Inspiratif! Inilah Kisah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia
Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia | Foto: Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia/Facebook

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis yang membuat penderitanya mengalami halusinasi dan kekacauan berpikir. Maka, penderita tidak mampu membedakan antara kenyataan dengan isi pikirannya sendiri. Kalau kamu menderita gangguan ini, tak perlu risau. Ada sebuah komunitas bernama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI).

Meski tergolong penyakit kronis, pengetahuan tentang skizofrenia di Indonesia pada era 90-an masih sangat minim. Hal ini menjadi salah satu alasan bagi Bagus Hargo Utomo untuk mendirikan komunitas tersebut.

Semua berawal pada tahun 1995 ketika kakak kandung Bagus sering mengamuk, mengalami ketakutan luar biasa, hingga marah-marah. Saat itu keluarganya sudah menempuh berbagai pengobatan, baik medis maupun non medis untuk menyembuhkan penyakit sang kakak yang saat itu belum diketahui secara pasti.

Bagus pun mulai aktif mencari artikel-artikel terkait penyakit kakaknya di internet. Ia akhirnya menemukan sebuah referensi dari media asing yang sesuai dengan gejala yang dialami sang kakak. Itulah awal mula Bagus mengenal istilah skizofrenia.

Tak ingin menahan informasi untuk dirinya sendiri, di tahun 2001, Bagus membuat sebuah grup di Yahoo Groups yang ia gunakan untuk saling bertukar informasi tentang skizofrenia dengan pengguna lain. Ia juga membuat situs yang secara khusus membahas tentang penyakit kejiwaan ini.

Informasi yang Bagus sampaikan di internet itu dibaca oleh seorang dokter bernama Irmansyah dari Ikatan Dokter Ahli Jiwa Indonesia. Irmansyah kemudian menghubungi Bagus dan memintanya untuk datang ke kantornya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Di RSCM, Bagus diminta menceritakan kondisi kakaknya. Dokter menyarankan Bagus untuk membawa kakaknya ke psikiater karena pengobatan alternatif dinilai tidak akan berhasil. Akhirnya, sang kakak dibawa ke sebuah panti di daerah Ciganjur untuk menjalani pengobatan.

Perkembangan KPSI bermula dari grup Facebook

Logo KPSI | Foto: Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia/Facebook

Kondisi kakaknya yang berangsur membaik setelah mendapat penanganan dari psikiater membuat Bagus termotivasi untuk membagikan pengetahuannya tentang skizofrenia kepada keluarga lain yang mungkin mengalami pengalaman serupa.

Pada tahun 2009, Bagus memutuskan untuk membuat grup di Facebook dengan nama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KSPI). Ia mengaku sempat pesimis saat menyadari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental.

Grup Facebook tersebut terus berkembang hingga membentuk komunitas fisik yang menyebar di beberapa kota, seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Tidak hanya sebagai wadah untuk saling mendukung antar keluarga yang tengah menghadapi pengidap skizofrenia, KPSI juga memiliki layanan-layanan untuk memberi psikoedukasi ke masyarakat hingga advokasi untuk keluarga dan pasien.

KPSI ingin memberantas stigma salah tentang gangguan jiwa

Salah satu kegiatan KPSI | Foto: KIM Cipedes

Keberadaan KPSI juga diharapkan bisa menghapus stigma yang salah tentang penderita penyakit kejiwaan. Hal ini karena banyak masyarakat Indonesia yang percaya bahwa pengidap penyakit jiwa, khususnya skizofrenia, adalah hasil guna-guna, santet, atau alasan non medis lain.

Sehubungan dengan kepercayaan yang keliru itulah, banyak keluarga yang berusaha mengekang orang dengan skizofrenia (ODS) dengan memasung atau mengunci mereka dalam kamar. Praktik pemasungan merupakan salah satu fokus Bagus di KPSI, sehingga komunitas ini juga memiliki program evakuasi pasung untuk membebaskan ODS agar bisa ditangani dengan semestinya.

KPSI berkembang pesat

Bagus Hargo Utomo, pendiri KPSI | Foto: Media Indonesia

Berawal dari tulisan di internet dan grup Facebook, KPSI telah berkembang pesat, memiliki ribuan anggota, dan juga kantor pusat yang beralamat di Jl.Jatinegara Timur No. 99, Jakarta.

Pada 10 Oktober 2012, Bagus menjadi orang pertama yang menerima penghargaan Guislain Award Breaking the Chains of Stigma, mengalahkan 20 kandidat lain di dunia. Guislain sendiri adalah nama belakang dari seorang psikiater Belgia, pelopor perawatan orang dengan penyakit kejiwaan. Hebat sekali, ya!

KPSI telah membuktikan bahwa dengan langkah nyata, sebuah komunitas bisa menciptakan perubahan baik di tengah masyarakat, yaitu saling mendukung dan meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan kejiwaan yang sangat penting, khususnya di era ini.

Referensi: Merdeka | JPNN | PPH Unika Atma Jaya