Hari Raya Nyepi: Prosesi Hingga Implementasi Toleransi
Umat Hindu bersembahyang | Foto: Pexels

Umat Hindu akan menjalankan hari raya Nyepi pada Kamis (3/3/2022). Nyepi adalah hari raya keagamaan yang diperingati setiap Tahun Baru Saka atau jatuh pada Tilem Kesanga. Nyepi sendiri dilihat sebagai momentum perenungan diri dari apa yang sudah dilalui.

Nyepi adalah upacara agama yang sudah dilakukan turun temurun oleh umat Hindu, khususnya di Bali. Seperti namanya, Nyepi berarti sepi. Umat Hindu akan menghentikan segala aktivitas yang biasa dilakukan sehari-hari dalam rentang waktu 1 hari atau 24 jam penuh.

Nyepi identik dengan suasana yang hening, senyap, dan sepi. Di Bali, tidak ada aktivitas masyarakat sama sekali, baik bekerja atau hanya pergi keluar rumah.

Sejarah Hari Raya Nyepi

Umat Hindu | Foto: Unsplash

Nyepi sudah dirayakan sejak tahun 78 masehi. Hari raya ini merupakan perayaan dari Tahun Baru Saka, kalender yang digunakan oleh umat Hindu sebagai acuan penanggalan.

Sejarah Nyepi bermula dari pertempuran panjang yang terjadi di India antar beberapa suku, termasuk suku Saka. Namun, suku Saka yang memenangkan pertempuran tersebut. Alih-alih menghancurkan musuhnya, raja suku Saka merangkul semua musuh.

Raja suku Saka merangkul musuh-musuhnya dan kemudian membentuk kerajaan besar dengan kebudayaan yang beragam. Ini menjadi asal-muasal Hari Raya Nyepi, sebagai hari kebersamaan, kebaruan, kebangkitan, kedamaian, hingga kerukunan.

Prosesi Hari Raya Nyepi

Ogoh-Ogoh | Foto: @keduxgarage/Instagram

Perayaan Nyepi berlangsung dalam beberapa prosesi. Mulai dari Melasti, Tawur Kesanga atau Pengerupukan, Hari Raya Nyepi, dan Ngembak Geni. Masing-masing prosesi memiliki makna tersendiri.

Melasti dilaksanakan dua hari sebelum Hari Raya Nyepi. Pada upacara ini, umat Hindu akan bersembahyang yang dilakukan di areal segara atau laut. Upacara ini bertujuan untuk melebur segala kotoran dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Selain membersihkan diri, upacara Melasti juga prosesi pembersihan dan penyucian benda-benda sakral milik tempat ibadah Hindu. Nantinya, benda tersebut akan diarak mengelilingi desa untuk menyucikan desa tersebut.

Sehari setelah Melasti, akan dilakukan upacara Tawur Kesanga. Upacara ini identik dengan kegiatan pengarakan Ogoh-ogoh yang diarak mengelilingi desa. Ogoh-ogoh adalah boneka raksasa yang berbentuk menyeramkan.

Ogoh-ogoh adalah representasi dari sifat buruk manusia. Pada akhir kegiatan, Ogoh-ogoh akan dibakar sebagai lambang sifat jahat manusia yang akan dilenyapkan selama ritual Nyepi. Disini juga akan dilakukan kegiatan Mecaru sebagai pembersihan alam.

Keesokan harinya, umat Hindu akan menjalankan Catur Brata Penyepian sebagai bentuk perayaan Nyepi. Catur Brata Penyepian adalah empat pantangan yang harus dilakukan dalam rangka menyucikan diri dari semua hal buruk.

Catur Brata Penyepian terdiri dari Amati Gni (tidak boleh menyalakan api, listrik, atau sejenisnya), Amati Lelungan (tidak boleh berpergian), Amati Lelanguan (tidak boleh bersenang-senang, atau berpesta), dan Amati Karya (tidak boleh bekerja).

Keempat pantangan tersebut dilakukan dalam rentang waktu satu hari atau 24 jam penuh. Catur Brata Penyepian biasanya dilakukan sejak pukul 06.00 pagi waktu setempat hingga keesokan harinya.

Dan prosesi terakhir adalah Ngembak Geni. Di hari ini, menandakan berakhirnya prosesi Catur Brata Penyepian. Ngembak Geni berarti bebas menyalakan api kembali. Ini berarti aktivitas bisa dilakukan seperti biasa kembali.

Fakta menarik saat Hari Raya Nyepi

Upacara agama di Bali | Foto: Pixabay

Prosesi Nyepi yang memaksa umat untuk menghentikan aktivitas dalam sehari penuh, ternyata menginspirasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membuat hari World Silent Day. World Silent Day bertujuan untuk mengurangi global warming dengan menghentikan penggunaan listrik pada pukul 10.00 hingga 14.00 waktu setempat.

Nyatanya, perayaan Nyepi memang menjadi ajang untuk penghematan penggunaan listrik, khususnya di Bali. Di Tahun 2019, terjadi penghematan listrik sebanyak 60 persen atau 290 Megawatt. Jika dirupiahkan, nilainya sekitar 4 miliar rupiah.

Implementasi toleransi

Illustrasi toleransi | Foto: Pixabay

Seperti yang diketahui, tidak semua orang di Bali beragama Hindu, melainkan juga terdapat beberapa umat beragama lain. Namun, semua masyarakat Bali dari seluruh Agama menunjukan sikap toleransi dengan ikut menaati Catur Brata Penyepian.

Tidak satupun masyarakat Bali keluar rumah, ataupun membuat kebisingan. Ini juga tidak terlepas dari bagaimana sikap saling menghormati yang ditunjukan masyarakat non-Hindu untuk menjaga kekhusyukan umat Hindu dalam menjalankan upacara Nyepi.

Meski demikian, toleransi juga ditunjukan kepada umat beragama seperti kepentingan untuk beribadah. Seperti contoh pada tahun 2016, di saat Hari Raya Nyepi, Umat Islam juga menjalankan Sholat Gerhana Matahari.

Atas arahan perangkat setempat, Umat Islam diijinkan untuk menjalankan Sholat di Masjid dengan tetap menghargai Umat Hindu yang menjalankan Catur Brata Penyepian. Contoh lain banyak ditemukan beberapa masyarakat non-Hindu yang turut menjaga ketertiban. Beberapa masyarakat membantu Pecalang (polisi adat di Bali) untuk bahu-membahu menertibkan pelaksanaan Catur Brata Penyepian di Bali.

Seperti itulah sejarah, perayaan, hingga implementasi dari Hari Raya Nyepi. Selamat Hari Raya Nyepi bagi Goodmates yang merayakan.

Referensi: Suara | Kumparan | Republika