Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi Peternak Ikan Hadapi Dinamika Pandemi
Peternak Ikan, Pak Jantono | Dokumentasi Pribadi

#FutureSkillsGNFI

Sejak pandemi Covid-19 tahun lalu, ternak ikan milik Pak Jantono mengalami penurunan prosentase penjualan. “Banyak orang pada takut sama corona yang digembar-gemborkan media, ya dampaknya usaha kecil milik kami terkena imbas,” pungkasnya.

Demi terus memutar rantai keuangan, mau tidak mau, Pak Jantono harus bersiap dan berusaha menjaga usahanya agar tidak gulung tikar, salah satu dengan meningkatkan kualitas pengelolaan ikan serta penjualan ternak miliknya.

Tak lupa, ia menurunkan harga jual per kilonya demi menggaet banyak pelanggan, misalnya harga ikan gumari per kilo ia banderol sekitar 35.000 rupiah. Ia selalu mengecek harga pasaran ikan miliknya agar tidak terjadi tumpang tindih harga.

Dalam wawancara tersebut, Pak Jantono mengungkapkan bahwa ia tak sepenuhnya menyalahkan pandemi yang ada. Bahkan, ia bersyukur, dengan adanya pandemi, pengalaman untuk mengelola ternak semakin meningkat karena banyak melakukan diskusi bersama kerabat maupun teman satu profesi. Mereka biasanya membahas persoalan peningkatan mutu di teras halaman rumahnya di Desa Jiwan.

Pak Jantono mengaku telah menjalani pofesi sebagai peternak ikan selama sekitar 4 tahun dalam meneruskan usaha milik keluarga. Di usianya yang tidak lagi muda, ia hanya ingin fokus menjalankan bisnis sebagai kegiatan bermanfaat daripada hanya bersantai.

“Kalau tiap hari santai-santai saja, gimana buat makannya,” tuturnya.

Awal memulai usaha tersebut, ia tidak mengerti sama sekali dalam perawatan ikan. Namun, berkat dorongan keyakinan dan ketekunan, ia akhirnya dapat beradaptasi dengan baik.

Belajar Teknik Bio Mikro

Salah seorang kerabatnya, yaitu Pak Utomo, juga sempat disinggungnya karena berjasa dalam membantu dan mengajari variasi teknik pengelolaan ikan ternak.

Metode perawatan ternak yang sempat Pak Utomo ajarkan adalah pengelolaan air dalam kolam. “Air itu ibarat jantungnya kita, sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan," kata tersebut selalu terngiang dalam benak Pak Jantono.

Pak Utomo pernah menjelaskan bahwa hal sepele di sekitar kita terkadang dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat. Pak Utomo mengenalkan kepada Pak Jantono bahwa limbah organik seperti sisa buah, sayur, dan sumber pangan tertentu, dapat dijadikan solusi ataupun alternatif dalam pengelolaan ternak.

Ia sempat berkata, “Usaha bukan sekedar bisa menjalankan dengan baik, terus dapat untung. Tetapi, bagaimana caranya kita dapat memberikan dampak bagi lingkungan, misalnya alternatif membuat produk bio mikro."

Produk ini merupakan salah satu hasil dari pelatihan yang pernah diikuti Pak Utomo yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun. Tujuan pelatihan tersebut agar nantinya peternak maupun petani dapat lebih tanggap dalam pengelolaan ternak atau tanaman sehingga hasil produksi semakin bertambah. Hal lainnya adalah misi pemerintah dalam menanggulangi limbah domestik.

Bio mikro sendiri merupakan produk hasil fermentasi limbah yang di dalamnya terdapat mikroorganisme aktif, banyak dimanfaatkan oleh peternak maupun petani dalam proses metabolisme serta keseimbangan air maupun tanah.

Proses pembuatannya terbilang cukup mudah, dalam proses pembuatannya perlu memerhatikan udara, karena apabila terdapat banyak gelembung udara saat proses fermentasi berlangsung, dapat dipastikan hasil fermentasi akan gagal. Proses tersebut dapat saja gagal karena mikroorganisme yang berperan menguraikan limbah bersifat anaerob. Jadi, memang perlu kondisi harus benar-benar kedap udara.

Dari proses sortir limbah, fermentasi, hingga menjadi produk, butuh waktu sekitar 3 minggu saja. Ketika memasuki proses fermentasi inilah membutuhkan banyak ketekunan dalam pengecekan suhu dan udara agar mikroorganisme menguraikan limbah dengan baik.

Biasanya, Pak Jantono mendapatkan kurang lebih 19 liter dalam sekali produksi. Meski begitu, saat ini ia belum berfokus dalam pengembangan produknya untuk memasarkannya.

Pemanfaatan Bio Mikro untuk Pengelolaan Ikan Ternak

Ilustrasi | Foto: Shukhrat Umarov

Justru, Pak Jantono memanfaatkan kolaborasi bio mikro untuk pengelolaan ternak miliknya. Ia merasakan banyak manfaat setelah menggunakannya, mulai dari pH air lebih seimbang hingga hasil panen ikan lebih terlihat segar dan gemuk.

Biasanya, Pak Jantono menggunakan bio mikro sebagai penetral pH air serta bahan nutrisi tambahan bagi ternaknya. Ia menambahkan sebelum menggunakan produk tersebut. Selain itu, ia selalu mengencerkan kandungannya agar tidak pekat dan tidak beresiko bagi ternak maupun kondisi air.

Menutup paparannya, Pak Jantono sangat senang bahwa setiap perubahan sosial dapat diatasinya dengan baik. Dengan banyak belajar tekun, ia dapat mengembalikan keadaan usahanya pada fase kritis. Kemudian, perlahan pulih membaik.

Ia sangat berterima kasih kepada Pak Utomo maupun teman-temannya karena selalu mendukung serta memberikan ilmu baru. Kini, Pak Jantono sibuk belajar dalam mengembangkan bisnisnya bersama produk bio mirko milik Pak Utomo.

“Tidak ada kata terlambat dalam belajar, selagi ada ketekunan, kerja kerjas, dan motivasi, hal apapun dapat berpeluang kita miliki,” pungkasnya mengakhiri sesi wawancara.

 

Referensi: Wawancara

Saya adalah seorang mahasiswa aktif dari Universitas Amikom Yogyakarta. Saya adalah seorang yang sangat antusias dalam mewujudkan gerakan perubahan ekonomi dan entertaintment di Indonesia agar lebih dikenal secara luas. Saya seorang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi disertai motivasi yang kuat untuk mencapai goals dan impian saya. Saya ingin menjadi salah satu agen perubahan Indonesia di bidang pendidikan, ekonomi, serta entertainment