Resmi! Mulai 1 April 2022 Tarif PPN dan Pertamax Akan Naik
Illustrasi keputusan kenaikan tarif PPN dan harga Pertamax | Foto: Unsplash

Bukan April Mop, mulai 1 April ini PPN dan Pertamax mengalami kenaikan. Sontak, hal ini mendapat respon beragam di kalangan masyarakat. Muncul kekhawatiran bahwa akan terjadi kenaikan besar-besaran pada kebutuhan pokok dan lainnya. Lalu, apa benar demikian?

Pemerintah secara resmi menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 11 persen yang sebelumnya hanya 10 persen. Penyesuaian tarif PPN ini merupakan amanat pasal 7 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP)

Tidak hanya PPN, di hari yang sama harga Pertamax juga mengalami kenaikan. Kenaikan harga BBM jenis pertamax menjadi Rp12.500–Rp13.000 per liter. Padahal, sebelumnya hanya sekitar Rp9.000–Rp9.400 per liter. Kenaikan ini mulai berlaku 1 April 2022 pukul 00.00 waktu setempat.

Kenaikan PPN dan Pertamax memicu respon pro dan kontra dalam dinamika kehidupan masyarakat. Namun, sebelum mendebat kenaikan tersebut, apa fakta-fakta di baliknya? Simak penjelasan berikut.

Kenaikan PPN dan Daftar Barang Jasa Tidak Terkena PPN 11%

Illustrasi kenaikan tarif PPN | Foto: Unsplash

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pungutan pemerintah yang berasal dari transaksi jual beli barang maupun jasa. Berdasarkan UU No. 7 Tahun 2021, tentang UU HHP, besaran tarif PPN naik dari yang sebelumnya 10 persen menjadi 11 persen. 

Baca juga: Jefri Nichol Vs. Netizen, Pentingnya Menghargai Hak Cipta dan Etika di Media Sosial

Hal ini berlaku mulai April 2022 dan akan naik kembali paling lambat 1 Januari 2025 menjadi 12 persen. Menteri Keuangan Sri Mulyani menekankan pajak merupakan sikap gotong royong dari sisi ekonomi Indonesia oleh orang-orang yang lebih mampu.

Mengingat, pajak yang terkumpul akan kembali lagi kepada masyarakat. Meski mengalami kenaikan, ada beberapa jenis barang dan jasa yang tidak ikut terkena imbas kenaikan PPN 11 persen.

Mulai dari barang kebutuhan pokok, jasa kesehatan, jasa pendidikan, jasa sosial, jasa asuransi, dan jasa angkutan umum. Tak hanya itu, jasa tenaga kerja, air bersih, listrik kecuali daya >6.600 VA, emas batangan, minyak bumi, dan beberapa lainnya tidak terkena PPN 11 persen.

Di Balik Kenaikan Pertamax

Illustrasi kenaikan harga BBM jenis Pertamax | Foto: Unsplash

Mulai 1 April 2022, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax menjadi Rp12.500–Rp13.000 per liter. PT Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri ESDM No. 62 K/12/MEM/2020.

Keputusan Menteri tersebut mengatur tentang formula harga dasar. Hal itu sesuai dalam perhitungan harga jual eceran jenis bahan bakar minyak umum jenis bensin dan minyak solar, yang tersalurkan melalui stasiun pengisian bahan bakar umum.

Baca juga: Saingi Iphone 13, Nokia Rilis Konsep Ponsel Boba Lewat Seri Edge 2022

Hal ini mempertimbangkan kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dari US$ 73,36 per barel pada Desember 2021 menjadi US$ 114,55 pada 24 Maret 2022.

Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, mengimbau kepada masyarakat Indonesia untuk memaklumi sikap pemerintah untuk menaikkan harga BBM jenis Pertamax. Hal tersebut karena harga di Indonesia jauh di bawah keekonomiannya.

Sebelumnya, di Indonesia harga Pertamax sekitar Rp9.000 per liter, jauh di bawah keekonomiannya sebesar Rp14.526 per liter. Menurut Tulus, jika pemerintah tetap menahan harga, akan berdampak pada kerugian Pertamina.

Selain itu, dampaknya juga akan terasa pada APBN, mengingat Indonesia masih mengimpor bahan bakar minyak. Oleh sebab itu, bagi Tulus menaikkan harga BBM jenis Pertamax adalah keputusan yang rasional.

Perbandingan PPN dan Harga Pertamax di Luar Negeri

Illustrasi tarif PPN dan harga BBM non subsidi di luar negeri | Foto: Unsplash

Kenaikan PPN dan harga BBM jenis Pertamax di Indonesia nyatanya mengundang kekhawatiran di masyarakat akan naiknya bahan-bahan pokok. Maka, tak jarang orang justru menyayangkan keputusan ini.

Baca juga: Aneka Situs Lembaga Pemeringkatan dan Data Perguruan Tinggi

Lalu, bagaimana situasi PPN dan harga BBM jenis Pertamax di luar negeri? Terkait PPN, Indonesia sebenarnya negara dengan PPN yang tidak besar juga tidak kecil daripada negara-negara lainnya.

Untuk di kawasan asia tenggara, berdasarkan data OECD tahun 2020, Indonesia masih lebih besar daripada tarif PPN di beberapa negara, seperti Singapura 7 persen, Thailand 7 persen, dan Vietnam 10 persen. Filipina menjadi negara dengan PPN yang lebih tinggi, yakni 12 persen.

Akan tetapi, jika membandingkan dengan beberapa negara maju, PPN di Indonesia cenderung kecil. Misalnya tarif PPN di beberapa negara maju, yakni Turki 18 persen, Argentina 21 persen, Brazil, 17 persen--18 persen, Perancis 20 persen, China 13 persen, Denmark 25 persen, Meksiko 16 persen, Inggris 20 persen, dan Jerman 19 persen.

Jika berbicara mengenai BBM nonsubsidi, di negara-negara asia tenggara ternyata mematok harga yang jauh lebih tinggi. Misalnya di Thailand dengan harga Rp20.300 per liter, Filipina Rp18.900 per liter, Singapura Rp30.800 per liter, dan Laos Rp23.300 per liter.

Selain itu, Myanmar dan Kamboja dengan harga kisaran Rp16.600 per liter. Di asia tenggara, negara Malaysia memiliki tarif harga BBM non subsidi paling rendah, yakni sekitar Rp7.051 per liter.

Nah, itulah beberapa informasi mengenai kenaikan tarif PPN dan harga BBM jenis Pertamax. Kenaikan ini perlu masyarakat siasati agar tidak mengganggu kestabilan ekonomi.

Beberapa opsi yang bisa kamu pakai adalah mencoba menghemat beberapa barang atau jasa yang terkena imbas dari kenaikkan PPN dan Pertamax. Meski berat, keputusan yang pemerintah ambil seharusnya sudah mempertimbangkan kepentingan bersama.

Referensi: Kompas | CNN Indonesia | Bisnis | CNBC Indonesia | Suara