Kelana Bhakti Budaya, Grup Ketoprak Tobong yang Eksis dari Masa ke Masa
Grup ketoprak tobong Kelana Bhakti Budaya | Foto: kethopraktobong.blospot.com

Ketoprak adalah seni pertunjukan rakyat yang berbasis sastra Jawa. Menurut KBBI, kata tobong berarti tempat pertunjukan yang sifatnya darurat dan biasanya terbuat dari bambu. Jika kita artikan, ketoprak tobong adalah pertunjukan yang nomaden (berpindah-pindah).

Setiap pindah lokasi, seluruh pemain akan turut membawa serta semua perlengkapan pentas, seperti kostum, alat musik, dan tobong. Berkat perkembangan zaman, ketoprak tobong kini tak lagi berpindah-pindah dan berdiri semi-permanen di Dusun Brayut, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Grup ketoprak tersebut bernama Kelana Bhakti Budaya. Masih eksis hingga kini, grup ketoprak tersebut mengadakan pentas reguler setiap Jumat dengan harga karcis sekitar Rp10.000 untuk tiap pertunjukan.

Sudah Ada Puluhan Tahun

Pemain ketoprak tobong senior, sudah pentas sejak tahun 60-an | Foto: Watchdoc Documentary

Kelana Bhakti Budaya merupakan grup ketoprak turun-temurun yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Adapun pemain tertua yang kini turut menetap di Cangkringan bernama Mbah Kamiyati, ia aktif mengikuti pementasan sejak tahun 60-an.

Bukan berasal dari Yogyakarta, grup ketoprak ini sejatinya berasal dari Kediri, Jawa Timur. Mereka pindah ke Yogyakarta pada 2006, tepatnya setelah peristiwa gempa bumi dan terus eksis hingga saat ini. Adapun harga karcis di fase-fase awal, yaitu pada 2007 berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000 saja.

Baca juga: Bagaimana Cara Atasi Kecanduan Bermain Game pada Orang Dewasa?

Puncak Kejayaan Kelana Bhakti Budaya

Pertunjukan ketoprak tobong saat ini | Foto: Watchdoc Documentary

Meski kini pementasan reguler ketoprak mulai sepi penonton, ketoprak tobong pernah mengalami masa kejayaannya. Misalnya saja pada 2004, jumlah penonton dalam satu kali pementasan bisa mencapai 200 hingga 300 orang.

Salah satu penyebabnya adalah pada saat itu, hiburan yang ada tidak sebanyak sekarang. Penggemar ketoprak pun cukup fanatik di masa lalu.

Ada yang tak segan menjual sepedanya untuk membeli karcis pementasan ketoprak. Ada juga yang mengidolakan pemain tertentu dan mengiriminya makanan setiap hari.

Bahkan, pernah ada pula penonton yang melempar BPKB mobil dan uang cash kepada pemain yang sedang pentas. Kini, peristiwa tersebut menjadi kenangan indah akan kecintaan masyarakat yang begitu tinggi pada kesenian rakyat.

Baca juga: Menilik Program Kampung Iklim Pemerintah Indonesia

Tetap Bertahan Meski Terdampak Pandemi COVID-19

Proses pembuatan pementasan ketoprak digital "Ati Segara" | Foto: Dolan Sana-Seni

Seperti halnya sektor lain, pementasan ketoprak Kelana Bhakti Budaya juga turut terdampak pandemi COVID-19. Mereka terpaksa vakum selama tiga bulan sejak Februari 2020 akibat imbauan pemerintah untuk tidak mengumpulkan massa.

Walau demikian, pandemi membawa berkah tersendiri bagi kelangsungan grup ini. Pasalnya, mereka jadi berkesempatan untuk mengubah format pementasan ketoprak menjadi dalam bentuk digital dengan sentuhan sinematografi.

Penonton ketoprak Kelana Bhakti Budaya pun kembali banyak meski hanya dalam bentuk angka penonton video YouTube yang mencapai lima ribu penonton. Bantuan dana dari pemerintah Yogyakarta untuk para pelaku seni juga turut membantu Kelana Bhakti Budaya bertahan selama pandemi.

Adapun karya digital Kelana Bhakti Budaya selama pandemi berjudul “Ati Segara” (Hati Lautan) yang terinspirasi dari tiga tokoh berpengaruh di Jawa, yaitu Ratu Pramudyawardhani, Raden Ayu Matah Ati, dan Pangeran Diponegoro.

Baca juga: Sambut Ramadan, Intip 3 Komunitas Islam di Negara Barat

Ciri Khas dan Masa Depan Kelana Bhakti Budaya

Keluarga besar Kelana Bhakti Budaya | Foto: kethopraktobong.blogspot.com

Salah satu ciri khas dari grup Kelana Bhakti Budaya adalah eratnya rasa kekeluargaan dari para pemain maupun ketua sanggar dan pimpinan produksi. Solidaritas ini berasal dari memori kolektif yang mereka bagi satu sama lain, saat orang tua hingga kakek-nenek mereka di masa lalu juga terlibat dalam pementasan ketoprak tobong.

Dalam mempertahankan eksistensinya di masa modern, Kelana Bhakti Budaya sempat mengalami beberapa tantangan, seperti sulitnya mencari lokasi pementasan. Di masa depan, besar kemungkinan ketoprak tobong akan mengalami pengemasan yang berbeda sesuai dengan zaman dan selera generasi muda.

Adaptasi memang perlu untuk melestarikan budaya di tengah arus modernisasi. Meski begitu, kita tentu berharap esensi ketoprak tobong sebagai pertunjukan rakyat Jawa tidak akan lekang oleh waktu.

Referensi: Dolan Sana Seni | Watchdoc Documentary