Keunikan Kearifan Lokal Masyarakat Bali dengan Gunung Agung
Ilustrasi│Joël de Vriend/Unsplash

Gunung Agung yang ada di Pulau Bali, tepatnya di Kabupaten Karangasem merupakan gunung yang disucikan oleh masyarakat Hindu Bali. Gunung berapi dengan ketinggian 3.142 mdpl ini adalah gunung tertinggi di Pulau Bali.

 Gunung Agung menyimpan keindahan alam yang sangat luar biasa sehingga gunung ini menjadi salah satu destinasi wisata di Pulau Bali. Di samping itu, masyarakat lokal memiliki kearifan lokal yang harus ditaati oleh para wisatawan saat mengunjungi Gunung Agung.

Kearifan lokal ini berkaitan dengan beberapa larangan yang harus ditaati wisatawan. Wajar saja karena memang Gunung Agung adalah gunung yang disucikan, maka wisatawan tidak boleh bertindak sembarangan disini.

Larangan yang harus dipatuhi di Gunung Agung selain untuk menjaga kesucian Gunung Agung dalam sudut pandang masyarakat lokal, nyatanya juga berpengaruh besar terhadap kebersihan Gunung Agung.

Kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun

Potrait Gunung Agung Bali | Foto: Phinemo

Masyarakat Bali yang bermukim di area Gunung Agung memiliki kearifan lokal yang sudah diwariskan secara turun temurun. Salah satunya pengetahuan tradisional tentang Gunung Agung.

Dengan pengetahuan tradisional ini, masyarakat dapat mengetahui ancaman bahaya erupsi Gunung Agung bahkan sebelum ada pemberitahuan dari PVMBG (Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi).

Pengetahuan tradisional ini meliputi tanda-tanda Gunung Agung akan erupsi, serta pengetahuan geografis tentang wilayah mana saja yang berbahaya dan aman dari erupsi Gunung Agung.

Selain itu, masyarakat Karangasem yang bermukim di area Gunung Agung juga memiliki sistem alarm tradisional kulkul bulus. Alarm tradisional ini adalah kentongan yang digunakan untuk kode kepada masyarakat saat terjadi suatu bencana atau marabahaya.

Larangan-larangan di Gunung Agung

Ilustrasi│Sam Huijbregts/Unsplash

Seperti yang disinggung sebelumnya, masyarakat lokal juga memiliki sebuah larangan-larangan selama beraktivitas di area Gunung Agung. Larangan ini berlaku untuk semua orang, baik itu masyarakat lokal maupun wisatawan yang sedang berkunjung.

Masyarakat percaya bahwa erupsi yang terjadi pada Gunung Agung merupakan sebuah pembersihan diri dari hal-hal buruk. Dalam kepercayaan masyarakat, larangan ini berfungsi untuk menjaga kesucian Gunung Agung sehingga Gunung Agung tidak perlu bererupsi untuk membersihkan diri.

Larangan-larangan yang harus ditaati di Gunung Agung adalah, tidak boleh berkata kasar, tidak boleh membuang sampah sembarangan, selalu berpikir positif, dan larangan mendaki bagi pendaki yang sedang menstruasi.

Larangan-larangan tersebut tentu wajib ditaati oleh wisatawan yang berkunjung di Gunung Agung. Tidak seperti gunung-gunung lain di Indonesia, sangat jarang ditemui sampah di Gunung Agung. Hal ini adalah akibat dari adanya salah satu larangan, yaitu dilarang untuk membuang sampah sembarangan.

Bagi wisatawan, selain untuk menghormati kepercayaan lokal, dengan mentaati larangan-larangan tersebut kita juga membantu menjaga kebersihan Gunung Agung dari sampah.

Referensi: Bencana, Agama, dan Kearifan Lokal | Mendaki Gunung yang Disucikan : Perspektif Pariwisata, Lingkungan,  dan Kebudayaan | Sangkulius Optimalisasi Berbasis Kearifan Menyama Beraya dalam Mitigasi Bencana Gunung Agung