Inovasi Baru, Warga Nganjuk Manfaatkan Lampu UV untuk Pertanian Hidroponik
Ilustrasi bercocok tanam dengan metode hidroponik. | Sumber: Detik/Istimewa

Tidak hanya tren gaya pakaian dan makanan yang viral saja, pandemi juga membawa tren gaya hidup baru yaitu gaya hidup yang lebih sehat. Sebab tuntutan hidup lebih sehat, selain jadi semakin banyak kegiatan-kegiatan workout dari rumah secara online, banyak juga orang yang mulai memasukan buah dan sayur sebagai konsumsi rutin sehari-hari.

Mengutip dari Liputan6.com, berdasarkan hasil laporan Diet Decisions Survey 2020, menyebutkan bahwa penduduk di Asia Afrika menerapkan pola makan lebih baik dan lebih rajin berolahraga selama pandemi Covid-19.

Sebab kebijakan yang bikin masyarakat gak leluasa beraktivitas di luar, membuat sebagian orang mencoba berbagai macam hobi baru. Salah satunya teknik bercocok tanam urban farming. Apakah Kawan salah satunya?

Dikutip dari penjelasan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia, urban farming merupakan usaha pertanian di perkotaan dengan memanfaatkan lahan-lahan terbuka yang ada di sekitar masyarakat. Komoditas yang umum diusahakan adalah tanaman yang berumur pendek seperti aneka sayuran daun dan buah, tanaman obat serta tanaman hias.

Berbicara mengenai urban farming, baru-baru ini terdapat inovasi dalam pengelolaan hidroponik, yang merupakan salah satu jenis urban farming. Hidroponik mengutip penjelasan oleh IDN Times, merupakan teknik menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam sehingga lahan yang digunakan lebih efisien. Metode ini mementingkan pada kebutuhan nutrisi (unsur hara) bagi tumbuhan, atau dikenal sebagai konsep soilless culture.

Pancaran cahaya ungu terangi malamnya rumah kaca

Greenhouse yang memancarkan cahaya ungu saat malam hari di Nganjuk, Jawa Timur. | Sumber: Kumparan/PLN
Greenhouse yang memancarkan cahaya ungu saat malam hari di Nganjuk, Jawa Timur. | Sumber: Kumparan/PLN

Melalui kerjasama dengan program PLN Peduli, Pusat Pelatihan Pertanian & Pedesaan Swadaya (P4S) Buana Lestari memanfaatkan sinar lampu UV khusus untuk mengembangkan sistem hidroponik. Pada sebuah greenhouse yang terletak di Wisata Edukasi Tani Terpadu (WETT) Betet, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, terdapat sebuah ruang kaca atau greenhouse berukuran 10 x 20 meter yang ditanami sayuran selada.

Pemanfaatan sinar lampu UV digunakan sebagai pengganti cahaya matahari ketika malam hari. Gagasan ini terinspirasi oleh sebuah jurnal ilmiah yang dalam risetnya menyebutkan pencahayaan dari sinar lampu UV mampu membantu pertumbuhan tanaman pada pertanian hidroponik.

Jenis lampu yang digunakan juga tidak sembarangan lo Kawan. Melansir dari IDN Times, lampu yang digunakan berjenis grow LED, karena mampu memancarkan spektrum cahaya ultraviolet. Pemasangan lampu LED dipilih yang memiliki kombinasi warna ungu, merah dan merah jambu karena memiliki gelombang khusus untuk memancarkan spektrum fotosintesis tanaman.

Lampu ini dipasang dengan jarak antar lampu sekitar 2 meter dengan ketinggian 150 sentimeter dari tanaman. Dengan bantuan lampu, nutrisi yang diperlukan tanaman akan dapat selalu terjaga sebab mendapatkan cukup sinar UV selama 24 jam penuh. Hal ini memberikan dampak positif yang mana meningkatkan produktivitas tanaman, waktu panen terhitung lebih cepat karena hanya memakan waktu 30 hari dibandingkan waktu normalnya yang memakan waktu selama 45 hari.

Tidak hanya dari segi kuantitas, dari segi kualitas juga tak kalah baik. Hasil panen hidroponik menggunakan lampu UV ini terbukti memberikan kualitas daun selada yang bagus, dilihat dari karakter daun dan akar selada lebih cerah.

Dari beratnya juga mampu mencapai 200-250 gram untuk setiap batang tanaman, berbeda dengan tanaman hidroponik biasa yang hanya mencapai 150 gram per batang tanamannya. Soal rasa tak perlu khawatir, dikutip dari Kumparan, Asrori mengklaim rasanya tidak pahit dan aman untuk langsung dikonsumsi.

Referensi: IDN Times | Kumparan | Liputan6 | Proses News ID | Kementerian Pertanian Republik Indonesia