Isu Penghapusan BBM Premium, Bagaimana Akibatnya pada Lingkungan Hidup?
Area SPBU © Unsplash/Mehluli Hikwa

Isu penghapusan Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium kini kembali hangat diperbincangkan, tetapi masih belum diketahui apakah isu ini merupakan wacana atau bukan. Bagaimana tidak? BBM jenis lainnya memiliki harga yang lebih mahal dibanding Premium, sehingga minat masyarakat tertuju pada Premium. Padahal, semakin mahal harganya, kualitas BBM juga semakin baik.

Kondisi perekonomian Indonesia dan daya beli masyarakat menghasilkan adanya pertimbangan akan penghapusan BBM jenis ini. Terlepas dari hal tersebut, pemerintah juga tengah menjalankan program langit biru yang berusaha mengurangi produksi emisi karbon yang berasal dari BBM. Harapannya, dengan satu kebijakan dapat mengatasi dua masalah sekaligus.

Namun, masyarakat sudah mulai sadar akan penggunaan BBM yang lebih berkualitas. Dengan indikasi tersebut, masa transisi dari Premium ke Pertalite dan Pertamax adalah hal yang memungkinkan. Tentunya, bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dan tidak boros karena cepat membuat mesin aus.

Dengan penghapusan BBM Premium ini, masyarakat akan diarahkan untuk membeli BBM yang lebih baik lagi, yaitu Pertalite dan Pertamax. Menurut Menteri ESDM dilansir oleh Media Indonesia, kebijakan ini dilakukan untuk memperbaiki kualitas bahan bakar dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Energi yang lebih bersih juga harus dikembangkan untuk menggantikan BBM yang dihapus ini.

Pemerintah tengah menyusun peta jalan BBM ramah lingkungan. Nantinya, Pertalite juga akan digantikan dengan BBM yang kualitasnya lebih baik dan ramah lingkungan. Perubahan BBM Premium ke Pertalite ini diperkirakan akan mampu menurunkan kadar emisi CO2 sebesar 14 persen untuk selanjutnya Pertamax dapat menurunkan emisi CO2 sebesar 27 persen.

Lantas, mari kita tilik dampak apa saja yang diakibatkan oleh penggunaan BBM. Selain perekonomian, lingkungan hidup adalah masalah yang utama. Meminimalisir BBM tentunya dapat berdampak baik bagi lingkungan.

Bagaimana dampaknya bagi lingkungan?

Pengisian BBM © Unsplash/Fahroni
Pengisian BBM © Unsplash/Fahroni

Dengan perubahan lingkungan secara global dan munculnya fenomena kelangkaan energi, orang-orang harus sudah memperhatikan kondisi kehidupan. Kendaraan roda empat yang memakan energi dan memancarkan zat berbahaya menjadi fokus perhatian. Untuk mengendalikan emisi zat berbahaya dalam kisaran tertentu, peraturan baru yang berbeda dirumuskan untuk membatasi polutan emisi mobil.

Emisi karbon adalah gas yang dihasilkan dari pembakaran senyawa yang mengandung karbon. Emisi zat karbon yang berbahaya ini adalah CO2, yang tercipta dari pembakaran bensin, solar, kayu, daun, gas LPG, dan bahan bakar lainnya yang mengandung hidrokarbon. CO2 merupakan salah satu penyumbang pencemaran udara terbesar yang berdampak buruk bagi kesehatan lingkungan maupun manusia.

Pencemaran udara tersebut dapat mengakibatkan meningkatnya suhu udara dan menyebabkan pemanasan global. Pemanasan global dapat menciptakan naiknya permukaan air laut, yang kalau dikalkulasikan di Indonesia maka 23 juta orang akan merasakan naiknya air laut dari 0,6 meter ke 2 meter di akhir abad ini. Tidak mengejutkan apabila nantinya semua orang harus mengungsi.

Cara kurangi emizi zat karbon berbahaya

Untuk itu, terdapat beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengurangi emisi zat karbon berbahaya ini, selain program pemerintah yang akan melakukan penghapusan BBM. Pertama, gunakan sarana transportasi sepeda atau apapun yang tidak menggunakan bahan bakar. Kedua, bawa kantong belanja sendiri untuk mengurangi penggunaan sampah plastik.

Ketiga, membuang sampah pada tempatnya. Sampah terutama yang jenis plastik bisa mengeluarkan CO2 saat terpapar matahari atau sumber panas lainnya. Keempat, perbanyak penanaman pohon sehingga zat CO2 dapat terserap. Pepohonan yang rimbun juga dapat membuat lebih asri, di tengah pemanasan global yang sedang meningkat.

Terakhir, tentunya mendorong pemerintah untuk layanan yang lebih hijau atau punya program lingkungan. Langkah untuk mengurangi emisi zat CO2 bukan hanya melibatkan masyarakat, tetapi juga kebijakan pemerintah setempat. Oleh karena itu, dengan bekerja sama untuk menjaga lingkungan hidup, maka kita bisa meminimalisir dampak pemanasan global.

Referensi: UGM | IEEE | Media Indonesia