Harus Tahu! Alasan Pentingnya Edukasi Seks untuk Anak Indonesia
Anak-anak Indonesia | Foto: Yannis H/Unsplash

Sebagai negara berbudaya Timur, edukasi mengenai seksualitas (sex education) masih menjadi suatu hal yang tabu untuk dibicarakan di Indonesia. Padahal, edukasi tersebut penting ditanamkan sejak dini karena memiliki banyak manfaat. Salah satunya untuk menekan angka kekerasan seksual.

Isu kekerasan seksual sendiri saat ini tengah menjadi krisis di Indonesia. Sepanjang Januari hingga Oktober 2021, pengaduan kasus kekerasan seksual di Komnas Perempuan mencapai 4.500 aduan.

Ironisnya, beberapa kasus tersebut terjadi kepada anak di bawah umur. Sebuah studi yang dilakukan oleh beberapa kelompok termasuk Lentera Sintas Indonesia menemukan bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia pernah mengalami kekerasan seksual, sebelum menginjak usia 16 tahun.

Oleh karena itulah, sudah saatnya kita melihat edukasi seks sebagai edukasi yang harus disampaikan kepada anak-anak, sama seperti jenis edukasi lainnya. Beberapa hal di bawah ini menguraikan alasan mengapa edukasi seks yang tepat dapat memberi banyak manfaat bagi perkembangan anak Indonesia.

Edukasi seks berkontribusi pada kehidupan sosial anak saat dewasa

Ilustrasi | Foto: Robert Collins/Unsplash

Masa kanak-kanak merupakan masa dimana pembentukan karakter terjadi. Edukasi seks yang diberikan sejak dini akan meluruskan pemahaman anak tentang perilaku seksual, serta membantu mereka untuk mengembangkan kehidupan sosial yang lebih positif.

Pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian Katharine Davies. Data penelitiannya menunjukkan bahwa 57 persen perempuan yang menerima edukasi seks sejak kecil, dapat menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia.

Edukasi seks melindungi anak dari dampak negatif perkembangan teknologi 

Anak-anak di masa kini sudah familiar dengan teknologi | Foto: August de Richeliu/Pexels

Di masa sekarang, teknologi informasi sudah berkembang pesat. Banyak anak di bawah umur yang bahkan sudah memiliki gawai pribadi. Hanya dengan sentuhan ujung jari, mereka dapat mengakses berbagai macam hal di internet tanpa filter.

Kenyataan tersebut membuat anak-anak sangat rentan terpapar oleh kejahatan seksual online, seperti pengiriman foto tidak senonoh. Tanpa adanya bekal edukasi seksual, kejahatan semacam ini akan membentuk konsepsi yang salah pada anak tentang seksualitas.

Mereka akan kesulitan untuk membedakan mana yang benar dan yang salah. Selain itu, mereka juga akan sulit memahami apa saja yang pantas dibagikan di sosial media dan tidak.

Perlu edukasi untuk mematahkan mitos di kalangan masyarakat 

Edukasi seks masih tabu bagi sebagian besar masyarakat | Foto: Mike Chai/Pexels

Banyak orang masih beranggapan bahwa edukasi seks justru akan mengundang bahaya kekerasan seksual itu sendiri. Padahal, penelitian yang dilakukan para pakar dunia justru membuktikan sebaliknya. Seseorang yang sudah memiliki edukasi seks sejak usia muda cenderung lebih bisa melindungi diri dari penyimpangan perilaku seksual.

Edukasi seks dapat dianalogikan seperti jas hujan. Kita membawanya untuk melindungi diri jika hujan terjadi, bukan untuk mengundang datangnya hujan itu sendiri. Oleh karena itu, mitos mengenai edukasi seks sebagai hal tabu sudah harus dikikis.

Edukasi seks di Indonesia sudah mulai digalakkan

Salah satu konten edukasi seks | Foto: @taulebih.id/Instagram

Kabar baiknya, sosialisasi mengenai pentingnya edukasi seks sudah mulai bermunculan dari kalangan anak muda Indonesia. Salah satunya datang dari Zhafira Aqyla, seorang influencer yang mendirikan platform @taulebih.id di Instagram untuk menyebarkan edukasi seks secara tepat dan komprehensif.

Dalam akun yang sudah diikuti oleh lebih dari 17 ribu orang itu, Zhafira membagikan berbagai macam konten mulai dari cara pengenalan alat reproduksi kepada anak-anak hingga cara menjaga alat reproduksi baik bagi pria maupun wanita. Menariknya, konten tersebut disajikan dengan grafis yang menarik dan menggunakan dua bahasa (Indonesia dan Inggris).

Penggalakan edukasi seks mungkin tidak lantas membuat kasus kekerasan seksual menjadi hilang seketika. Namun, edukasi menjadi media untuk mengubah keadaan lebih baik. Yuk, bersama mendukung pemberian edukasi seks sedini mungkin, guna mewujudkan Indonesia ramah anak dan bebas kekerasan seksual.

Referensi: Jurnal Humaniora | Very Well Health | CNN Indonesia | Kompas Regional