Hobi Menimbun Barang? Waspada Hoarding Disorder!
Barang Tidak Terpakai © Unsplash/Cerro_Photography

Apakah kamu merupakan tipe orang yang senang menimbun barang di rumah? Biasanya dilakukan karena menyayangkan benda-benda tersebut ketika harus dibuang. Terlebih dari itu, kamu juga berpikir bahwa barang-barang tersebut bisa berguna kedepannya sehingga kamu menumpuknya di sudut ruangan.

Gaya hidup seperti ini tidak baik. Timbunan barang di sudut ruangan itu dapat membuat ruangan menjadi lebih sesak dengan barang tidak terpakai. Kamu juga dapat mengundang sumber penyakit yang bisa bersarang di timbunan barang yang kotor.

Fakta sebenarnya mengenai hobi menyimpan barang sampai penimbunan seperti ini termasuk ke masalah psikologis manusia. Hal tersebut berhubungan dengan perasaan menyayangkan barang yang akan dibuang, karena barang tersebut dianggap memiliki nilai lebih. Kebiasaan ini disebut dengan hoarding disorder.

Dikutip dari jurnal Annual Review of Clinical Psychology, hoarding disorder merupakan perilaku menimbun barang yang tidak terpakai. Barang tersebut dianggap akan berguna di kemudian hari, bersejarah, dan memiliki nilai sentimental.

Biasanya barang-barang yang disimpan penderita hoarding disorder cukup beragam. Mulai dari koran, buku, benda kenangan, pakaian, struk belanja, alat rumah tangga, tas plastik, tanaman, hewan, hingga barang-barang bekas yang sudah kotor dan rusak.

Hoarding disorder berbeda dengan kolektor barang antik. Penderita hoarding disorder cenderung tidak merawat dan membersihkan barang-barang miliknya, sehingga dibiarkan menumpuk begitu saja di pojok ruangan. Hal ini berbeda dengan kolektor barang antik dimana mereka mampu merawat dan menata barang-barang koleksinya dengan baik.

Barang yang dikoleksi hoarding disorder juga tidak memiliki nilai maupun kegunaan, sehingga timbunan barangnya hanya akan memenuhi rumah. Dengan terpenuhinya rumah maka dapat membuat ruang gerak menjadi terbatas dan bisa membawa dampak buruk terhadap kesehatan. Hal ini tentu berbeda dengan kolektor barang antik yang mengumpulkan barang-barang bernilai guna sebagai hobi mereka.

Takut mengidap hoarding disorder? Tenang saja, hoarding disorder ditandai dengan perilaku-perilaku umum yang bisa saja dilakukan sehari-hari kok. Kamu dapat menghindari  beberapa gejala umum di bawah ini.

Sulit untuk membuang barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan

Bayangkan menumpuk kumpulan baju yang sudah tidak layak pakai ataupun sudah tidak muat untuk dikenakan. Alasan untuk menimbun baju tersebut karena terlalu sayang dan benda tersebut memiliki kenangan.

Akan jauh lebih baik apabila baju-baju tersebut disumbangkan ataupun dijual di pusat barang bekas. Mulai pikirkan barang-barang yang benar-benar kamu butuhkan, bukan lagi memikirkan barang-barang yang hanya berisikan kenangan.

Merasa resah saat membuang barang

Tidak jarang pengidap hoarding disorder juga merasa marah atau tersinggung apabila barang-barangnya dibersihkan atau dibuang oleh orang selain dirinya. Gejala ini juga biasanya dibarengi dengan perasaan curiga yang berlebihan akan orang lain yang menyentuh barang-barang miliknya. Dengan hoarding disorder, dia merasa semua barang adalah kepemilikannya sendiri dan tidak mau dibagi.

Terus menambah barang yang tidak dibutuhkan

Timbunan Barang © Unsplash/Trekandshoot
Timbunan Barang © Unsplash/Trekandshoot

Meskipun tidak ada lagi ruang tersisa di dalam rumah, pengidap hoarding disorder terus saja menambah barang timbunannya. Tidak jarang, mereka menimbun barang yang sama atau sejenis dengan barang-barang yang ada di rumahnya. Terlebih dari itu, barang-barang tersebut cenderung tidak memiliki nilai guna.

Cenderung perfeksionis

Memiliki perasaan untuk tidak melewatkan sesuatu adalah tindakan yang dilakukan oleh seorang perfeksionis. Ia merasa barang-barang yang ia miliki terlalu penting untuknya, dan ia merasa apabila dibuang ia akan kehilangan sesuatu di dalam dirinya.

Perfeksionis juga dapat membuat seseorang sulit untuk memutuskan sesuatu, karena semua keputusannya harus dipikirkan matang-matang. Hal ini juga membuat mereka kesulitan dalam mengorganisir dan merencanakan hal, sering menghindar, dan sering menunda-nunda.

Meskipun gejala-gejala yang dialami pengidap hoarding disorder ini cukup umum, hoarding disorder tidak bisa disepelekan. Pengidap hoarding disorder memerlukan penanganan yang tepat agar bisa menerapkan pola hidup yang sehat dan tidak mengganggu.

Pengidap hoarding disorder disarankan untuk berkonsultasi kepada psikolog apabila diperlukan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, mari belajar untuk mengikhlaskan sesuatu.

Referensi: Annual Reviews | NEJM | PubMed | NCBI