Kisah Inspiratif Seorang Travel Influencer
Yun Ningsih bersama Min Namkong | Foto : Instagram : Yunnningsih

#FutureSkillsGNFI

Traveling merupakan kegiatan yang semakin populer. Banyak spot wisata baru yang ditemukan setiap bulannya dan dijelajahi ke berbagai media. Seiring meningkatnya pengguna media sosial, seperti Instagram dan YouTube, turut melahirkan sejumlah profesi unik yang sebelumnya tak pernah ada, salah satunya adalah influencer pariwisata atau dikenal travel influencer.

Travel influencer adalah mereka yang menjelajahi berbagai daerah. Lalu, mempromosikannya melalui tulisan, bisa dalam bentuk tulisan dalam buku maupun foto dokumentasi melalui media sosial.

Ilustrasi Traveling | Foto : Pexels.com

Nah, GoodSide kali ini memiliki kesempatan berbincang bersama seorang travel influencer bernama Yun Ningsih atau Yuni, lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Sebelas Maret yang sudah tahunan menggeluti profesi sebagai travel influencer. Ia akan membagikan cerita inspiratif mengenai pengalaman serta perjalanannya.

Latar Belakang Menggeluti Profesi sebagai Travel Influencer

Foto : Instagram.com /Yunnningsih

Sedari kecil Yuni suka menonton anime dan korean drama karena menampilkan nuansa negara dengan 4 musim berbeda. Dahulu, ia ingin ke negara Jepang atau Korea hanya untuk melihat bunga sakura. Setelah lulus kuliah, ia mulai bekerja sebagai fotografer.  Dalam masa itu pula ia menyisihkan uang untuk pergi ke luar negeri.

Negara pertama yang ia kunjungi adalah Korea Selatan. Pada saat itu, musim di sana sedang gugur. Ia merasa nyaman dan menyukai cuaca tersebut. Saat menginjakkan kaki pertama kali, ia menemukan teman yang baik dengan latar belakang luar biasa.

Dari sinilah, ia semangat untuk selalu memercayai bahwa, “kalau orang lain bisa, aku juga bisa" karena  para teman baru yang ia temui sering berkeliling ke luar negeri dengan jerih payahnya sendiri.

Pertemuan tersebut membuat tali silaturahmi berjalan baik. Akhirnya, ada teman yang bisa menjelajahi negara lain. Saat melakukan kunjungannya ke beberapa negara, ia semakin tertarik berkeliling serta bertemu dengan lebih banyak teman baru. Inilah awal perjalanan dimulai.

Tempat yang Sering Dikunjungi dan Memiliki Makna Tersendiri

Tempat yang memiliki  makna tersendiri biasanya merupakan tempat ternyaman. Seolah bersahabat bagi yang merasakannya, ada kehangatan di dalamnya, hampir sama dengan definisi rumah. Pastinya, rumah bukan hanya bangunan, melainkan orang di dalamya yang menantikan kita kembali pulang.

Selalu ada alasan mengunjungi negara pertama traveling. Tentunya, negara tersebut memberikan pelajaran sangat berharga.

“Tempat yang paling bermakna adalah Korea Selatan karena merasa nyaman di sana. Mungkin karena suka K-drama, kebetulan kebanyakan teman pun tinggal disana. Di Korea bisa menetap 2 sampai 3 minggu. Aku merasa cocok dengan budanya, kalau membagikan video atau foto di media sosial, banyak orang memberikan dukungan serta dorongan untuk terus melakukan perjalanan. Tentunya cerita perjalanan tersebut bisa dibagikan ke semua orang," ujar Yuningsih.

Ia menambahkan, tempat bermakna di negara selain Indonesia, yakni Jepang. Negara ini begitu nyaman karena tata letak kota, tempat wisata, dan alamnya sangat asri. Kalau zaman sekarang, banyak orang bilang Jepang cocok untuk mengobrol dengan diri sendiri. Namun, kalau jika ingin berkomunikasi dan berbisnis, lebih condong ke Korea.

Beradaptasi di Negara Lain dalam Situasi Berbeda

Pengertian adaptasi menurut beberapa para ahli:

  1. Darwin Dilansir dari National Geographic, dalam teori evolusi Darwin, pengertian dari adaptasi adalah mekanisme biologis saat organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan baru atau perubahan dalam lingkungan mereka saat ini.
  2. Wallace Wallace berpandangan bahwa adaptasi merupakan cara makhluk hidup mengubah fungsi tubuh mereka agar lebih menguntungkan dalam lingkungan hidupnya. Wallace berpandangan bahwa perubahan fisik yang menguntungkan dapat diturunkan pada keturunan makhluk hidup tersebut.

“Setiap negara tentunya berbeda, kita sebagai pendatang baru harus menyesuaikan serta menghormati aturan yang ada. Selain itu, aturan tersebut bisa kita pelajari sebagai sebuah nilai budaya baru," tambahnya.

Kalau Goodmates berada di luar negeri, perlu beradaptasi meskipun merasa kurang menyenangkan. Perlu diingat bahwa segala sesuatu tidak selalu sesuai dengan kemauan kita. Hal itu akan membuat selalu bersyukur.

Intinya, beradaptasi berarti harus menyesuaikan dan mempelajari budaya yang berbeda. Kita harus siap menerima budaya dan sebagainya di luar sana yang mungkin belum pernah terpikirkan.

Kerap Berbagi Tips dan Trik Berkecimpung di Dunia Traveller

Zaman sekarang atau dulu, kerap ada stigma bahwa liburan hanya menghamburkan uang, misalnya ketika kita berbulan-bulan atau bertahun-tahun menabung, biasanya saat berlibur, uang yang kita keluarkan relatif banyak karena berbelanja atau berkunjung ke suatu tempat. Lalu ketika pulang, uang tersebut telah habis.

"Aku sempat berpikir, kenapa kebanyakan orang melakukan liburan seperti itu? Bukannya berlibur harus dengan cara menyenangkan? Menurutku, berlibur dengan belajar budaya bisa menangkap sisi lain yang membuat kita tidak merasa kalau liburan sekadar menghamburkan uang," ujarnya.

Yuk, buat liburan lebih menarik atau bahkan menghasilkan sesuatu, mulai dari menjalin pertemanan dari berbagai orang dari latar belakang yang berbeda serta mengunjungi tempat yang memberikan feedback bagi diri sendiri.

Goodmates, kita perlu belajar menekan atau menghemat biaya sesuai kenyamanan diri, mulai pertimbangkan saat memilih penginapan serta makanan. Jangan sampai merasa menyesal hanya berlibur karena ingin ditunjukkan ke orang lain. Kita harus pintar memaknainya.

Nah, semoga tips dan trik ini bisa semua orang jadikan refleksi bahwa liburan penting untuk menemukan arti diri sendiri, ya.

 

Referensi: Wawancara