Hati-hati! Ada Bahaya di Balik Multitasking
Ilustrasi seseorang yang sedang multitasking. | Sumber: Plann/Unsplash

“Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali Work From Home, dua tiga online meeting dihadiri.” Mungkin Kawan sudah tak asing dengan peribahasa tersebut, tapi bagaimana dengan kalimat selanjutnya?

Semenjak pandemi, hampir semua kegiatan dialihkan menjadi kegiatan online (dalam jaringan/daring). Mulai dari bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, hingga kegiatan-kegiatan lainnya yang terkena dampak dari pandemi harus dikemas dalam bentuk acara virtual. Demi menghindari menciptakan keramaian sebagai upaya menekan penyebaran Covid-19, kini hampir semua kegiatan virtual memanfaatkan platform video conference untuk pelaksanaannya seperti Zoom Meeting dan Google Meet.

Bagi sebagian orang, kondisi ini memberikan kelebihan di antaranya seperti waktu berkegiatan yang lebih fleksibel. Bagi Kawan yang di kalangan pelajar, mungkin pernah mengikuti kelas pagi tetapi baru bangun dari tempat tidur dan belum sempat merapikan diri. Kondisi ini juga menyebabkan banyak orang mengaku bisa berkegiatan secara multitasking atau tugas ganda, yaitu melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam satu waktu. Salah satunya adalah double meet.

Sebagian dari Kawan mungkin akrab pada istilah “double meet”. Double meet dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan di mana melakukan atau menghadiri kegiatan online meeting lebih dari satu meeting pada waktu yang bersamaan. Sebagai contoh, pada perangkat yang satu sedang membuka Zoom meeting untuk rapat dengan organisasi A, lain halnya di gawai sedang membuka Google Meet untuk diskusi bersama kelompok belajar.

Bahaya yang mengintai di balik multitasking

Ilustrasi seseorang yang sedang melakukan double meet. | Sumber:  Gabriel Benois/Unsplash
Ilustrasi seseorang yang sedang melakukan double meet. | Sumber:  Gabriel Benois/Unsplash

Mungkin memang menyenangkan dapat mencoret lebih banyak daily to-do-list. Dalam satu waktu, Kawan dapat menghadiri dua pertemuan sekaligus tanpa perlu berpergian atau harus merasa bimbang menentukan pilihan rapat atau kegiatan mana yang harus dihadiri. Tetapi, ternyata melakukan multitasking tidak selalu baik lo.

Berdasarkan penelitian oleh the Institute of Psychiatry dari the University of London pada tahun 2005 lalu, multitasking dapat menyebabkan penurunan Intelligence Quotient (IQ) hingga 10 poin. Masih dari penelitian yang sama, penurunan ini sama besarnya dengan orang yang begadang dan dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan pengisap mariyuana. Hmm, sampai sini apakah masih berpikiran bahwa multitasking itu keren?

Menurut Guy Winch, penulis dari Emotional First Aid: Practical Strategies for Treating Failure, Rejection, Guilt and Other Everyday Psychological Injuries, kegiatan multitasking mampu mengurangi produktivitas bahkan sebanyak 40%. Sebab, perlu diketahui bahwa otak manusia pada dasarnya tidak tercipta untuk multitasking. Melansir dari situs Sources of Insight, tercatat hanya 2 persen dari populasi manusia yang mampu menjadi supertaskers, sebutan bagi mereka yang memiliki kemampuan multitasking yang luar biasa.

Mengutip Michael Harris, sebenarnya ketika kita pikir kita sedang melakukan multitasking, yang sebenarnya terjadi adalah kita sedang multiswitching atau task switching. Kita bukan melakukan dua atau lebih kegiatan secara bersamaan pada waktu yang sama, tetapi sebenarnya kita melakukannya secara bergantian dalam waktu yang sangat singkat. Bukannya menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, dengan mengerjakan dua pekerjaan di waktu yang bersamaan justru bisa menghabiskan waktu lebih banyak dan berpotensi menghasilkan kesalahan pada hasil pekerjaan nantinya.

Alangkah baiknya untuk mengerjakan pekerjaan satu per satu terlebih dahulu. Selain membuat Kawan lebih fokus, hal ini juga lebih efisien dari segi waktu pengerjaan dan memiliki peluang menciptakan kesalahan yang lebih rendah. Kawan bisa melatih kemampuan manajemen waktu dengan lebih baik lagi agar tidak perlu melakukan task-switching. Bagaimanapun juga, kesehatan mental dan kesehatan diri tetap yang utama. 

Bagaimana? Apakah Kawan masih ingin melakukan multitasking?

Referensi: hellosehat.com | Tirto.id | Sources of Insight | Glints.com