Tagar #LetTheEarthBreath Menggema di Twitter, Apa yang Terjadi?
Ilustrasi Menyelamatkan Bumi | Foto: Markus Spiske/Unsplash

Menyambut Hari Bumi pada 22 April mendatang, media sosial penuh dengan berbagai kampanye peduli bumi. Satu dari sekian media sosial yang ramai dengan topik tersebut adalah Twitter.

Tagar #LetTheEarthBreath yang artinya “biarkan bumi bernapas” masih terus menggema sejak Kamis malam, 14 April 2022. Adapun tagar tersebut menjadi trending menyusul protes para ilmuwan terkait keadaan bumi yang semakin memprihatinkan.

Topik ini berisikan beragam kampanye untuk menyerukan aksi-aksi peduli lingkungan dalam rangka menyelamatkan kondisi bumi. Banyak pula warganet yang lantas membagikan cara-cara demi menekan dampak dari permasalahan lingkungan, misalnya dengan membersihkan e-mail.

Berawal dari Protes Ilmuwan Amerika Serikat

Peter Kalmus saat berunjuk rasa | Foto: Capital & Gain

Isu penyelamatan bumi kembali bergema setelah beberapa ilmuwan NASA atau badan antariksa Amerika Serikat, termasuk Peter Kalmus. Ia menyuarakan peringatan iklim global secara emosional. Mereka mengadakan unjuk rasa di depan gedung Bank JP Morgan-Chase, Los Angeles.

Aksi demo tersebut kemudian viral di media sosial. Warganet pun mulai membahas berbagai upaya yang dapat kita lakukan demi mengurangi dampak krisis lingkungan.

Baca juga: Lebah Hewan Penopang, Apa Saja Perannya Bagi Lingkungan?

Sebelumnya, Peter sempat mengunggah video curahan isi hatinya di Twitter pada Selasa, 12 April 2022. Ia menyebutkan bahwa manusia tidak mempunyai banyak waktu untuk menikmati bumi, mengingat bumi yang sekarang telah semakin rusak, bahkan terancam punah.

Seruan Menyumbang Pohon Lewat Website Ecosia

Ilustrasi website Ecosia | Foto: Teknologi ID

Semenjak tagar #LetTheEarthBreath menggema, banyak netizen yang mulai menyuarakan untuk mengganti penggunaan Google dengan situs dan aplikasi Ecosia.

Ecosia sendiri menjadi alternatif search engine yang mendapat julukan “Google Hijau”. Perusahaan ini menyisihkan keuntungannya dari iklan yang muncul setiap kali kamu mengetikkan sesuatu di kolom pencarian. Profit tersebut nantinya akan mereka manfaatkan untuk menanam pohon dan menghijaukan hutan.

Dengan kata lain, aplikasi gratis Ecosia mampu mewujudkan penghijauan, sekalipun pengguna cuma sekadar melakukan searching tentang informasi apapun. Tentunya aksi semacam ini dapat menjadi cara guna mengatasi pemanasan global.

Baca juga: Tak Hanya Email, Aktivitas Internet Lain Bisa Timbulkan Emisi Karbon

Menghapus E-mail Paling Tersorot

Ilustrasi e-mail | Foto: Stephen Phillips/Unsplash

Salah satu langkah sederhana untuk menyelamatkan bumi yang ramai warganet perbincangkan adalah menghapus e-mail. Kegiatan ini menjadi sorotan publik yang sekaligus menimbulkan banyak pertanyaan mengenai hubungan e-mail dengan tagar #LetTheEarthBreath.

Sebagian besar e-mail, termasuk pesan yang belum terbaca, spam, serta yang lupa terhapus akan tersimpan dalam cloud. Ruang penyimpanan ini memerlukan energi listrik yang lumayan besar. Mayoritas belahan dunia masih mengandalkan bahan bakar fosil sebagai sumber utamanya.

Walaupun e-mail tidak lagi berkontribusi terhadap polusi kertas, keberadaan mereka masih memberikan andil pada emisi karbon. Mungkin tidak ada yang dapat menghentikan Google untuk menciptakan lebih banyak data, tetapi kita sebagai individu bisa mengurangi dampak buruk tersebut dengan mengelola sampah sendiri.

Baca juga: Benarkah Tumpukan Email Tak Baik Bagi Lingkungan?

Di samping membersihkan e-mail, kita juga dapat menghentikan langganan buletin ataupun koran elektronik. Hal itu bisa kita lakukan pada e-mail yang sebenarnya tidak kita perlukan sekaligus menghapusnya setelah kita baca.

Melansir statistik dari The Good Planet pada 2019, sekitar 107 miliar pesan terkirim setiap harinya. Apabila masing-masing orang menghapus setidaknya 10 e-mail, mereka sudah berhasil menghemat 1.725,00 GB ruang penyimpanan bersamaan dengan 55,2 juta kW daya.

Selain melaksanakan gerakan hapus e-mail, kamu juga bisa mendukung tagar #LetTheEarthBreath lewat aksi sederhana. Misalnya dengan membiasakan budaya 3R (reduce, reuse, recycle), menghemat air dan listrik, tidak membuang makanan, hingga memilih perjalanan dengan transportasi umum ketimbang kendaraan pribadi.