Hindari Hal Ini Saat Menyusun Resolusi Tahun Baru
Resolusi tahun baru, sebuah tradisi yang umum dilakukan saat menyambut pergantian tahun. | Sumber: Tim Mossholder/Unsplash

Memiliki resolusi baru saat pergantian tahun seolah menjadi sebuah tradisi bagi kebanyakan orang. Mulai dari resolusi ingin hidup lebih sehat, bisa dapat berlibur ke tempat a b c, dan berbagai macam goals dicantumkan. Menyusun resolusi bisa jadi terasa mudah, biasanya tantangan mulai menghampiri saat akan merealisasikannya.

Tak jarang salah satu faktor resolusi gak berhasil tercapai karena ekspektasi kita yang terlalu tinggi dan target yang kurang realistis. Misalnya, ingin mengganti nasi dengan kentang. Membangun kebiasaan baru mustahil dilakukan dalam semalam. Tubuh juga perlu adaptasi, bila terlalu tiba-tiba, gak menutup kemungkinan kamu akan jatuh sakit.

Melansir dari The Guardian, sebanyak 25 persen dari orang-orang yang membuat resolusi tahun baru, kehilangan semangatnya setelah 7 hari kemudian. Apakah kamu salah satunya? Ternyata ada penjelasan ilmiah mengapa kita bisa berulang kali membuat dan gagal mewujudkan resolusi.

Ketahui false hope syndrome

ilustrasi gaya hidup sehat. | Sumber: Vitalii Pavlyshynets/Unsplash
ilustrasi gaya hidup sehat. | Sumber: Vitalii Pavlyshynets/Unsplash

Nah, saat menyusun resolusi jangan sampai mengalami false hope syndrome ya, Goodmates. Berdasarkan penjelasan oleh JSTOR Daily, menurut Polivy dan Herman, false hope syndrome merupakan fenomena saat kita menetapkan tujuan yang mustahil dicapai oleh diri kita sendiri. Harapannya bisa jadi gak masuk akal dan kurang realistis.

Harapan yang kurang realistis ini bisa jadi disebabkan karena lingkungan sekitarnya. Misalnya ada pengaruh dari buku atau dari media sosial. Sumber-sumber tersebut sangat mungkin memainkan fantasi seseorang bahwa mereka dapat melakukan perubahan besar dengan mudah dan cepat.

Akibat dari false hope syndrome, seseorang cenderung merasa frustasi, kecewa, putus asa dan ingin menyerah karena gagal mewujudkan resolusinya. Penyebabnya sendiri beragam. Memiliki kepercayaan diri tentu merupakan hal yang positif. Tapi, terlalu percaya diri ternyata menjadi salah satu penyebab seseorang alami false hope syndrome.

Cara hindari false hope syndrome

Merangkum penjelasan oleh The Conversation, beberapa hal ini dapat kamu lakukan untuk menghindari false hope syndrome saat menyusun resolusi. Pertama, buatlah resolusi yang realistis untuk dicapai. Misalnya, untuk mengubah kebiasaan baru kamu perlu melakukannya secara bertahap dan konsisten terus menerus.

Kedua, masih berhubungan dengan konsisten, fokuslah melakukan satu hal pada satu waktu. Misalnya, ingin hidup sehat dengan rutin pergi ke tempat gym. Setelah berhasil melakukan kegiatan ini secara rutin, baru mulai lakukan resolusi lainnya.

Ketiga, kamu juga dapat menggunakan metode SMART. Buatlah resolusimu menjadi specific (spesifik), measureable (terukur), achievable (dapat dicapai), realistic (realistis), dan time-bound (terikat waktu). Misalnya, alih-alih menulis ingin hidup lebih sehat. Tulislah ingin menerapkan pola hidup sehat dengan berjalan kaki selama 30 menit setiap pagi hari.

Keempat, kamu juga dapat memberi tahu teman atau keluarga mengenai resolusi kamu dan mengajak mereka untuk sama-sama merubah kebiasaan. Kalian bisa saling menyemangati saling mengingatkan satu sama lain.

Terakhir, jangan batasi dirimu. Mengubah kebiasaan tidak perlu menunggu momentum saat pergantian tahun baru, kok. Kamu bisa melakukan ini kapan saja. Terdengar klise, tetapi sebuah proses mustahil berjalan tanpa tantangan. Kegagalan yang kamu alami di tengah-tengah proses perubahan merupakan bagian dari pembelajaran. Keep going, Goodmates!

Referensi: The False-Hope Syndrome: Unfulfilled Expectations of Self-Change | The Conversation | The Guardian