Kecanduan Belanja Saat Harbolnas? Waspada Compulsive Shopping Disorder
Ilustrasi diskon besar-besaran pada Hari Belanja Nasional. | Sumber: Markus Spiske/Unsplash

Hampir setiap bulan pada ‘tanggal cantik’ (sebutan bagi tanggal dan bulan yang memiliki angka yang sama) nyaris selalu ada promo atau potongan harga dari toko-toko yang berjualan produk. Umumnya, momen ini seringkali dimanfaatkan oleh platform e-commerce. Misalnya saja pada tanggal 12.12 yang sering disebut-sebut sebagai Harbolnas (Hari Belanja Nasional).

Tak tanggung-tanggung, hampir seluruh platform e-commerce berlomba-lomba mengiklankan promo pada aplikasinya. Mulai dari gratis ongkir alias pengiriman barang tanpa membayar ongkos kirim, sampai barang-barang yang memiliki potongan harga lebih dari setengah harga aslinya. Belum lagi barang-barang printilan berharga receh, mulai dari sepuluh ribu rupiah, seribu rupiah, hingga seratus rupiah saja.

Momen ini banyak menyebabkan masyarakat berburu promo. Entah mengejar gratis ongkos kirim, atau membeli barang yang telah diidam-idamkan sejak lama dengan harga yang lebih murah.

Sayangnya, terdapat juga orang-orang yang membeli bukan karena butuh, melainkan karena aji mumpung semata. Seperti Check out barang-barang berharga receh yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Apakah Kawan pernah menjadi salah satunya?

Jarang disadari, mungkinkah kamu terkena compulsive shopping disorder?

Menjadikan perilaku berbelanja sebagai mekanisme menghadapi emosi menjadi salah satu tanda seseorang terkena compulsive shopping disorder. | Sumber: Jacek Dylag/Unsplash
Menjadikan perilaku berbelanja sebagai mekanisme menghadapi emosi menjadi salah satu tanda seseorang terkena compulsive shopping disorder. | Sumber: Jacek Dylag/Unsplash

Compulsive shopping disorder memiliki beberapa nama lainnya, kondisi ini juga dikenal sebagai compulsive spending disorder atau compulsive buying disorder. Dikutip dari Better Help, compulsive buying disorder merupakan perilaku membeli atau berbelanja yang berlebihan atau obsesif, perilaku ini dapat menyebabkan penderitaan setelahnya.

Merangkum dari Everyday Health dan Very Well Mind, terdapat beberapa tanda-tanda yang dapat Kawan renungkan untuk merefleksikan diri apakah Kawan mengalami kondisi Compulsive Shopping Disorder atau tidak.

Pernahkah saat sedang sedih Kawan justru memilih berbelanja? Kawan berbelanja sebagai mekanisme menghadapi emosi atau perasaan yang menekan seperti stress dan cemas. Padahal, berbelanja hanya memberikan perasaan lega yang sementara lo Kawan.

Tanda lainnya, Kawan membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan. Hmm, siapa nih yang pernah membeli barang-barang berharga recehan di e-commerce? Mirisnya, hanya untuk satu produk kecil saja membutuhkan banyak plastik sebagai pembungkusnya. Hal ini tentu berdampak juga pada lingkungan kita.

Last but not least, Kawan merasa senang sekali saat berbelanja, namun langsung menyesal setelah selesai berbelanja. Apakah Kawan pernah merasa menyesal setelah check out barang?

Apakah compulsive shopping disorder berbahaya? Dapatkah dihindari?

Compulsive shopping disorder dapat dihindari salah satunya dengan hanya membawa uang tunai secukupnya saat berbelanja. | Sumber: Alexander Mils/Unsplash
Compulsive shopping disorder dapat dihindari salah satunya dengan hanya membawa uang tunai secukupnya saat berbelanja. | Sumber: Alexander Mils/Unsplash

Menurut American Psychiatric Association (APA) yang dikutip dari Very Well Mind, pembahasan mengenai compulsive shopping disorder masih terus diperdebatkan, nih. Meski tidak dianggap sebagai gangguan mental gangguan, kondisi ini dapat menimbulkan masalah lainnya, contohnya seperti masalah finansial.

Belum lagi kemudahan berbelanja secara online bisa bikin kondisi ini semakin mungkin terjadi. Dirangkum dari Very Well Mind, berikut beberapa tips untuk menghadapi compulsive shopping disorder.

Pertama, carilah kegiatan baru atau hobi baru. Daripada berakhir membeli banyak barang karena sedang bosan, lebih baik temukan kegiatan yang lebih bermanfaat untuk melepaskan perasaan atau pikiran negatif. Mungkin Kawan dapat mencoba work out atau meditasi.

Kedua, berpegang teguh pada pendirian. Apabila harus membeli barang di minimarket atau e-commerce, buatlah daftar barang yang akan dibeli terlebih dahulu. Kemudian, belilah hanya barang-barang yang tercantum di daftar, jangan membeli selain yang telah ditulis.

Ketiga, lebih baik membayar dengan uang tunai. Uang tunai yang terbatas dapat menahan keinginan Kawan untuk membeli macam-macam barang.

Last but not least, Kawan dapat melakukan cara ini apabila tidak ingin tergoda. Seperti meng-uninstall aplikasi berbelanja online, berhenti ikuti akun-akun media sosial yang memberikan ‘racun’ rekomendasi produk tertentu, hingga mematikan notifikasi media sosial dari akun-akun yang berjualan.

Yuk, kita lebih bijak lagi dalam berbelanja. Selamat mencoba tips di atas!

Referensi: Very Well Mind | Everyday Health | Better Help