Limbah Pakaian Pencemar Lingkungan
Limbah Pakaian | Foto: Reddit.com

Pakaian menjadi kebutuhan primer setiap orang, sehingga produksinya dilakukan secara massif. Saat ini, pakaian tidak hanya menjadi kebutuhan pokok namun juga sebagai gaya hidup bagi seseorang. Ada banyak model pakaian yang diproduksi setiap tahunnya dari berbagai industry garment untuk memenuhi permintaan konsumen yang selalu mengikuti tren terkini atau fast fashion.

Namun, pernahkan kamu berpikir apakah semua pakian-pakaian tersebut terjual atau kemanakah sisa kain yang digunakan untuk pembuatan pakaian tersebut? kemanakah pakian-pakaian bekas Kamu setelah dibuang ditempat sampah? Khususnya kaum wantita para penggila fesyen memiliki tren busana tersendiri yang selalu mendorong untuk berbelanja pakaian agar selalu mengikuti tren terkini.

Limbah pakaian menjadi penyumbang terbanyak sampah yang mencemari lingkungan di dunia yang sulit diurai. Limbah pakaian banyak dihasilkan oleh industri-industri pakaian yang memproduksi pakaian fast fashion.

Fast fashion merupakan istilah yang digunakan dalam industri tekstil terhadap pakaian yang diproduksi dalam waktu yang singkat dengan berbagai model serta menggunakan bahan dengan kualitas yang buruk.

Tidak hanya pelaku industri, masayarakat kecil seperti kita juga dapat menyumbang limbah tersebut dari pakaian-pakain bekas yang tak terpakai. Pakaian bekas yang tidak terpakai bahkan menjadi limbah yang berada di tempat penampuang sampah akan terurai dan melepaskan gas rumah kaca.

Kemudian, pewarna pada pakaian tersebut dapat luntur serta bahan kimia berbahaya lainnya yang dapat terserap oleh tanah dan mencemari lingkungan yang terpapar dapat mengancam kesehatan kita.

Limbah Pakaian | Foto: Parapuan.co

Setiap tahunnya limbah pakaiannya yang dihasilkan dari industri tekstil dikutip dari Kompas, mencapai 500 miliar dollar AS per tahun belum lagi limbah yang dihasilkan oleh masyarakat. Limbah pakaian hanya sangat sulit untuk diuraikan.

Perusahaan yang dapat menguraikan limbah pakaian ini hanya terdapat di India dan China. Namun, di China pada tahun 2018 lalu impor untuk penguraian limbah pakaian ini telah dibatasi. Sementara saat ini di Indonesia belum ada perusahaan yang dapat mengolah limbah-limbah tersebut.

Banyak yayasan dan organisasi-organisasi penampung pakaian bekas untuk disalurkan kepada para korban bencana alam, namun tidak semua pakaian-pakaian tersebut terpakai dan ada juga suatu organisasi yang didirikan oleh seorang penyanyi Indonesia menampung pakaian bekas atau pre-loved untuk kemudian dijual kembali untuk selanjutnya hasil penjualan pakaian pre-loved tersebut akan disumbangkan kepada orang-orang yang tidak mampu.

Namun, tentu saja upaya ini masih belum cukup untuk menekan produksi pakaian baru karena kebanyakan orang tidak tertarik untuk menggunakan pakaian bekas dengan berbagai alasan seperti kualitas bahan yang menurun, model yang ketinggalan jaman, dan tidak higenis, serta gaya hidup masyarakat yang ingin selalu mengikuti tren fashion terkini, sehingga menimbulkan sifat konsumtif dengan belanja pakaian terus menerus sesuai tren.

Salah satu cara lain untuk mengurangi limbah pakaian adalah dengan mengubah bentuknya atau dengan cara upcycle. Pada dasarnya, upcycle adalah suatu metode yang digunakan untuk mengubah barang bekas menjadi produk baru yang memiliki manfaat lain.

Metode upcycle mengubah pakaian bekas kamu menjadi produk baru yang lebih menarik dapat meningkatkan nilai jual dari pakaian bekas tersebut. Produk yang dapat dibuat dari pakaian bekas di antaranya tas, dompet, selimut, jilbab, dan berbagai aksesoris berbahan dasar kain.

 

Referensi: Kompas