menurutnya, tidak jarang semua itu jadi melemah karena beberapa guru kurang memaksimalkan fungsinya.

"Sekolah di sana mulai ada tatap muka terbatas itu baru sekitar Desember 2020, aku sudah mau pulang. Itu nggak efektif soalnya sering cuma masuk kelas sebentar terus siswanya dipulangkan sama guru-guru," ungkapnya.

Pandemi ini, menurutnya, seharusnya mampu memberikan kesadaran kepada banyak kalangan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru. Banyak elemen lain yang terlibat, seperti orang tua, pemerintah, bahkan masyarakat sekitar. Setiap pihak memiliki perannya masing-masing.

Kepada yang berminat menjadi pengajar muda, Akbar berpesan agar selalu siap dengan berbagai kondisi. Lantaran, hal-hal tidak ideal bisa selalu terjadi. Ia bahkan pernah dalam sehari mengampu empat kelas karena harus menggantikan guru-guru yang tidak masuk dengan berbagai sebab.

"Tinggalkan ekspektasi dalam bentuk apapun. Bersihkan juga niat untuk sungguh-sungguh berkontribusi pada Indonesia. Karena dalam penugasan ini selain akan ada senang, rindu, juga ada sedih serta kekecewaan dan itu manusiawi. Kadang ada yang kaget waktunya setahun. Tapi kalau bisa menikmati, ketika selesai tuh 'oh, ternyata cuma bentar, nggak kerasa'," pungkasnya.

 

Referensi: Wawancara Pribadi | Profil Pengajar Muda Muhammad Fakhrully Akbar