Komunitas Haenyeo, Wanita Penyelam Laut dari Pulau Jeju
Komunitas Haenyeo Pulau Jeju | Foto: Financial Times

Goodmates yang menyukai hal-hal berbau Korea pasti familiar dengan Pulau Jeju. Pulau ini terkenal karena pemandangan pantainya yang indah. Ternyata, ada hal lain yang identik dari pulau ini, yaitu adanya Komunitas Haenyeo.

Komunitas Haenyeo merupakan perkumpulan para wanita penyelam hingga kedalaman 10 meter untuk mengumpulkan hasil laut, seperti abalone dan bulu babi. Nantinya, hasil menyelam mereka akan dijual dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sejarah mencatat bahwa haenyeo (dalam bahasa Indonesia berarti “wanita laut”) sudah ada sejak tahun 1629. Sampai kini, komunitas masyarakat ini masih eksis dan anggotanya bahkan ada yang sudah berusia 90 tahun.

Komunitas haenyeo kuasai pengetahuan kehidupan laut

Penyelam wanita | Foto: UNESCO

Tak sekadar memiliki keberanian menyelam ke dasar laut, ternyata para wanita ini mampu menyelam tanpa menggunakan tabung oksigen. Mereka hanya menggunakan alat dan pakaian selam seadanya.

Hal ini karena para haenyeo sudah menguasai pengetahuan tentang kehidupan laut. Mereka sanggup memanen hasil laut sampai 7 jam lamanya dan mampu  menahan napas di dalam air hingga lebih dari 2 menit.

Untuk dapat memahami kehidupan laut, seseorang yang akan menjadi haenyeo sudah dilatih sejak usia remaja. Berdasarkan tingkatan keahliannya, anggota komunitas ini dibedakan menjadi 3, yaitu sanggun (superior), junggun (median), dan hagun (pemula).

Sanggun bertindak sebagai pemandu bagi tingkatan lain, seperti memandu doa kepada Jamsugut (dewi laut) sebelum menyelam untuk meminta keselamatan dan hasil tangkapan yang melimpah. Mereka juga mengajari haenyeo yang lebih muda tentang seni menahan nafas di dalam laut yang disebut sumbisori.

Terdapat sekolah haenyeo

Haenyeo muda | Foto: Shift London

Sebagai upaya menurunkan ilmu kepada generasi muda, pada tahun 2008 didirikan sekolah untuk meningkatkan kesadaran terkait budaya haenyeo yang dinamakan Jeju Hansupul Haenyeo. Di sekolah ini, para murid belajar tentang sejarah, kehidupan, dan kebudayaan haenyeo, serta teknik menyelam dan panen selama 4 bulan. 

Pada 7 tahun kemudian, pemerintah mendirikan sekolah lain bernama Beophwan Haenyeo. Berbeda dengan sekolah sebelumnya yang juga menerima murid laki-laki dan bahkan orang asing, Beophwan Haenyeo hanya menerima murid perempuan yang bertekad untuk bekerja sebagai haenyeo secara profesional. 

Komunitas haenyeo solid dan disegani

Keceriaan para haenyeo | Foto: This Is Korea Tours

Meski melakukan pekerjaan yang berat secara fisik dan sangat beresiko, para wanita laut ini tetap bekerja dengan penuh keceriaan. Mereka sering tertawa dan bercanda satu sama lain.

Tak hanya itu, mereka juga punya tingkat solidaritas yang tinggi dengan saling mendukung di setiap fase kehidupan seperti saat hamil, sakit, hingga saat menghadapi krisis keluarga.

Keberadaan komunitas haenyeo sangat disegani di tengah masyarakat Pulau Jeju. Sebagian besar dari mereka adalah tulang punggung keluarga. Hal ini berbanding terbalik dengan kebudayaan Korea yang cenderung patriarkis (laki-laki memegang peran sosial tertinggi).

Ada Museum Haenyeo

Patung dalam museum haenyeo | Foto: koreattrack.com

Pada tahun 2016, haenyeo dinyatakan sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Hal ini dikarenakan budayanya yang unik dan menurunnya angka wanita yang menjadi penyelam karena generasi muda telah banyak yang memilih pekerjaan lain.

Fenomena tersebut dapat dilihat dalam data yang menunjukkan bahwa pada tahun 70-an, sebagian besar haenyeo berusia 30 tahun atau lebih muda. Namun, pada tahun 2014, lebih dari 98 persen haenyeo sudah berusia lebih dari 50 tahun.

Sebagai simbol Pulau Jeju, pemerintah juga mendirikan sebuah museum untuk menghormati dan melestarikan komunitas masyarakat ini. Namanya adalah Jeju Haenyeo Museum atau dalam bahasa setempat disebut 해녀박물관 (Haenyeo Bakmulgwan).

Di museum ini, pengunjung bisa melihat patung replika yang menunjukkan kehidupan haenyeo sehari-hari, peralatan selam dari zaman dulu hingga sekarang, dan berbagai catatan sejarah.

Itulah ulasan mengenai komunitas haenyeo, para wanita laut dari Pulau Jeju yang tangguh dan pemberani. Kehadiran mereka dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk turut menjadi pekerja keras dan senantiasa mencintai pekerjaan yang kita lakukan.

Referensi: Kumparan | Kumparan | National Geographic | UNESCO