Kenali 3 Jenis Sindrom Kesehatan yang Jarang Disadari
mulai dari imposter syndrome hingga crab mentality, sindrom-sindrom yang mungkin tidak disadari dialami di keseharian. | Sumber: Clay Banks/Unsplash

Pernahkah Kawan meragukan kemampuan diri sendiri? Atau merasa iri dengan pencapaian orang lain? Kalau begitu, mungkin Kawan perlu berkenalan dengan sindrom-sindrom psikologis di bawah ini. Tanpa disadari, ternyata sindrom-sindrom di bawah ini dapat terjadi di keseharian Kawan, lo!

Simak penjelasan sindrom-sindrom tersebut beserta cara menghadapinya.

Sering meragukan diri sendiri, mungkinkah pertanda imposter syndrome?

Ilustrasi seseorang yang meragukan kemampuan diri sendiri. | Sumber: Solen Feyissa/Unsplash
Ilustrasi seseorang yang meragukan kemampuan diri sendiri. | Sumber: Solen Feyissa/Unsplash

Pernahkah ketika berhasil mencapai sesuatu, Kawan merasa tidak pantas untuk mendapatkannya? Kawan meragukan kemampuan diri sendiri dan sering merasa tidak cukup pantas untuk mendapatkan hal-hal yang baik. Hingga merasa cemas, khawatir apabila teman atau orang-orang di sekitar akan merasa tertipu atas pencapaian-pencapaian yang berhasil Kawan lakukan. Hmm, apakah mungkin Kawan juga terkena imposter syndrome?

Perasaan ini umumnya dikenal sebagai imposter syndrome. Tenang saja, Kawan enggak sendirian, kok. Perasaan ini dapat dialami oleh siapa saja, baik perempuan atau laki-laki, juga tidak memandang jenis profesi. Mengutip dari Time, diperkirakan sebanyak 70% orang pernah mengalami imposter syndrome dalam hidupnya.

Dikutip dari Health Line, imposter syndrome melibatkan perasaan ragu-ragu dan ketidakmampuan diri untuk bertahan meski memiliki pendidikan, pengalaman dan prestasi. 

Bagaimana cara terhindar dari imposter syndrome? Pertama-tama, Kawan harus menerima perasaan tersebut. Dengan tidak menyangkal dan mau mengakui, membuat Kawan akan jauh lebih terbuka untuk merubah perspektif.

Setiap kali pikiran atau perasaan meragukan diri sendiri datang, tanyakan pada diri Kawan, apakah pikiran ini mampu membantu saya atau justru menjadi penghalang?

‘Kalau aku gagal, gak boleh ada yang berhasil!’ hati-hati gejala crab mentality!

Ilustrasi hewan kepiting di dalam ember yang saling menarik sesama kepiting menggambarkan penjelasan crab mentality. | Sumber: Kalm
Ilustrasi hewan kepiting di dalam ember yang saling menarik sesama kepiting menggambarkan penjelasan crab mentality. | Sumber: Kalm

Wah, kalau Kawan pernah berpikiran seperti itu, hati-hati mungkin itu bisa jadi pertanda dari crab mentality. Dilansir dari Psychology Today, crab mentality adalah analogi dari perilaku egois yang iri terhadap kesuksesan orang lain.

Analogi ini berdasarkan perilaku kepiting di dalam sebuah ember. Ketika ada seekor kepiting yang ingin mendaki naik keluar dari ember, akan ada kepiting-kepiting lainnya yang coba menarik dia.

Contohnya mungkin banyak gak Kawan sadari, sebab crab mentality dapat terjadi di keseharian. Misalnya, karena terlalu lelah hangout bersama teman-teman, Kawan mengerjakan tugas sekolah seadanya. Karena khawatir dengan hasilnya, Kawan kemudian membujuk teman-teman lainnya untuk sama-sama mengerjakan tugas seadanya juga.

‘Gak rela teman berprestasi sendirian!’ ciri-ciri tall poppy syndrome?

Ilustrasi tall poppy syndrome. | Sumber: Taylor Care Group
Ilustrasi tall poppy syndrome. | Sumber: Taylor Care Group

Jika Kawan mungkin telah akrab dengan istilah imposter syndrome dan crab mentality, mungkin yang satu ini terdengar asing, mari berkenalan dengan tall poppy syndrome.

Sindrom ini memiliki kemiripan dengan crab mentality. Mengutip penjelasan oleh situs The Tallest Poppy, sindrom ini terjadi ketika seseorang dikritik, tidak disukai, atau diserang karena pencapaian atau kesuksesan yang mereka peroleh.

Istilah tall poppy syndrome umum digunakan di Australia. Mengutip dari penjelasan Dr. Rumeet Billan, tall poppy syndrome mengacu pada bunga poppy yang harus tumbuh bersama dan jika salah satu tumbuh terlalu tinggi, maka akan dipotong sesuai ukuran. Hmm, terdengar mirip dengan crab mentality?

Nah, biar terhindar dari crab mentality dan tall poppy syndrome, Kawan bisa mencoba beberapa cara. Seperti, lebih fokus pada perkembangan diri serta fokus pada potensi dan goals yang dimiliki.

Mengganti mindset juga dapat membantu, pilihlah lebih banyak kalimat yang positif dan menyemangati. Terakhir, let’s support each other. Sadari bahwa membantu orang lain juga dapat membantu diri Kawan. Daripada sibuk memikirkan kenapa mereka harus tetap berada di dalam “ember”, lebih baik tawarkan bantuan.

Referensi: Health Line | Time | Psychology Today | You Are Beyond Enough | Tallest Poppy | Rumeet Billan