Ketagihan Scrolling Media Sosial? Waspada Doomscrolling!
Ilustrasi seseorang scrolling di media sosial. | Sumber: Austin Distel/Unsplash

“Duh, gabut banget nih. Buka Instagram, ah!”

Kawan pernah merasa bosan dan berakhir menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial? Rasanya Kawan gak bisa berhenti terus scrolling timeline meski tanpa tujuan yang jelas. Pernah dengar istilah doomscrolling?

Menurut Tess Brigham, seorang psikoterapis, yang dikutip dari Very Well Mind, doomscrolling atau yang juga disebut doomsurfing merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kecenderungan untuk terus menelusuri (scrolling) berita negatif atau unggahan di media sosial atau platform lainnya dengan mindlessly (lawan kata dari mindfulness, yang bisa juga diartikan tanpa berpikir).

Apa sih ciri-cirinya kita mengalami doomscrolling? Nah, Kawan pernah gak lagi buka Instagram, tiba-tiba tanpa Kawan sadari, sedang nge-stalk seseorang yang gak dikenal? Hati-hati, bisa jadi Kawan sedang mengalami doomscrolling. Soalnya kata Tess Brigham, salah satu cirinya saat kita secara gak sadar tiba-tiba sudah sampai di salah satu unggahan konten media sosial atau pada salah satu akun media sosial seseorang yang gak kita kenal, kemungkinan besar kita mengalami doomscrolling.

Doomscrolling ternyata memiliki pengaruh terhadap kesehatan mental kita. Dirangkum dari Constellation Behavioral Health, doomscrolling dapat meningkatkan perasaan panik dan khawatir, memperkuat pikiran dan perasaan negatif, dan memicu hormon stress. Karena doomscrolling dapat membuat kita memiliki keinginan untuk terus-terusan scrolling informasi yang memiliki nuansa negatif, ini dapat memicu perasaan panik dan khawatir terhadap berita yang dibaca, belum lagi pikiran negatif yang berkembang dapat menjadi siklus toxic untuk diri kita.

Menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial juga dapat meningkatkan hormon stres dan adrenalin. Semakin sering Kawan melakukan doomscrolling, maka akan semakin banyak kortisol (hormon stres) dan adrenalin yang terdapat dalam tubuh dan pikiran. Ini dapat memicu stres pada mental dan menyebabkan kelelahan fisik.

Berhenti doomscrolling dengan cara ini

Membaca buku dapat menjadi salah satu cara menghindari doomscrolling. | Sumber: Clay Banks/Unsplash
Membaca buku dapat menjadi salah satu cara menghindari doomscrolling. | Sumber: Clay Banks/Unsplash

Doomscrolling bisa dicegah kok. Merangkum tips yang disarankan oleh Tess Brigham dari Very Well Mind, saat Kawan menyadari apa yang sedang Kawan lakukan, Brigham menyarankan untuk langsung mengalihkan perhatian Kawan pada hal lain, misalnya sesederhana mematikan gawai.

Sebagai tambahan, dikutip dari Health, Dr. Thea Gallagher menyarankan setelah menyadari apa yang Kawan lakukan, ambil waktu sejenak untuk berpikir, apakah setelah scrolling lalu membuat Kawan merasa lebih baik dan menambah pengetahuan, atau justru meninggalkan perasaan tidak nyaman seperti lebih cemas?

Daripada menghabiskan waktu dengan scrolling tanpa tujuan yang jelas, lebih baik Kawan mencoba kegiatan positif lainnya. Pilihlah kegiatan-kegiatan lain yang mampu memberikan perasaan dan pikiran yang  positif dan bahagia. Ini dapat memberi manfaat baik pada kesehatan yang Kawan miliki. Misalnya, menghabiskan waktu untuk membaca buku, menonton film, atau berolahraga.

Selalu update informasi terbaru mungkin memang baik, tetapi mengkonsumsi terlalu banyak dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya doomscrolling. Atur waktu Kawan dalam scrolling di media sosial maupun di platform lainnya. Kawan dapat memanfaatkan fitur reminder atau aplikasi yang membantu mengatur limit waktu pemakaian media sosial tertentu. Tetapi, harus disiplin dan berkomitmen ya! Apabila waktu yang diatur hanya 15 menit, patuhi batas waktu tersebut. 

Referensi: Health | Very Well Mind | Constellation Behavioral Health