Canggih! Jepang Ciptakan Masker yang Bersinar Jika Terpapar COVID-19
Ilustrasi masker yang bersinar terkena COVID-19 | Foto: Mika Baumeister/Unsplash

Di era pandemi seperti sekarang, masker menjadi kebutuhan wajib yang harus kita gunakan selalu. Barang satu ini seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Seiring berkembangnya zaman, banyak inovasi masker bermunculan. Seperti halnya masker dari Jepang yang akan bersinar apabila terkena virus COVID-19.

Seperti yang kita tahu, penggunaan masker merupakan anjuran dari lembaga kesehatan seperti WHO. Penggunaan masker berfungsi untuk melindungi diri dan orang lain demi mencegah penyebaran virus COVID-19.

Terkait masker canggih tadi, para ilmuwan dari negeri sakura berhasil menciptakan masker yang mampu memberikan tanda berupa sinar. Sinar tersebut akan menyala saat terpapar virus COVID-19. Simak cara kerjanya berikut ini.

Cara Kerja Teknologi Masker Jepang

ilustrasi masker yang bersinar saat berada di bawah sinar UV | Foto:  designboom
Ilustrasi masker yang bersinar saat berada di bawah sinar UV | Foto:  designboom

Penemuan ini hasil dari para peneliti Universitas Prefektur Kyoto di Jepang dengan pemimpin Yasuhiro Tsukamoto, seorang profesor kedokteran hewan yang juga merupakan rektor universitas. Mereka mencoba untuk mengembangkan masker yang menggunakan antibodi burung unta, untuk mendeteksi COVID-19 dengan cara bersinar di bawah sinar ultraviolet.

Baca juga: Cari Tahu Perginya Data yang Sudah Kita Hapus

Melansir pemberitaan oleh insider, awalnya tim penelitian mencoba mengembangkan metode dengan menyuntikkan bentuk virus COVID-19 yang tidak aktif kepada burung unta betina. Melalui tahapan itu, mereka bekerja untuk mengekstrak antibodi.

Ekstrak tersebut merupakan protein hasil produksi oleh sistem kekebalan, sebagai respons terhadap bakteri dan virus yang berasal dari telur burung unta betina. Kemudian, para peneliti memasukkan antibodi itu ke dalam semprotan fluoresen.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, menunjukkan bahwa burung unta memiliki kelebihan berupa ketahanan yang kuat terhadap penyakit. Mereka mampu menciptakan antibodi yang bisa membunuh benda asing di dalam tubuhnya. Hal inilah yang membuat penelitian menggunakan telur burung unta.

Setelahnya, para peneliti melengkapi masker dengan filter khusus yang bisa keluar. Para peneliti telah menemukan semprotan yang mengandung pewarna fluoresen dengan antibodi COVID-19, bersumber dari telur burung unta.

Baca juga: Tak Hanya Email, Aktivitas Internet Lain Bisa Timbulkan Emisi Karbon

Peneliti Lakukan Uji Eksperimen

Ilustrasi peneliti melakukan eksperimen | Foto: Pexels/Chokniti

Peneliti kemudian melakukan eksperimen untuk menguji efektivitas teknologi dengan meminta subjek uji mengenakan masker. Setelah delapan jam, filter terlalu dan tersemprot dengan bahan kimia yang bersinar di bawah sinar ultraviolet jika terdapat virus.

Filter yang terkena oleh orang yang terinfeksi virus COVID-19, maskernya akan bersinar di sekitar area hidung dan mulut. Selain itu, para peneliti juga melakukan proses uji coba pada 32 orang yang terinfeksi COVID-19 selama jangka waktu 10 hari.

Para peneliti kemudian menemukan bahwa masker dari 32 orang tersebut bersinar terang dan menunjukkan jejak virus COVID-19. Catatannya, cahaya yang ada dari masker semakin memudar seiring waktu saat pasien pulih dan ketika viral load-nya menurun.

Yasuhiro Tsukamoto selaku pemimpin tim penelitian juga pernah menemukan dirinya positif terkena COVID-19, setelah ia mengenakan salah satu masker dan menemukan maskernya bersinar di bawah sinar ultraviolet. Statusnya kemudian terkonfirmasi melalui tes standar.

Baca juga: Canggih! Korea Selatan Gunakan Teknologi AI Pendeteksi COVID-19

Mengutip dari India Times, para peneliti berharap masker ini dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini bagi orang-orang. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk memeriksa apakah mereka telah melakukan kontak dengan orang yang memiliki COVID-19.

Jika masker yang terkena bersinar, orang-orang tersebut bisa segera mencari pengobatan dini. Masker bersinar ini juga bisa meminimalkan risiko penyakit serius yang bisa mereka derita, serta mencegah penularan pada orang lain.

Referensi: Insider | Reuteurs | India Times