Menilik Perkembangan Libra, Mata Uang Digital Facebook
Mata uang digital Facebook | Foto: Forbes

Di tahun 2019, Facebook berinovasi untuk meluncurkan mata uang kripto yang dinamai Libra. Mata uang kripto ini akan diluncurkan bersamaan dengan dompet digital yang bernama Calibra.

Libra saat itu direncanakan akan tersedia di iOS dan Android dalam aplikasi Facebook Messenger Android dan WhatsApp, dan menjadi aplikasi mandiri. Facebook pada tahun 2019 menyebut bahwa Libra akan segera diluncurkan pada tahun 2020.

Libra merupakan uang digital yang mirip dengan Bitcoin. Libra menggunakan aset penjamin berupa deposito perbankan hingga surat utang negara. Berbeda dengan Bitcoin yang menggunakan blockchain sebagai aset penjaminnya

Libra dikelola oleh perusahaan nirlaba bernama Libra Association yang berkantor di Jenewa, Swiss. Libra Association adalah sebuah konsorsium bentukan Facebook yang berisi 27 anggota dari perusahaan penyedia layanan digital.

Di tahun 2020, Libra berganti nama menjadi Diem. CEO Diem, Stuart Levey menyebut bahwa perubahan nama Libra menjadi Diem bertujuan untuk mendapatkan izin dari regulator. Mengingat kemunculan Libra mengundang kekhawatiran dari regulator dan bank-bank sentral dunia.

Bersamaan dengan pergantian nama Libra, Facebook juga mengubah nama dompet digital yang sebelumnya bernama Calibra menjadi Novi. Dengan Novi, pengguna akan dapat mengirimkan uang lewat aplikasinya atau melalui Facebook Messenger dan WhatsApp.

Penolakan terhadap Libra

Mata uang digital Facebook | Foto: IDN Times

Awal kemunculan Libra, telah mengundang kekhawatiran dari regulator dan bank-bank sentral di dunia. Ini akibat ada beberapa kondisi yang terhalang oleh regulasi dan faktor lain sehingga peluncuran Libra tidak berjalan lancar.

Di Amerika, muncul wacana penerbitan UU bernama ‘Keep Big Tech Out of Finance Act’ yang mengusulkan perusahaan teknologi yang memiliki platform daring dengan pendapatan diatas 25 miliar US dolar per tahun dilarang menerbitkan mata uang kripto.

Jika terbukti melanggar, mereka akan didenda sebesar 1 juta US dolar setiap harinya. Jika aturan ini diresmikan, maka Facebook otomatis tidak bisa meluncurkan Libra, karena Facebook termasuk perusahaan yang dilarang sesuai dengan isi RUU tersebut.

Libra juga sempat berupaya dengan membuat alternatif berupa stablecoin. Tidak hanya US dolar, Libra Association dikabarkan akan membuat stabelcoin berbasis mata uang lain, seperti Euro, Poundsterling, atau Dolar Singapura.

Namun rencana ini juga dikhawatirkan sebagai sebuah monopoli. Hal ini disampaikan menurut laporan Bloomberg, yang menyebut jika proyek tersebut membuat Facebook untuk memonopoli ekonomi.

President’s Working Group on Financial Markets menyebutkan penerbit stablecoin yang digunakan sebagai sarana untuk membeli dan menjual barang, harus dari bank yang sudah diatur oleh regulator.

Hal disebabkan jika penerbit stablecoin bukan bank, penerbit-penerbit tersebut akan bergabung dengan perusahaan besar. Maka, terjadi konsentrasi kekuatan ekonomi yang berlebihan.

Penolakan juga muncul akibat kekhawatiran atas resiko kejahatan siber. Iklim keuangan yang inklusif dan dapat diakses siapapun dengan mudah berpotensi dimanfaatkan oleh oknum untuk melakukan penipuan, pemerasan, dan tindakan pencurian uang.

Pemberhentian proyek Libra

Diem mata uang digital | Foto: BBC

Perusahaan induk dari Facebook, Meta telah mengonfirmasi menghentikan proyek mata uang digital Libra atau Diem setelah dikembangkan selama bertahun-tahun. CEO Diem, Stuart Levey mengatakan bahwa Meta telah menjual kekayaan intelektual dan aset-aset lainnya yang berkaitan dengan proyek Diem kepada Silvergate Capital Corporation.

Silvergate Capital Corporation telah membeli aset Diem sebesar 182 juta US dolar. Silvergate juga mengaku masih memerlukan biaya tambahan sekitar 30 juta US dolar atau Rp430 miliar untuk melanjutkan proyek Diem. Meski telah menjual aset Diem, Stuart meyakini bahwa stablecoin berbasis blockchain seperti Diem mampu memberikan manfaat kedepannya.

Referensi: Suara | Katadata | Kompas | CNBC Indonesia