Manfaat Kecerdasan Buatan dalam Dunia Pendidikan
Robot Kecerdasan Buatan Mengajar

#FutureSkillsGNFI

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan merupakan frasa yang sering kita baca atau dengar, baik saat membaca berita online maupun sekadar scrolling di TikTok. Kecerdasan buatan sering digaungkan karena teknologi ini merupakan terobosan canggih yang mampu menyelesaikan masalah sistematis, seperti otomatisasi hingga prediksi.

Dikutip dari Wikipedia, Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan kecerdasan buatan sebagai kemampuan sistem untuk menafsirkan data eksternal dengan benar, untuk belajar dari data, dan menggunakan pembelajaran tersebut guna mencapai tujuan dan tugas tertentu melalui adaptasi fleksibel.

Sederhananya, kecerdasan buatan adalah kemampuan komputer dalam memecahkan masalah tertentu, komputer akan meniru pikiran manusia dalam memecahkan masalah. Terdengar seram memang. Namun, begitu adanya teknologi sehingga kita sebut "kecerdasan" dan "buatan".

Kehadirannya banyak ditemukan pada produk gawai modern, termasuk penggunaan software dan platform yang ada di gadget. Hampir semua gawai bersistem operasi Android, pasti memiliki Google Assistant. Nah, asisten virtual ini mampu melakukan pengenalan gambar melalui Google Lens dan pencarian lagu berdasarkan lirik yang disenandungkan penggunanya.

Kecanggihan tidak hanya ada pada teknologi praktis manusia, melainkan di berbagai sektor lain. Tentunya, kecerdasan buatan mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia seperti kesehatan, biologi, rekayasa molekuler, bahkan pendidikan.

Dunia pendidikan, terutama di Indonesia, selalu mengalami masalah klasik yang berkepanjanga, tak terlepas dari berbagai macam kurikulum yang telah dirancang. Dunia pendidikan kerap kali mengalami berbagai masalah, seperti kurangnya pelatihan guru kompeten, pemerataan pendidikan, hingga pengevaluasian peserta didik itu sendiri.

Permasalahan kurangnya guru kompeten paling ironis. Apabila menilik lebih jauh, sebenarnya lulusan sarjana pendidikan terbilang banyak. Bahkan, melampaui kebutuhan jumlah guru di Indonesia. Jumlah guru di Indonesia berdasarkan statistik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk tahun ajaran 2019/2020 mencapai 2.698.103 pendidik. Jumlah ini terkesan sangat banyak bagi jumlah penduduk Indonesia yang hampir 300 juta orang.

Namun sayang, kuantitasnya tidak sebanding dengan kualitas yang ada. Kemendikbud mengungkapkan rata-rata skor kompetensi guru di Indonesia hanya sebesar 50,64 poin. Nilai kompetensi ini masih perlu ditingkatkan.

Pemerataan pendidikan di Indonesia pun masih kurang merata sehingga kompetisi siswa di antara wilayah yang saling berdekatan bisa saja sangat jauh berbeda. Selain itu, faktor geografi dan topologi Indonesia yang memang sulit secara fisik untuk dilakukan pemerataan guru dan pendidikan.

Tak hanya itu, sistem evaluasi peserta didik kerap kali mengalami perubahan nama, mulai dari Ujian Penghabisan (UP) hingga Asesmen Nasional (AN). Tentu sistem evaluasi ini selalu menimbulkan polemik di kalangan pendidik hingga masyarakat umum.

Kehilangan esensi dari menguji terkadang dapat dibuktikan dengan siswa yang hanya menghafal dan mempelajari materi saat ingin ujian saja.

Maka dari itu, harapannya, adanya kecerdasan buatan dan teknologi internet mampu memecahkan masalah pendidikan yang berkepanjangan di Indonesia.

Manfaat Kecerdasan Buatan dalam Dunia Pendidikan

Bagi peserta didik, kecerdasan buatan dapat berperan sebagai alat yang membantu dalam roadmaping memahami materi, sehingga peserta didik mengetahui gap skill yang ada pada dirinya secara personal. Guru pun mendapat keuntungan praktis, seperti evaluasi dan mentoring lebih personal ke siswa. Sementara sekolah atau institusi pendidikan dapat merasakan manfaatnya dalam hal pembuatan kurikulum hingga pemetaan ketersediaan guru.

1. Menilai Tugas dan Melakukan Penyesuaian Siswa

Kecerdasan buatan tidak hanya berperan dalam mengevaluasi atau menilai tugas siswa, bahkan mampu membuat soal dan melatih kompetisi peserta didik saat mengerjakan soal. Kecerdasan buatan melakukan pengenalan pola terhadap pemahaman siswa dalam menjawab soal. Pengenalan pola berupa sejauh mana peserta didik mampu memahami dan seberapa kompeten menyelesaikan masalah dalam soal.

Contoh penerapan teknologi kecerdasan buatan ini ada pada teknologi kecerdasan buatan oleh Zenius.net melalui fitur Zencore. Peserta didik akan disuguhkan berbagai soal yang dikenali berdasarkan pola pemahaman peserta didik.

2. Pengidentifikasian Siswa

Dengan adanya kecerdasan buatan, melakukan profiling siswa berikut riwayat hidupnya dapat diketahui. Dengan adanya kecerdasan buatan, dapat mengetahui siswa emosi dan struggle dalam memahami materi, walau hanya dari raut wajah serta mood. Dengan adanya ini, siswa dapat dikenali seberapa keras dia berjuang dan seberapa butuh peran mentor dalam membimbing peserta didik.

3. Pemetaan Materi

Dengan adanya kecerdasan buatan dalam mengevaluasi kemampuan siswa berikut kecerdasan buatan akan membuat pemetaan jalan (roadmap) yang sesuai dengan kebutuhan siswa, misal jika siswa tertinggal dalam pelajaran tertentu tapi menguasai yang lainnya, maka gap tersebut bisa diselesaikan oleh kecerdasan buatan.

4. Pengelolaan Kurikulum

Kecerdasan buatan selain bisa memetakan materi juga dapat melakukan penyesuaian kurikulum sekolah. Berdasarkan data-data yang ada dapat diolah menjadi insight untuk menyesuaikan kurikulum baik berdasarkan kebutuhan siswa (peminatan), muatan lokal, hingga mata pelajaran yang wajib.

5. Pemerataan Guru

Dengan teknologi machine learning beserta sistem informasi geografis, guru dapat dipetakan dan dianalisis untuk pemerataan guru, berikut guru juga dapat diperhitungkan fasilitas serta kebutuhanya dalam geografis tertentu.

 

Referensi: Wikipedia | Kemendikbud

Dwi Ahmad Dzulhijjah
Lifelong Learner, Mahasiswa

Saya adalah seorang Pembelajar Sepanjang Hayat